27

1K 94 8
                                        

Jangan lupa follow, vote dan komen:)
Kalo ada typo tandain aja ya😉

-Happy Reading-

Dengan perlahan mata yang sedari tadi terpejam, kini terbuka pelan. Zaya mengerjapkan matanya beberapa kali, menatap dinding yang serba berwarna putih. Ternyata ia sudah tak berada di tempat gelap itu lagi. Tangannya perlahan menyentuh sesuatu yang mengganjal dihidungnya. Zaya juga merasakan sebelah tangannya seperti digenggam erat oleh seseorang, lalu perlahan ia menoleh melihat wajah terlelap Zardan yang berada disisi nya, menggenggam erat sebelah lengannya.

Saat tengah asik mengagumi wajah tampan itu, tiba-tiba saja Zardan membuka matanya. Menatap ke arah Zaya dengan wajah yang masih terlihat mengantuk.

"Ada yang sakit? Apa perlu aku panggilin dokter? Atau kamu mau yang lain?" pertanyaan bertubi-tubi dari Zardan membuat Zaya tersenyum tipis.

"En--"

"Jangan bilang gak papa, padahal aslinya sakit. Berhenti berpura-pura kuat di depan aku, Ay," sela Zardan cepat. Rasa kantuknya sudah hilang saat melihat Zaya sepenuhnya sudah sadarkan diri.

Zardan menarik selimut yang menutupi tubuh Zaya, tak hanya itu. Ia juga menarik sedikit pakaian yang Zaya gunakan. Ingin menghentikan aksi laki-laki di depannya ini, tetapi Zaya tak memiliki tenaga. Bahkan hanya untuk mengangkat tangannya saja susah. Mungkin sekarang sakitnya bertambah parah, pikirnya seraya melihat wajah Zardan yang datar tanpa raut ekspresi. Menatap beberapa lebam ditubuhnya karena ulah Leon dan Lesya.

"Sakit?" tanya Zardan. Tangannya menekan lebam itu saat melihat Zaya menggeleng.

"Akh ...."

Mendengar rintihan yang keluar dari bibir pucat Zaya membuat Zardan kembali menutup pakaiannya dan menyelimuti tubuh itu. Tangannya ia arahkan ke atas kepala Zaya, menggusap rambut itu dengan tatapan yang terus tertuju pada perempuan di depannya.

"Jangan bohong, aku tau itu pasti sakit Ay."

Zaya menatapnya tak suka. "Kalo udah tau sakit, kenapa nanya. Mana kamu tekan lagi, tambah sakit jadinya."

"Ya maaf, habisnya kamu selalu bohong sama aku sih." Zardan terkekeh melihat wajah cemberut Zaya.

"Sudah sadar?" tanya Riki yang baru saja memasuki ruangan Zaya diikuti seorang suster dibelakangnya. Sedangkan Dita sudah pulang sejak dari tadi, karena Riki yang memaksanya agar ia bisa beristirahat di rumah saja dan Dita mengangguk paham, tanpa penolakan ia mengiyakan ajakan Riki.

"Ya udahlah, orang udah buka mata gini. Di kira masih tidur apa," cibir Zardan dengan wajah yang tampak kesal, tetapi terlihat menggemaskan dimata Zaya.

Setelah selesai memeriksa Zaya, Riki mengalihkan tatapannya pada kedua remaja yang terus saja menatapnya penuh tanda tanya. "Secepatnya, kamu akan dioperasi. Sebelum lebih parah dari ini," ujar Riki.

Seketika membuat Zaya terdiam, tak berkutik sama sekali. Jadi, Zardan sudah tahu jika ia sakit? Apa nanti Zardan akan menjauhinya? Zaya menggeleng pelan, mengetahui jika Zardan sudah tahu tentang penyakitnya malah membuatnya takut.

"Alhamdulillah. Zaya udah sadar." Sinta masuk dengan terburu-buru, menghampiri Zaya yang masih saja terdiam.

Apa keluarga Zardan juga sudah tahu tentang penyakitnya?

Semua pertanyaan yang ada di dalam benak Zaya terjawab saat melihat Riki menganggukkan kepala ke arahnya. Seolah sudah tahu apa isi kepala Zaya saat ini.

"Mereka udah tau," bisik Riki pada Zaya.

"Bisik-bisik apaan sih!" ketus Zardan seraya menjauhkan tubuh Riki dari Zaya.

Zardan & Zaya [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang