Bab 10 -Bentuk paling sempurna

21 2 0
                                        

Alya ingat bagaimana seseorang yang ditunggunya ketika ia ingin sekali mempunyai rumah pohon untuk kabur dari dunianya sendiri seseorang itu selalu bilang nanti. Nanti yang ternyata memang tak pernah terwujud karna kata nanti yang dilontarkannya memang jadi sebuah penantian yang memaksa Alya untuk menunggu.Entah sampai kapan.

Ternyata cara semesta mengabulkan setiap pinta itu unik. orang yang bahkan belum kamu kenal beberapa lama datang menjemput kamu lalu memberikan kamu sesuatu yang tidak pernah kamu sangka akan terwujud.

Alya tidak tahu harus bagaimana. Bagaimana ia menerima Dikta untuk masuk kedalam duniannya. Menjelajahi setiap ruang kosong yang ternyata memang isinya cuma ada kegelapan dan kesunyian. Alya tahu Dikta berusaha ingin berteman dengannya namun ketakutan yang ada didalamnya masih terlalu banyak sehingga pemikirannya selalu dibayang Bayangi masa lalu

Ia takut. Takut jika menerima Dikta mengisi ruang kosong didalam hidupnya hanya menambah beban bagi dirinya dan dikta. Takut jika Dikta cuma penasaran dengan duniannya lalu pergi meninggalkannya.takut juga jika Dikta benar benar masuk kedalam semua sisi pahit yang selama ini ia sembunyikan.

Tapi terlalu takut juga tidak baik. Kapan ingin beranjak maju jika hidup cuma diisi ketakutan ketakutan itu?

Masih dengan hari libur. Hari ini Alya memenuhi panggilan teman temannya untuk berkumpul dikedai kopi langganannya. Jika hari ini ia menolak lagi dipastikan teman temannya akan marah padanya. Ya,itu bukan sifat mereka sih sebenarnya yang gampang marah tetapi bayangkan saja jika ada teman yang mengajak berkumpul tetapi selalu alasan tidak ikut apa tidak merasa kesal?

Positif thinking mungkin diperlukan kalau melihat orang itu sibuk dengan urusannya tetapi jika kembali melihat Alya apa yang ia sibukkan? Ia cuma menyibukkan dirinya sendiri dengan kegiatannya bukan dengan mencari kesibukkan diluar.

Sebenarnya ia pun malas. Kenapa juga setiap berkumpul harus diluar?kalau bisa dilakukan dirumah. Pun jika dirumah bisa bebas melakukan apa saja atau membicarakan apa saja tanpa ada orang yang merasa terganggu atau tahu.

Alya sudah berada didalam kedai tersebut. Menghampiri meja paling pojok disudut belakang ruang itu. Tempat yang biasa ia pilih dan temannya sudah sangat hapal.

"Tepat waktu," ucap Riri ketika melihat Alya berdiri didepannya

"Tumben Al,engga telat" ujar Lila ikut mengomporinya. Pasalnya kalian juga tahu sendiri kebiasannya yang sering Alya lakukan

"Udah udah nggak usah digituin. Bagus juga kan kalau tepat waktu" Sasa memberhentikan pembicaraan itu agar tidak diperpanjang

"Sini sini,duduk"

Alya duduk dibangku tersebut "jadi,mau ngapain disini?"

"Kerja, ya mau minum kopi lah gimana sih lo!"

Alya berdecak, "maksudnya ada apa sampai ngajakin ketemuan disini?" Tanyanya meralat ucapannya

"Nah gitu donk yang jelas, ya enggak ada apa apa sih kumpul kumpul aja masa libur gini dirumah terus bosen tau"

"Lebih bosen lagi diluar"

Sasa mendengus "mau diluar atau didalam rumah kalau bosen ya bosen aja gabisa disesuaikan sama tempat"

"seengaknya dengan keluar ngeringanin"

"Btw,Al Lo kemarin kemana seharian nggak ada kabar?" Tanya Riri yang mengetahui bahwa Alya tidak ada merespon pesan mereka

"Hmm,gue...nggak kemana mana kok" jawabnya dengan berkilah.

"Jangan bohong Al,kita tahu Lo gimana Lo bohong sama enggak"

TEMU Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang