15. Karma

38.3K 2.7K 152
                                        

Terima kasih banyak untuk 5k dibaca, 500 votes dan 154 komennya.

Selamat Membaca

Sejak kejadian malam itu, Felix masih mendiami Lira, buktinya hari ini pagi-pagi sekali laki-laki itu sudah bersiap meninggalkan rumah dan ingin pergi tepat setelah ibu berangkat kerja. Biasanya jika tidak ada surat lamaran kerja yang harus disampaikan, Felix akan menunggu hingga morning sickness Lira mereda, sekadar berjaga-jaga kalau-kalau istrinya itu melemah, tapi hari ini Felix mengabaikannya padahal telinganya mendengar Lira muntah hingga terbatuk, matanya melihat Lira sedang duduk lemas di dapur dengan kedua tangannya menekan perutnya dan hidungan mencium wangi minyak kayu putih yang entah sudah berapa kali gadis itu gosokkan pada dada dan perutnya.

"Gue jalan." Pamitnya singkat langsung pergi tanpa menunggu respons Lira. Setidaknya Laki-laki itu sudah menyiapkan semua keperluan Lira seperti sarapan beserta minumannya: air putih biasa, air putih hangat dan teh hangat yang masing-masing satu gelas

Lira bergeming, membiarkan Felix meninggalkannya. Lagi pula ia juga masih belum memiliki kata-kata yang pas untuk meminta maaf. Jujur saja, setiap ia memikirkan kata-kata yang tepat, maka yang terlintas di pikirannya malah pernyataan-pernyataan yang secara tidak langsung membuat Felixblah yang harusnya meminta maaf. Bukannya malam itu ia sedang mengidam? Bukannya malam itu ia berusaha tidak menyusahkan? Seharusnya Felix memakluminya kan?
Tadi malam bukan apa-apa, bagaimana jika Lira mengidam ingin makan rujak di Malaysia? Bisa dibayangkan semurka apa Felix atau bahkan tanpa ragu ia minta cerai detik itu juga.

***

Sebenarnya hari ini Felix hanya ingin tetap di rumah mengingat kemarin seharian sudah dia berkeliling, namun perselisihannya dengan Lira membuat dia tidak betah. Maka di sini lah dia, di apartemen Daniel. Berkunjung tanpa mengabari terlebih dulu, untung saja sahabatnya itu tidak mengganti pin apartemennya.

"Kena karma baru tau lo." Celetuk Daniel setelah mendengar secara saksama cerita Felix. Sahabatnya itu kemudian mengalihkan seluruh fokusnya pada bola-bola yang ada di atas meja kemudian melakukan pukulan break.

"Lira begitu karna dia ngidam kan? Kalau lo marah karena dia ngidam, hati-hati aja, bisa-bisa Lira nyalahin janin itu." Ucap Bagas serius sambil menggosok tip stiknya dengan kapur.

"Bukan apa-apa lik, nyawa anak lo ada di tangan dia." Lanjut Hito yang mulai menonton duel antaran Daniel dan Bagus dalam bermain billiard.

Mendengar kata-kata sahabatnya yang bolos sekolah itu sontak membuat Felix tersentak, ia mengingat betapa Lira tidak menginginkan janin itu, bahkan gadis tersebut dengan entengnya ingin janin itu diadposi orang lain. "Jadi gue yang harus minta maaf?"

Krik krik krik

"Ck." Decak Felix yang sadar tidak dihiraukan oleh sahabatnya. Bagaimana tidak, mereka sedang berkonstentrasi penuh kan. "Woy!" Ucap Felix saat Daniel sedang melakukan kuda-kuda untuk menyodok bola.

 "Goblok." Kesal sahabatnya itu saat gagal membidik bola sasarannya, parahnya lagi membuat cue ball  termasuk ke dalam pocket.

"Lo juga harus minta maaf, kan lo marah-marah ke dianya." Jawab Bagas sambil menimbang-nimbang  dimana ia harus menaruh cue ball dan mulai menembak bola sasaran dengan power yang kecil, tidak ingin bernasip sama seperti Daniel yang diganggu felix.

"Sana, temani Lira sekalian minta maaf." Ketus Daniel yang bertambah kesal saat lawan mainnya itu perhasil memasukkan bola ke dalam pocket.

"Mumpung rumah sepi." Timpal Hito dengan menaik-turunkan alisnya.

"Iya ini gue pulang." Balas Felix mulai beranjak dari duduknya dan dengan sengaja menyenggol Bagas yang sedang membidik bola, kemudian lari terbirit-birit ke luar apartemen itu.

Teen Unplanned PregnancyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang