#1 Frasa [08/04/21]
#2 Aksara [11/01/22]
Frans Amnesia
Musibah tak diminta itu tidak hanya menghilangkan ingatannya. Tapi juga memaksa Frans untuk kehilangan salah satu orang paling berharga di hidupnya.
"Aku pernah berjanji akan berusaha. Dan aku s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•|FRASA|•
Hari pertama di semester 2. Bangku sebelah kiri Leon kosong, dan pria itu sangat bosan sekarang. Hanya diam memandangi teman-temannya yang sibuk persiapan untuk bermain monopoli.
"Taun lalu gue sampek mana, ya?" tanya Nata sambil membuka bungkus permen Yupi dengan bentuk dinosaurus.
"Bentar, gue liatin."
"Kayaknya gue inget deh Nata sampe mana," timpal seorang gadis dengan sweater ungu neon dan rambut sebahu. Gadis itu menahan tawa.
Leon memperhatikan teman sekelasnya yang tengah sibuk menata uang monopoli. "Lo yang taun kemaren utang di bank numpuk, kan? Gak sanggup bayar sampe dipenjara?"
Leon yang awalnya hanya menopang dagu dengan wajah tanpa ekspresi sontak tertawa kecil di tempatnya duduk. Bersamaan dengan sorakan siswa siswi lain yang ikut bermain atau hanya sekedar menonton.
"Oh? Iya iya inget. Lo yang kena denda terus-terusan itu, kan? Kalo gak salah terakhir kali kita main, lo masih ngendok di penjara deh," kata seorang cowok dengan tangan sibuk membenarkan dasi.
"Bodo amat. Penting gue punya rumah di Singapura," bantah Nata tak mau kalah. Masih dengan mengunyah permen yupi. Seolah begitu bangga dengan rumahnya yang ada di Singapura.
"Aksa punya lima hotel di Amerika aja diem. Rumah dua kali dua meter aja songong amat lo jadi orang."
"Nah gini. Ini nih yang bikin Indonesia nggak maju maju," jawab Nata dramatis. "Kagak pernah mikir kritis," imbuhnya.
"Lo gak pernah tau bedanya sultan beneran sama sultan sultan mainan? Kalo sultan beneran tuh kayak gue. Punya kekayaan gak perlu dipamer-pamerin."
"Heh, Jamet! Lo baca ini catetan. Tanah lo disita bank, Oon."
"Tanah doang, kan yang disita? Berarti rumahnya kagak," —Nata mengedikkan bahu.
"Anjir! Emang itu rumah mau lo taruh dimana?" Leon turut mengejek Nata. Faktanya, satu-satunya aset Nata di permainan ini hanyalah rumah itu. Yang mana sekarang tanahnya telah disita oleh bank.
"Kertas print-printan nya mana?"
"Dibawa Aksa gak, sih?"
"Nah eta! Karena nona Aksara tidak masuk dan Kesempatan serta Dana Umum buatan kita sendiri tidak ada disini, jadi rumah gue nggak jadi disita."
"Kayaknya sama Aksa ditaruh di laci deh," timpal Leon. Langsung saja pria itu melongok ke laci di bawah meja tempat Aksara duduk biasanya. Dan benar. Ada kotak kecil berdebu yang berisi kartu kesempatan dan dana umum buatan mereka sendiri. Yang mana isinya denda miliaran dan penjara saja.
Sayangnya, hanya Nata yang selalu mendapat hal sial. Denda hingga seluruh asetnya habis. Bahkan terakhir kali mengakhiri permainan, Nata dalam posisi dipenjara dengan hutang begitu banyak.