#1 Frasa [08/04/21]
#2 Aksara [11/01/22]
Frans Amnesia
Musibah tak diminta itu tidak hanya menghilangkan ingatannya. Tapi juga memaksa Frans untuk kehilangan salah satu orang paling berharga di hidupnya.
"Aku pernah berjanji akan berusaha. Dan aku s...
Aksara mengernyit. Heran. Salahnya dimana lagi sekarang? Bahkan memilih menjauh pun masih saja salah.
"Salah lagi?"
"Iya. Lo salah."
"Salahku dimana sekarang?"
"Lo salah karena masih nanya ke gue."
"Maksudnya?"
"Lo tanya ke gue apa lo salah atau enggak. Justru itu kesalahan lo, Sa. Dari pertanyaan itu, artinya lo ragu sama keputusan lo sendiri, dan itu sebuah kesalahan."
"Lo tau? Ada orang pernah bilang ke gue...."
"Terkadang..., menyerah bukanlah suatu kesalahan. Saat kau terlalu lelah untuk bermain-main dengan perasaan, maka sudah saatnya kau belajar untuk mengikhlaskan keadaan. Ketika kau terlalu letih untuk menuntut perhatian, mungkin saja artinya kau harus rela memberi pengorbanan."
"Jangan takut buat ngambil keputusan, Sa. Lo nggak boleh ragu buat nentuin pilihan. Karena lo nggak punya hak buat nuntut pemberian kebahagiaan dari siapapun. Tapi lo selalu punya hak buat bahagia. Dan lo harus cari kebahagiaan itu sendiri."
"Sekarang gue tanya, lo marah sama Frans?"
Aksara mengangguk mengiyakan.
"Lo bilang kalo lo benci sama dia, kan?"
Aksa mengagguk lagi. Memang itulah yang ia katakan dan itulah yang ia rasakan sekarang.
"Enggak. Lo nggak marah sama dia. Tapi lo kecewa."
"Aku benci dia, Kak."
Manusia yang sejak tadi menjadi teman bicara Aksa ini terkekeh pelan. Memberikan kesan santai dalam topik serius yang menjadi fokus pembahasan mereka ini. "Apa kalo Frans kecelakaan lagi sekarang, lo bakal diem aja? Apa kalo Frans mati, lo nggak bakal dateng ke makamnya? Nggak mungkin, Sa. Lo bukannya marah atau benci sama dia. Aksara cuma lagi kecewa."
"Kalo lo marah, justru jadi lo yang salah."
"Frans juga punya kehidupan pribadi. Lo pun sama. Frans punya hak buat nentuin siapa yang dia pilih jadi temen hidupnya. Dan sedeket apapun lo sama dia, lo nggak punya hak buat memastikan Frans cuma bakal milih lo seorang."
"Tap–"
"Tahan dulu. Gue belum selesai."
Aksa kembali mengatupkan bibir.
"Gue tau dia udah pernah janji. Dan lo tau kan, cepat atau lambat perjanjian itu bakal dilanggar. Dari awal perjanjian itu dibuat, lo pasti sadar kalo janji itu sekedar kalimat penenang. Karena cepat atau lambat, lo ataupun Frans pasti punya kehidupan sendiri."