33. (No Title)

22.2K 2.1K 122
                                        

Part 1-10 pengen di hapus aja 😭

.
.
.

Kalau siang tadi kerjaan Felix menguras pikiran, maka sore ini pekerjaannya  menguras tenaga meskipun tidak seberapa baginya.

Di parkiran sudah ramai oleh karyawa yang memakai seragam sama dengan Felix, beberapa dari mereka saling bercengkrama dan bertegur sapa termasuk Felix.

"Ibu belum datang kan?" Tanya Felix pada temannya Alif dan Nanda.

"Lusa baru." Alif yang bertugas sebagai renternir menjawab.

"Kenapa emang?" Tanya Nanda sebagai costumer service dan terkadang menjadi Sales Promotion Girl (SPG).

"Mau tidur bentar gue, 15 menit aja." Jujur Felix yang direspons kekehan oleh temannya itu.

"Santuy Bro, yang penting sudah bersih 'kan." Ujar Alif mengedarkan pandangannya di ikuti oleh Felix dan Nanda. Untung saja Rifqi yang menjadi OB di shift sebelumnya sangat bertanggung jawab dengan kerjaannya.

"Banyak juga kok yang gak turun. Mumpung gak ada ibu bos." Nanda menimpali dengan menaik-turunkan alis diakhir katanya.

Lagi-lagi tiga orang itu terkekeh.

Sesampainya di dalam kantor, semua orang mulai mengambil tempat sesuai tugas mereka, seperti Nanda yang duduk di meja paling depan atau Felix yang pergi ke dapur mengambil air minum dan menegugnya cepat, sungguh ia tidak sempat minum saat di rumah tadi, dari dapur laki-laki itu berlalu ke ruangan disebelahnya berukuran 3×3 meter yang dipenuhi oleh galon, alat kebersihan, serta beberapa meja dan kursi yang sudah rusak.

Felix tersentak dan meringis saat hendak menelentangkan badannya ke lantai. Bagian belakangnya sakit mulai dari tulang ekor hingga tulang leher.
Masih dengan sakitnya, perlahan ia kembali menidurkan badannya ke lantai dan menutup matanya rapat berharap rasa sakit itu menghilang atau berkurang. Astaga, kerjanya yang satu ini baru dimulai tapi ia sudah kesakitan.

Tok tok tok
"Felix."

"Iya." Jawab Felix tertahan kembali bangun. "Buka aja." Laki-laki itu benar-benar kesulitan untuk langsung  berdiri.

Pintu terbuka, ternyata Alif.
"Ada yang harus difotokopi di depan." Katanya.

"Iya, gue kesana."
Mungkin badan Felix kaku akibat duduk seharian, oleh karena itu terasa sakit jika tiba-tiba dibawa berbaring, tapi saat berdiri atau hanya duduk rasa nyeri itu berkurang.

Felix menghembuskan napas pelan saat melihat apa yang harus ia kerjakan: memfotokopi berkas, mengeprint browser sekaligus melipatnya dan memindai dokumen fisik ke dalam bentuk digital. Belum lagi nanti malam sebelum pulang ia harus membersihkan setiap ruangan, membuang sampah dan mencuci piring.

***

Memasuki jam 8 malam, pekerjaan mulai longar, hanya membuat minuman atau membeli makanan di luar jika ada karyawan yang menyuruhnya.

Kesibukan hari ini membuatnya melupakan rasa penasarannya pada jenis kelamin anaknya. Terkadang ia teringat, tapi terlalu sibuk untuk bisa menelpon Lira meminta perempuan itu berubah pikiran untuk memberitahunya saat ia pulang.

Dan sekarang mungkin waktunya,
laki-laki itu bersandar pada dinding, mengelap acak keringat di keningnya dengan punggung tangannya dan mulai membuka kunci HPnya yang sejak sore ia tinggalkan begitu saja di ruangan itu.

Belum sampai 1 menit, Felix sudah membatalkan panggilan itu dan beralih ke pesan singkat dan chat whatsapp. Ya, nomor HP Lira tidak aktif.

Sudah tidur?
Hpnya pasti lupa dicharger
Isi pesan itu.

Teen Unplanned PregnancyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang