#1 Frasa [08/04/21]
#2 Aksara [11/01/22]
Frans Amnesia
Musibah tak diminta itu tidak hanya menghilangkan ingatannya. Tapi juga memaksa Frans untuk kehilangan salah satu orang paling berharga di hidupnya.
"Aku pernah berjanji akan berusaha. Dan aku s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•|FRASA|•
"Kay, tidur di sana. Aku masih buat tugas." Aksa mengeluh ketika Kayla mulai meringkuk di samping kakinya.
Bahan berserakan dimana-mana. Tapi sampai sekarang, Aksa bahkan belum tau ingin membuat apa.
"Kay, sana dulu ih!"
Yang diajak bicara mau tak mau menurut. Sedikit menjauh dari tempat Aksa. Kemudian dengan santai, mengambil posisi tidur dengan mata memperhatikan tuannya yang tengah sibuk mencari inspirasi di laptop.
"Apa liat liat?! Bantuin kek!"
"Meong," jawab Kayla tak peduli.
Aksara mendengkus sebal. Gadis itu benar benar tidak seperti biasanya. Apa yang akan dia buat dalam waktu tiga hari? Kerajinan seperti anak SMP? Lampion dari balon? Lampu tidur dari bambu? Atau rak buku dari stik es krim dan kardus? Oh ayolah... Itu semua terlalu kekanak-kanakan.
Kenapa pelajaran prakarya menjadi begitu menyebalkan?
Pikiran Aksara kemana mana. Mulai memikirkan kemungkinan jika memang dia membuat benda benda childish itu, akan seburuk apa nilainya. Kalau terlambat mengumpulkan, hukumannya akan seperti apa? Apakah tidak akan dinilai?
"Kay," sapa Aksa.
"Kayla."
Kayla menatap Aksa tanpa mengatakan apapun. Lebih tertarik untuk bermalas-malasan tanpa berminat sedikitpun membantu mengerjakan tugas manusia ini. Tentu saja, memangnya Kayla bisa apa?
"Kay. Kalo capek salah ngga, sih?" —Aksa mulai bertanya. Fokus pikirannya sudah bukan lagi tentang tugas.
Remaja dengan kaos panjang berwarna biru pastel dan rambut dicepol asal-asalan itu berdiri. Dirinya perlu inspirasi. Siapa tau nanti mendapat ide. Kalaupun terpaksa, Aksara akan membuat apa adanya dan sebisanya.
Gadis itu berdiri. Lalu dengan cepat menggendong Kayla dan membawanya turun ke taman belakang rumah.
Sudah 3 hari berlalu cepat semenjak kejadian bodoh tentang mading. Sampai saat ini, Aksa sama sekali tidak menyapa Frans. Ia lebih banyak uring-uringan tidak jelas dan tak bisa berpikir sama sekali. Kontras dengan Aksara Aurellin Pradikta yang dikenal publik.
Bukan apa apa. Aksa hanya tidak mau terus menerus menjadi beban. Ia pikir, mungkin memang dirinya pantas mendapat hal ini. Aksa tau dirinya salah. Akhir akhir ini kesalahannya bahkan begitu fatal.
Aksa mulai memutar otak. Mencoba mengingat kesalahan apa yang sudah diperbuatnya kepada Frans beberapa waktu belakangan. Siapa tau, itu yang membuat Frans semakin membencinya dan memilih menyembunyikan kesalahan Sania di perkara mading. Siapa tau, itu juga yang membuat Frans sama sekali tidak berpikir bahwa Aksara lah yang menyelesaikan tugasnya.