Part 7: Salah langkah

698 233 300
                                        

•|FRASA|•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•|FRASA|•

Bel rumah berbunyi. Frans yang sebelumnya tengah fokus pada layar laptop, mau tidak mau harus berdiri. Melangkah santai ke arah pintu rumah, lantas membukanya.

"Hai," sapa Frans.

Sial! Frans salah kata. Raut wajahnya yang baru saja ceria, kini berubah seratus delapan puluh derajat. Melihat pemandangan didepannya tak suka.

Aksara

Aksa mengerjap. Apa tadi? Hai? Aksa tidak salah dengar? Apa Frans ingatannya sudah kembali? Apa Frans sudah memaafkannya? Ah, sepertinya hanya Aksa yang merasa bahwa dirinya punya salah.

"Tumben?" tanya Leon sinis. Bingung juga dengan manusia yang satu ini. Bukankah baru tadi siang Frans menyuruhnya menjauhkan Aksara.

"Gue kira Sania tadi," Frans membalas tanpa dosa. Seolah kata-katanya sangatlah wajar untuk diucapkan.

"Oh, Lo ada janji sama Sania?"

"Hm," gumam Frans malas. "Lo bisa pergi? Gue capek, mau istirahat," lanjutnya masih dengan gaya malas.

"Frans-" Aksa kembali memulai bicara dengan senyumnya. Iya, Aksara selalu tersenyum. Tak peduli bagaimanapun respon remaja di hadapannya.

Dia yang dulu sedekat nadi, namun kini sejauh matahari.

"Lo ngga denger gue tadi bilang apa ke Leon? Perlu gue ulang?" Frans menegakkan badan. Menghela nafas panjang sambil memasukkan tangan kanannya ke saku celana. Mata hitamnya seolah mengintimidasi. Namun, itu tak berpengaruh pada Aksara. Aksa suka pada mata sahabatnya yang hitam legam itu. Dulu, sekarang, ataupun nanti, Aksara akan selalu suka.

"Denger kok, Frans. Tapi kan Frans nyuruh Leon, bukan aku. Jadi, biar Leon aja yang pulang," timpal gadis itu tak bersalah. Seolah perkataannya barusan akan membuat Frans tersenyum.

Benar. Frans tersenyum.

Tapi sayangnya, bukan senyum itu yang Aksa inginkan.

"Ngapain lo kesini?" Frans kembali menghadap Leonardo Rizky.

"Nganterin ini, maunya sama mampir sekalian, Frans. Tapi Frans ada janji sama Sania, ya udah aku pulang aja habis ini. Maaf udah ganggu,"

Bukan Leon, malah Aksara yang menjawab. Intonasi suaranya menandakan bahwa ia merasa bersalah. Bukan hanya itu, kedua tangannya juga menyodorkan lipatan kertas pada Frans. Entah apa yang ada di pikirannya, padahal kertas tidak seberat itu hingga harus dipegang oleh dua tangan.

FRASA [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang