Jam istirahat kali ini terasa begitu lebih lama. Membuat beberapa siswa dan siswi merasa senang. Terlebih kelas 11 IPS 1 yang baru saja selesai berolahraga. Semuanya kompak menuju kantin.
Zardan, Yovi dan Wingki lagi-lagi berada pada satu meja yang sama dengan Zaya dkk. Semuanya tampak begitu menikmati makanannya. Sesekali mendengarkan candaan dari Yovi yang terkesan garing itu.
Tak jauh dari meja mereka, Lesya dan Leon benar-benar merasa kesal. Karena orang yang keduanya suka berada disatu meja yang sama. Terlebih Leon yang tak terima saat melihat tangan Zardan dengan begitu santainya, menyentuh sudut bibir Zaya.
"Bang." Terdengar suara lirih dari sang adik di sampingnya. Leon menatapnya sendu, menggusap rambut itu pelan.
"Jangan nyerah, kita pasti bisa dapatin apa yang kita mau. Oke!" ujar Leon memberi semangat pada Lesya yang hanya mengangguk lesu. Keduanya pergi meninggalkan kantin.
"Eh, Zaya. Lo kok bisa kenal sama Leon, gimana ceritanya?" tanya Wawa, membuat semua orang yang ada di sana menatapnya penuh tanda tanya.
Zaya merasa gugup sekarang. Terlebih melihat tatapan Zardan, ia bingung harus menceritakan seperti apa.
"A-aku kemarin satu sekolah sama dia," jawab Zaya setelah meyakinkan hatinya, tidak ada yang perlu ia tutup-tutupi lagi sekarang. Lebih baik ia bercerita daripada nanti Leon yang akan membongkar segalanya.
"Lanjut," ujar Zardan karena merasa akan masih ada yang ingin Zaya ceritakan.
Zaya menatap Zardan, lalu beralih pada teman-temannya yang lain. Ia takut, apa setelah ini mereka semua akan menjauh dan mengejeknya seperti yang ia terima di sekolah lamanya.
"Cerita aja." Wawa mengenggam tangan Zaya yang berkeringat, menggusapnya pelan memberi ketenangan. Begitu pula dengan Dipsa yang ikut menenangkan Zaya.
"D-dia ... mantan aku." Akhirnya Zaya pun menceritakan semuanya. Mereka tampak terkejut mendengar setiap kalimat yang dilontarkan oleh Zaya. Tak menyangka orang seperti Leon, yang merupakan anak pemilik sekolah bisa berbuat seperti itu.
"Bahkan saking cintanya, dia sampai pindah sekolah ya," celetuk Wingki saat Zaya sudah selesai bercerita.
Yovi mengangguk setuju, "Pantesan tadi di kelas dia natap lo terus," timpalnya.
"Sabar ya, sekarang gak perlu takut. Ada kita yang bakal jaga lo dari Leon," jelas Wawa seraya memeluk tubuh Zaya yang hanya terdiam. Tak menyangka ia bisa mendapatkan teman seperti mereka.
Air matanya menetes begitu saja, membuat Dipsa langsung menggusapnya. "Maaf ya, udah buat lo ngingat hal yang seharusnya lo lupain," kata Dipsa merasa tak enak.
Zardan hanya terdiam, ia semakin merasa tak tenang setelah mendengar cerita Zaya. Ia mulai memikirkan banyak hal dan seolah hatinya menyuruh agar melindungi perempuan itu.
"Aya," gumam Zardan tanpa sadar memanggil nama Zaya dengan sebutan Aya. Namun, sama sekali tak didengar oleh Zaya yang masih menangis. Mengingat betapa bodohnya ia di masa lalu. Hanya karena sebuah ucapan serta perlakuan manis dari seorang laki-laki, ia dengan mudahnya luluh.
Bel pertanda masuk berbunyi, mereka semua beranjak dari sana. Berjalan menuju kelas bersama-sama.
Zardan terus saja menatap ke arah Zaya yang masih terlihat sedih. Entah dorongan dari mana, tangannya menggenggam tangan Zaya yang langsung terkejut karena ulahnya. Sedangkan Zardan hanya memasang wajah datar, tetapi tatapan mata itu berhasil membuat Zaya tersenyum.
Ternyata temannya ini tidak berubah, selalu saja berhasil membuatnya tenang. Meskipun Zaya tahu jika Zardan belum mengingat bahwa ia adalah sahabat kecilnya. Zaya tak mau terburu-buru, biarkan Zardan yang akan mengingatnya perlahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Zardan & Zaya [END]
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM BACA YA] [TERBIT] Zaya kehilangan semuanya, hidupnya seolah tak lagi berarti sebab penyakit yang dideritanya. Ia juga harus hidup di sebuah panti asuhan. Namun, ada satu nama yang berhasil membuatnya kembali ingin tetap hidup dan ba...
![Zardan & Zaya [END]](https://img.wattpad.com/cover/251045524-64-k201459.jpg)