Part 45: Kalung

298 68 28
                                        

Seriusan aku bilangin di awal, part berikutnya tergantung seberapa antusias kalian, seberapa banyak vote & komen di part ini.

Siap?

Virtual hug dulu 💙

Virtual hug dulu 💙

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•|FRASA|•

Minggu
07.39

???????????????

Aksara tidak tau sudah sebanyak apa tanda tanya bermunculan di kepalanya. Sebelum ini Leon belum pernah terlambat, tidak tepat waktu, ataupun mengingkari janji. Tidak pernah sekalipun.

Atau mungkin... sekali? Iya sekali. Hari ini tepatnya.

Teringat pesan Leon padanya saat di telfon, Aksa menambah satu tanda tanya lagi. "Apa maksudnya Leon jam delapan, ya? Biasanya kan orang suka typo jam 6 sama jam 8?" Aksara bermonolog.

"Eh... Apa jam enam belas, ya? Aku yang salah denger?" lanjutnya masih bicara sendiri.

"Kalo sore engga mungkin batalin ke panti, si."

Apakah Leon lupa? Ini sudah hampir dua jam dan Leon belum juga datang. Aksa bosan menunggu dan dia tidak sebodoh itu untuk hanya diam tergugu.

Menelfon? Sudah berkali-kali.

Mengirim pesan? Jari Aksa bahkan sudah hampir keriting karena terlalu banyak mengetik.

Aksara bosan. Hampir dua jam tidak melakukan apapun bukanlah hal yang menyenangkan. Matanya melirik sekitar demi mencari objek pandang. Kemudian menunduk. Memperhatikan outfitnya yang santai namun tertutup. Lalu beralih pada layar ponsel. Berharap Leon membalas pesannya.

Leon tidak membalas pesannya.

Decakan pelan kembali ia lanturkan. Aksara memutuskan keluar dan mengunci rumah. Tidak ada tanda tanda Pak Jov diluar. Langkah kakinya terus keluar hingga mengunci gerbang.

"Aksa! Barusan mau gue susulin."

Menyesal. Itulah yang Aksa rasakan sekarang. Satu keluarga tetangganya tepat ada di luar dan ternyata Pak Jov juga di sana. Dan sapaan Risya barusan? Huh! Andai memaki bukanlah suatu dosa, gadis polos itu akan melakukannya di hadapan Risya sekarang juga.

Tidak bisakah tetangganya itu membuka mata dan sadar kalau Aksa sedang tidak berminat bicara dengan mereka?

Mau tak mau, remaja itu tersenyum manis. Senyuman paksa.

"Mau kemana?"

"Mau ke pasar."

"Ngapain?"

"Cari jodoh."

"Eh?" kata Fransisca.

Oke. Aksa malu sekarang. "Becanda, tante." –Aksara cengar cengir.

"Ayok ikut. Kebetulan kamu udah rapi gini. Tadinya mau disusulin Risya."

FRASA [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang