Katanya empati dalam diri seseorang akan timbul jika kita pernah merasakan berada di posisi itu. Tapi sepertinya syarat itu tidak berlaku untuk Felix yang selama ini hidupnya penuh dengan good vibes: banyak teman, banyak uang, makan enak, tidak pernah merasa lebih rendah dari orang lain, liburan kemana aja, orangtuanya masih lengkap dan harmonis.
Bayangkan, beratnya cobaan yang tidak habis-habisnya menimpa Lira membuat Felix ikut merasakan sakit dan putus asanya perempuan itu.
Felix tidak mengelak itu, benar bahwa simpatinya sudah naik ke level yang lebih tinggi menjadi empati. Melihat wajah pilunya, apalagi mengingat Lira adalah ibu dari anaknya nanti membuat Felix tergerak untuk mengasihi dan membahagiakan manusia termalang yang pernah dia temukan itu.
Kepergian ibu juga membuat Felix terpukul, bagaimana pun, sudah sekitar lima bulan ia berbagi hidup dengan beliau. Bahkan sudah berniat menghidupi beliau, tapi takdir berkata lain. Laki-laki itu juga tidak keberatan sama sekali saat tidak bisa mengantar Sonya ke bandara dan melewatkan pelukan selamat tinggal untuk gadis itu.
Tapi, yang menjadi pertanyaan Felix adalah, "Serius, ibu nitipkan Lira ke aku? Kenapa? Gak takut Lira kenapa-napa?"
"Iya! Nanti kami ke Derawan kalau uangnya udah kekumpul." Ujar Lira riang.
Mendengar itu, pikiran Felix yang sempat berkecamuk pun buyar. Perhatiannya kembali fokus pada Lira yang sedang melakukan panggilan video dengan Sonya diselingi dengan menyantap sarapannya itu.
Sonya bisa dibilang mood booster bagi Lira. Buktinya, lesunya Lira bisa berubah menjadi riang saat menerima telpon dari Sonya. Yang membuat Felix tidak habis pikir mengenai teman masa kecilnya itu adalah semakin nglanturnya setiap ucapan yang keluar dari mulutnya. Seperti kamarin, bisa-bisanya Sonya bilang 'ku tunggu duda mu' yang sempat membuat Felix tercengang dan berakhir dengan tawa keras karena Felix menganggap itu hanya candaan. Sonya benar-benar tidak bisa membuat Felix marah meskipun mulut gadis itu selalu berbicara sembarangan tentang pernikahannya dengan Lira.
"Engg." Lira memundurkan kepalanya saat sadar tangan Felix yang menjumput nasi sudah di depan mulutnya.
Tidak berniat menolak, Lira pun membuka mulutnya dan kembali berbicara dengan Sonya. "Keasikan ngobrol sampai makanannya dikacangin." Celetuk Felix lagi-lagi menyuapi Lira, piring milik Lira yang tadinya tepat di depan perempuan itu pun dipindahnya menjadi tepat disamping piringnya yang sudah kosong sejak tadi.
"Cieee." Goda Sonya diseberang telpon.
Pipi Lira memerah, tangannya berubah menjadi dingin, meskipun merasa sangat gugup, senyum lebarnya tidak dapat ditahan.
"Disuapin, pake tangan lagi! Kaya aku waktu itu. Ahahaha." Tampang Lira yang seperti berbunga-bunga bercampur malu seketika berubah menjadi jijik.
"Gak tau dimana tukang cuci piring semalem naroh sendoknya." Beber Felix sambil terus menyuapi Lira.
"Son udah dulu ya." Ujar Lira melambai-lambaikan tangannya. "Ih gak mau, tangan kamu sama aja sama sendok, bekas banyak orang!" Tolak Lira cepat setelah panggilan Sonya terputus.
Suasana yang penuh ocehan kedua perempuan itu tadi pun berubah menjadi sunyi. Benar-benar sunyi, bahkan suara sendokpun tidak ada.
"Aaa, sisa dikit." Felix mengintupsi Lira agar membuka mulutnya lagi, mengabaikan tolakkan Lira tadi."Nanti kita pasti kesana kok, kamu juga harus tau usaha Ayah yang ada di sana."
"Em gak sabar!" Respons Lira mengepalkan tangannya dan mengangkatnya ke udara. Sementara Felix masih menunggu Lira membuka mulutnya, menerima suapannya.
"Kenyang." Tolak perempuan itu membuang muka.
Felix pun tidak protes, 'paling jam 9 makan lagi' pikirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teen Unplanned Pregnancy
Teen FictionAfter Sperm Meet Ovum.... "Aku setuju untuk aborsi. Tapi aku butuh perawatan sehabis aborsi biar aku gak rasain sakit lagi. Aku takut gak bisa hamil lagi." -Lira "Seakan bisa melihat isi perut dia, gue ngebayangin ada bayi kecil di dalam perutnya. M...
