Besok harinya, orangtua Felix dan Ibu Lira ke sekolah untuk memberitahu masalah yang terjadi. Karena sekolah mereka adalah salah satu sekolah terpandang, maka tidak ada acara lobi-melobi atau sogok-menyogok. Sekolah Lira memutuskan bahwa dia diberhentikan, begitu juga dengan sekolah Felix dengan keputusan yang sama.
Awalnya, Ayah berharap sekolah memberikan Felix kesempatan untuk tetap bersekolah dan ikut ujian nasional mengingat ia sudah duduk di kelas 3, tapi ternyata tidak. Untungnya, semua guru di sekolah itu mau diajak berkerja sama untuk menyembunyikan masalah ini dari sekolah lain dan siswa lainnya serta mengumpulkan informasi yang dapat mengungkap siapa yang telah menjebak Felix dan Lira.
Setelah mengurus ke sekolah, masing-masing dari orangtua kemudian meyiapkan berkas-berkas persyaratan untuk mendaftar surat nikah di KUA. Mereka sepakat bahwa akad nikah dilakukan di KUA lima hari kedepan saat kondisi Lira sudah membaik. Kemudian malamnya akan diadakan acara syukuran sekadar mengundang keluarga terdekat dan sahabat Felix.
Sementara Lira sampai hari ini masih dirawat dirumah sakit, dengan Felix yang menemaninya. Jika kondisi Lira semakin membaik, dokter berencana akan mengizinkannya pulang 4 hari lagi.
"Lix kamu yakin?" Tanya Lira saat ia sudah selesai sarapan.
"Apa?"
"Nikah?" Ucap Lira lagi dengan ragu.
"Itu solusi terbaik." Respon Felix malas sambil berdiri menjauhi Lira dan memilih duduk di jendela ruangan itu. Rasanya malas sekali jika membahas tentang itu. Mungkin ia dapat pura-pura tidak mendengar perkataan Lira jika ia menjauh dari gadis itu.
"Aku gak bisa sekolah lagi Lix." Resah Lira akhirnya.
"Nanti bisa ambil paket C, kalau lo kuliah gue yang jaga dia." Tegas Felix jelas agar Lira tidak mengeluh lagi.
Lira yang mendengar itu hanya meresponnya dengan decakan.
"Kita bisa suruh orang lain adopsi dia." Ucap Lira percaya diri setelah beberapa saat diam berfikir.
"Ra.." Ucap Felix dengan suara rendahnya seperangkat dengan mata tajamnya menatap Lira dan dagunnya yang mengeras. "Itu anak lo juga. Kita sudah korbankan diri kita, masa depan kita, jangan sampai anak itu juga jadi korban." Jelas Felix emosi.
Sementara Lira, ia terkesiap menahan napasnya sesaat dan memilih menundukkan kepala dalam.
Mengapa saat Felix berusaha untuk menerima anak itu Lira malah pihak yang paling tidak menginginkannya. Bukannya terbalik? Biasanya, di film-film calon ibu yang memohon agar janinnya tidak disakiti dan calon ayah akan melakukan kekerasan untuk melenyapkan janin tersebut. Lira bahkan sempat-sempatnya berpikir untuk membiarkan orang lain mengadopsi anaknya setelah bertahan setengah mati selama 9 bulan ditambah dengan cobaan berat hingga ia memilih mati saja.
"Se-gaknya lo pura-pura bahagia biar ibu lo juga bahagia. Anak itu bakal jadi satu-satunya orang yang gak ninggalin lo, dia bakal mihak lo apapun salah lo." Jelas Felix. "Sudah tidur aja lagi, lo bangunnya jam 2." Lanjut Felix ketus berharap Lira tidak membahasnya lagi.
Lira pun hanya menurut, menyusun bantal rendah kemudian meletekkan kepalanya disana.
Ia menghadap dinding membelakangi Felix merenungkan ujaran Felix sampai akhirnya ia benar-benar tertidur.
Jam setengah 12 akhirnya Ibu Lira datang, "Panasnya diluar." Keluh ibu sambil meletakkan helmnya di bawah meja, "Pulang aja kalau mau pulang, Tante sudah selesai." Lanjutnya.
"Gimana Tante? berkasnya sudah siap semua?" Tanya Felix sedikit penasaran. Kenapa ia tidak menanyakan tentang nasip pendidikan Lira saja? Karena ia sudah diberitahu lebih awal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teen Unplanned Pregnancy
Teen FictionAfter Sperm Meet Ovum.... "Aku setuju untuk aborsi. Tapi aku butuh perawatan sehabis aborsi biar aku gak rasain sakit lagi. Aku takut gak bisa hamil lagi." -Lira "Seakan bisa melihat isi perut dia, gue ngebayangin ada bayi kecil di dalam perutnya. M...
