Part 47: Kesempatan

334 66 29
                                        

•|FRASA|•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•|FRASA|•

Hari hari telah berlalu. Kehidupan Frans setiap saat terasa semakin kosong. Seperti ada yang hilang bahkan ketika Sania berada disampingnya sekalipun.

Frans bertanya-tanya tentang Ara. Frans bertanya tanya tentang hubungan aslinya dengan Aksara. Apakah memang yang dikatakan Aksa adalah suatu kebenaran? Atau semuanya memang merupakan kebenaran? Andai Frans mau, bisa saja Frans percaya dan itulah yang Frans rasakan sekarang. Hatinya terus berkata bahwa Aksara yang benar.

Tapi apakah Frans akan mengkhianati Sania begitu saja?

Atau justru, Sania lah yang memulai semua pengkhianatan ini?

Satu hal yang masih membuat Frans ragu akan apa yang sebenarnya terjadi. Ia memegang rantai tipis yang tersampir melingkar di lehernya. Meraba bandul yang dirinya sendiri sudah sangat hafal bentuknya seperti apa.

Kalung ini.

Sania lah yang memiliki pasangannya.

Sania lah pemilik kalung monel bertuliskan "Sa" sebagai pelengkap dari milik Frans yang bertuliskan "Fra".

Sania dan bukan Aksara.

Frans pernah bertanya pada Sania. Tapi bukannya mendapat jawaban, Sania justru balik bertanya kenapa Frans mempertanyakan hal tersebut. Menurut Sania itu aneh. Emang, sih. Frans juga merasa dirinya aneh. Sudah jelas kalung itu ada sepasang. Jika satunya ada di Frans dan satunya lagi di Sania, bukankah sudah jelas? Tidak ada lagi yang perlu dibahas.

Tapi jujur, selama dirinya mendapat kehidupan setelah koma, Frans hanya baru-baru ini melihat kalung tersebut melingkari leher Sania.

Jadi Frans harus percaya pada siapa? Hatinya yang terus meneriakkan nama Aksa? Atau fakta yang membuktikan bahwa Sania lah sahabatnya?

"Aku... Aku nggak bisa ngambil keputusan," ucap Frans.

"Gimana kalo nantinya ternyata emang bukan Aksa?" lanjutnya bertanya. Lalu Frans mengangguk. "Iya bener. Harusnya pertanyaan itu udah aku ajuin dari dulu. Gimana kalo bukan Sania?" Frans terus saja bermonolog.

Namun bagi pria berbalut rompi casual berikut celana jeans hitam itu, ia tidak sedang berbicara sendiri. "Maaf, ma," gumam Frans.

"Percaya atau engga lo sama dia, Aksara atau Sania yang jadi pemeran utama Frasa, tanyak sama hati lo sendiri, Frans. Bukan waktunya lo ngungkit-ngungkit yang udah terjadi. Bukan waktunya lo heboh ngurusin siapa yang jadi masa lalu lo, Frans."

Frans tertawa sumbang. Apa memang masa lalu tidak sepenting itu? Bukankah Frans menjadi manusia paling tidak tau diri jika hanya karena amnesia dirinya menghilangkan semua jasa orang-orang di masa lalunya?

"Enggak, Frans. Bukan waktunya ngungkit ngungkit masa lalu. Karena lo harusnya sadar posisi lo sekarang lagi amnesia. Otak lo udah nggak bisa kerja dengan baik sampe ingetan lo pulih.

FRASA [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang