#1 Frasa [08/04/21]
#2 Aksara [11/01/22]
Frans Amnesia
Musibah tak diminta itu tidak hanya menghilangkan ingatannya. Tapi juga memaksa Frans untuk kehilangan salah satu orang paling berharga di hidupnya.
"Aku pernah berjanji akan berusaha. Dan aku s...
Sebenernya aku bingung mau ngasih judul apa buat part ini. Tapi yaudahlah kayaknya judulnya cocok juga (.❛ ᴗ ❛.)
Oh iya, kecepatan update berbanding lurus dengan banyaknya dukungan kalian berupa vote dan coment. Okei?
Selamat membaca •-•
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•|FRASA|•
"Kalo cewek nggak mau ya jangan dipaksa."
Keduanya menoleh ke sumber suara. Seorang siswa dengan dasi dilonggarkan tengah bersandar di dinding sebelah tangga sambil menatap keduanya datar. Tak lupa kedua kaki disilangkan.
Frans.
Dengan rambut coklat gelapnya yang membentuk jambul tipis di depan dahi.
Aksa dan Malvin saling tatap.
"Lo ngomong sama siapa? Kita?"
"Kita? Kamu aja kali," gumam Aksa pelan. Tapi tetap saja Frans masih bisa mendengarnya.
"Iya."
"Sejak kapan lo peduli sama cewek selain Sania?" jawab Malvin tak kalah datar. "Nggak usah ikut campur hal yang bukan urusan lo, Frans."
"Iya. Anggep aja gue salah karena udah ikut campur. Tapi lo juga salah udah maksa Aksara."
"Heh? Lo ngomong sama gue?" -Malvin menuding dirinya sendiri dengan ekspresi mengejek.
"I-"
"Kalo kamu ngomongnya sama Malvin, mending diakhiri sekarang deh. Tuduhanmu ke Malvin nggak berdasar soalnya."
Malvin memutar kepala. Memalingkan tatapannya pada Aksa tanda bahwa dirinya tak paham. Begitu juga dengan Frans.
"Malvin nggak maksa. Dulu emang aku yang minta buat jadi salah satu pengisi pensi. Tapi aku yang batalin. Apa salahnya Malvin? Enggak. Aku yang salah."
Di sampingnya, Malvin membulatkan mata. Terkejut. Diperhatikannya raut wajah teman sejak SMP nya ini. Ekspresi menantang.
"Jadi mendingan kalau nggak tau apa-apa itu diem!" Aksara melanjutkan. "Yang bisa kamu lakuin emang nyalahin orang, ya? Paling engga kalau ini bukan urusanmu, enggak usah ikut campur."
Aksara menarik lengan kemeja Malvin untuk segera pergi dari sana. Ini memang masih sangat pagi dan belum ada siswa berlalu lalang. Tapi tidak akan lucu jika ada orang lain yang melihatnya mengobrol dengan Frans. Bisa jadi bahan gosip lagi dia.
Baru tiga langkah, suara Frans menginterupsinya untuk menghentikan langkah lagi.
"Kalo lo emang ngerasa nggak nyaman gue ikut campur sampe harus bohong kayak gini," -Frans menjeda demi untuk memergoki Aksa yang sekarang berhenti. "Gue minta maaf," lanjutnya.