11

1.1K 128 18
                                        

Jangan lupa follow, vote dan komen:)

Kalo ada typo tandain ya😉

-Happy Reading-

Lesya dan Leon sudah sampai di rumah mereka. Rumah mewah yang hanya berisi mereka dan juga seorang pembantu. Sedangkan kedua orang tuanya sibuk bekerja dan jarang pulang ke rumah ini.

Leon mulai menceritakan asal mula ia bisa mengenal Zaya.

Berawal dari pertemuan singkat karena Zaya yang terlambat datang ke sekolah. Leon yang waktu itu juga terlambat  mengajak Zaya masuk dari belakang sekolah.

Tanpa menolak Zaya menerimanya, keduanya masuk tanpa dilihat oleh guru.

Setelah sampai di dekat kelas, ternyata mereka satu kelas.

Untung saja saat itu gurunya belum masuk, jadi mereka tidak terkena hukuman.

"Nama lo siapa?" tanya Leon penasaran seraya mengulurkan tangannya ingin berkenalan.

Zaya menyambut uluran tangan Leon, lalu tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya yang dalam.

"Zaya," jawabnya.

Leon tak bisa berkedip saat melihat senyum Zaya, ia seolah terhipnotis dengan senyuman itu.

Zaya ingin melepaskan tangannya, tetapi Leon masih saja mengeratkan tautan keduanya.

"Gue Leon." Akhirnya Leon sadar juga. Ia melepaskan tautan tangan itu. Menatap Zaya dengan senyum canggung.

Keduanya masuk ke dalam kelas. Zaya duduk dibarisan ketiga sedangkan Leon duduk paling pojok belakang bersama teman-temannya.

"Wih, tumben lo sama si anak pendiem itu!" Celetuk Angga, teman sebangku Leon.

Bukan tanpa alasan Angga menyebut Zaya sebagai anak pendiam, tetapi memang kenyataannya seperti itu. Zaya termasuk siswi yang sangat pendiam di kelas ini. Bahkan temannya saja dapat dihitung dengan jari. Hanya beberapa siswi yang mau berteman dengannya.

"Iya, gak kayak biasanya," sahut Diki.

"Wah, ada apa nih," timpal Nopal seraya menatap Leon dengan senyum jahil.

Sedangkan Leon yang diejek oleh teman-temannya itu hanya menatap mereka datar, "Bukan urusan kalian!"

"Ck. Masa gitu aja marah sih," kekeh Diki yang diangguki Angga dan Nopal.

"Gimana kalo kita taruhan, kalo lo bisa pacaran sama tuh cewek. Gue kasih, mobil hadiah ulang tahun gue kemarin." Usul Angga dengan nada angkuhnya.

Keempatnya memang merupakan anak orang kaya, apalagi Angga yang baru ulang tahun kemarin diberi hadiah mobil oleh kedua orang tuanya.

"Kalo gue gak mau?" tanya Leon.

Angga terkekeh, "Mobil lo jadi milik gue!"

Leon menatap temannya itu tak suka, enak saja Angga mengambil mobil yang baru saja ia dapat dari beberapa hari lalu.

"Oke, gue terima. Liat aja gue bakalan menang," ujar Leon dengan percaya diri.

"Kita ngawasin aja ya, Ki!" Kekeh Nopal langsung diangguki oleh Diki.

Semenjak hari itu, Leon terlihat mulai mendekati Zaya. Kehidupan Zaya yang semula biasa saja berubah seketika karena adanya Leon.

Pergi dan pulang sekolah juga, Zaya tak lagi sendiri. Melainkan Leon yang terus membujuknya agar mau ikut. Semakin hari, rasa nyaman itu mulai muncul. Tak jarang perlakukan manis dari Leon membuat Zaya salah tingkah.

Sampai saat di mana Leon menyatakan perasaannya. Yang langsung dijawab anggukan oleh Zaya pertanda ia mau.

Zaya sama sekali tidak mengetahui bahwa itu hanya sekedar taruhan saja. Setelah Leon mendapatkan mobil Angga, perlakuannya pada Zaya sama sekali tidak berubah.

Malahan bisa dibilang Leon benar-benar cinta pada Zaya. Bukan hanya sekedar karena taruhan saja.

Namun, sebuah kejadian tak terduga membuat Zaya berubah. Saat di mana Zaya mengetahui bahwa Leon hanya menjadikannya sebagai taruhan bersama temannya Angga.

"Aku mau kita, putus!" ujarnya dengan nada tegas, serta tatapan tajam pada Leon. "Kamu udah menang, 'kan? Jadi sekarang aku mau kita pu--hmpt...."

Zaya melototkan matanya saat Leon dengan tiba-tiba mencium bibirnya. Tangan kecilnya memukul dada Leon yang sama sekali tak mau berhenti, bahkan tangan itu mulai menyentuh tubuh Zaya.

Air mata mengalir membasahi pipinya, Zaya tak menyangka jika Leon bisa berbuat seperti ini padanya.

Saat Leon lengah, Zaya langsung menamparnya. Lalu hendak pergi dari belakang sekolah yang sepi, tetapi Leon kembali menahan tubuhnya.

Entah apa yang ada dipikiran Leon saat itu. Ia kembali mencium Zaya dengan kasar, tak menghiraukan tangisan Zaya yang semakin menjadi.

Dari kejauhan Angga merekam semuanya, sedangkan Leon yang mengetahui itu hanya tersenyum tipis. Ini semua memang sudah ia rencanakan.

"Jangan ... aku mohon," lirih Zaya saat Leon ingin membuka pakaiannya. Tubuhnya sudah lemas, karena ulah laki-laki itu.

Leon menghentikan kegiatannya, lalu menatap Zaya yang masih saja menangis. "Masih mau putus?" kekehnya.

Zaya kembali menampar Leon, lalu berlari kencang dari sana dengan air mata yang terus saja mengalir. Takut jika Leon akan mengejarnya.

Angga keluar dari persembunyiannya, lalu menyerahkan ponsel Leon pada sang pemilik. "Ganas juga lo, tapi kok gak samp--"

"Gue gak mau rusak dia," potong Leon cepat.

Angga terkekeh mendengar perkataan Leon. "Emang tadi enggak?"

"Sedikit," jawab Leon sambil melihat video diponselnya.

Seminggu setelah kejadian itu, Zaya sama sekali tak mau bertemu dengan Leon yang terus meminta maaf padanya.

"Gue khilaf Zay, maafin gue ya." Entah sudah berapa kali Zaya mendengar ucapan itu.

"Aku maafin, tapi jangah pernah ganggu aku lagi." Akhirnya Zaya memaafkan Leon karena risih terus diganggu.

"Tapi gue beneran suka sama lo," ujap Leon jujur. Zaya tidak mau lagi percaya dengan ucapan Leon.

Menurutnya sekali orang itu berbohong padanya, maka selamanya seperti itu. Tak peduli jika ucapan itu benar atau tidak, yang jelas Zaya sama sekali tak percaya pada ucapan manis dari Leon.

Baru dua hari setelah permintaan maaf Leon. Sebuah video tersebar, ya video Leon yang mencium Zaya di belakang sekolah saat itu.

Pelakunya tak lain adalah Leon sendiri, karena Zaya yang tak mau menerimanya dengan terpaksa ia menyebarkan video itu. Namun, bukannya mendapat Zaya, melainkan ia malah kehilangannya.

Zaya dibully habis-habisan oleh satu sekolahan, di kelas juga tak ada lagi yang mau berteman dengannya. Semuanya memandang ia jijik.

"Kamu terpaksa saya keluarkan dari sekolah ini!" Ucap kepala sekolah itu tegas.

Zaya hanya bisa menundukkan kepalanya. Lalu keluar dari ruangan itu dengan tangis yang tak dapat ditahannya lagi.

Semuanya sudah hancur, orang-orang bahkan tak mau memandangnya.

Zaya menatap tajam Leon yang duduk dikursinya dengan tenang. Setelah apa yang laki-laki itu lakukan, dia masih bisa tertawa. Membuat Zaya muak melihatnya.

Lesya menganggukkan kepalanya mengerti setelah mendengar cerita Leon.

"Oh, jadi dia dikeluarin dari sekolahan?" tanya Lesya memastikan.

"Iya, habis itu abang gak pernah ketemu dia lagi. Padahal abang beneran suka sama dia," akunya.

"Makanya abang mau pindah ke sekolahan yang sama kayak aku?"

"Iya, karena ada Zaya di sana," jawabnya.
___

Penyebab Zaya pindah nih^^

See you♡

Zardan & Zaya [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang