18+
Selamat membaca
•
•
Takut.
Hanya itu yang memenuhi isi kepala dan hati Lira. Bahkan Sejak tadi mulutnya terus mengadukan kata 'takut' pada Felix yang akhirnya ikut-ikutan gelisah.
Sekarang, tempat ini membuat pikiran buruk Lira semakin liar, tempat ini juga membuat Lira merasa semakin dekat dengan kengerian yang sudah menunggu di depan mata.
Kalian boleh bilang ini berlebihan, Lira juga sempat berpikir begitu. Periksa kandungan dan konsultasi dengan dokter Obygn bukan yang pertama bagi Lira, tapi sungguh, ia sangat takut, was-was dan cemas. Lira akui, kabar gembira bahwa anak mereka akan lahir tidak serta-merta membuatnya bahagia walau hanya setitik pun. Perempuan itu takut kesialan kembali menimpanya seperti biasanya: takut persalinan nantinya gagal atau takut ditinggal mati oleh anaknya.
Hembusan napas berat tidak pernah berhenti, hanya itu yang dapat Lira lakukan untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. Berbeda dengan Felix yang mendengus jengah.
Seluruh tubuh Lira tiba-tiba melemas saat giliran mereka yang dipanggil. Tanpa ragu, ke dua tangannya meremas pergelangan tangan Felix yang ditutupi oleh lengan jaket berwarna hitam.
Pemeriksaan kali ini berbeda dari biasanya: menghabiskan banyak waktu, macam-macamnya alat yang dokter dengan gelar SpOG di belakang namanya itu gunakan dan yang paling membuat Lira tidak nyaman hingga meninggalkan trauma adalah observasi pelvis atau panggul.
Bagaimana tidak, Lira harus memperlihatkan organ intimnya. Lebih dari itu, dokter yang sudah menggunakan sarung tangan memasukkan jarinya ke dalam vagina Lira dan satu tangannya lagi menekan-nekan bagian bawah perutnya dari luar.
Wajar jika Lira mengaduh kesakitan, seluruh tubuhnya menegang ditambah suhu badannya yang menjadi panas dingin membuat rambut-rambut kecil di dahinya basah oleh keringat. Lira yang sulit diajak bekerja sama itu pun membuat dokter kesulitan dan terpaksa berkali-kali mencoba memasukkan jarinya.
Jangan tanya Felix, laki-laki itu tidak berani untuk melihat langsung apa yang dokter lakukan di sana, ia hanya bisa menebak dan ikut merasakan ngilu saat Lira seperti kesakitan dengan tangan dingin dan bergetar meremas kuat tangannya. Seketika, dia menjadi gagap dan linglung. Itu pasti lebih ngeri dari sunatnya dulu.
"Jalan lahirnya seperti: rongga panggul pas ---cuman sedikit kurang lebar aja--- begitu juga dengan dasar panggul, leher rahim, dan vaginanya." Jelas dokter paruh baya itu setelah melepas sarung tangannya. "Posisi janinnya normal, puncak kepalanya pas menghadap ke leher rahim. Tapi berat badannya masih kurang, " Lanjut dokter itu tenang. "Melahirkan normal ya." Ujarnya menatap lamat Lira dan Felix bergantian sambil tersenyum.
"I-iya Dok." Sahut Felix, sementara Lira hanya diam dengan badan seperti menggigil.
"Perkiraan hari lahirnya di minggu ke 40. Tapi perkiraan ini belum pasti juga, bisa maju, bisa juga mundur." Ujar dokter paruh baya itu sambil menulis sesuatu di lembar catatan pemeriksaan Lira.
Sebagai dokter senior yang sudah bekerja kurang lebih 25 tahun, mendampingi pasangan muda dengan kehamilan pertama bukan hal yang baru baginya. Dokter itu tau betul apa isi kepala Lira dan Felix. "Kamu hebat loh, biar muda tapi peranakan mu bagus, subur, bisa melahirkan normal lagi." Ucap dokter itu jujur sekaligus menenangkan Lira. "Organ mu mendukung, calon anak mu mendukung, tinggal tenaga sama kesiapan mu aja." Jelas Dokter itu lembut.
"Kamu harus jaga kesehatan ya, makan yang bergizi, jangan banyak pikiran, biar pas lahiran tenaganya banyak. Gimana? Bisa 'kan."
Felix yang mendengarkan dengan teliti mengangguk cepat. Berbeda dengan Lira yang hanya mencoba tersenyum ragu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teen Unplanned Pregnancy
Teen FictionAfter Sperm Meet Ovum.... "Aku setuju untuk aborsi. Tapi aku butuh perawatan sehabis aborsi biar aku gak rasain sakit lagi. Aku takut gak bisa hamil lagi." -Lira "Seakan bisa melihat isi perut dia, gue ngebayangin ada bayi kecil di dalam perutnya. M...
