Sampai detik ini Lira masih tidak tau alasan Felix selalu mencubit lengan atasnya, bahkan intensitasnya semakin bertambah, kalau dulu waktu awal-awal biasa Felix hanya melakukannya sesekali saat merasa bosan dan tidak tau ingin berbuat apa, tapi belakangan ini bahkan saat asik menonton pun tangannya terus-terusan mencubit lengan Lira seperti saat ini.
Setelah dari rumah sakit tadi, Felix langsung mendudukkan dirinya di depan TV, begitu juga Lira yang tanpa alasan ikut bergabung disana dengan membawa segelas air putih yang kemudian ia sodorkan ke Felix.
Memang di lengan atas Lira itu tempatnya daging kenyal menumpuk, tapi dimana letak imutnya. Yang Lira baca, perasaan gemas itu adalah salah satu ekspresi positif pelepas stres yang muncul akibat ketertarikan, maka dari itu ia tidak pernah menolak jika Felix mencubit lengannya, hanya saja jika cubitan itu makin membuatnya merasa geli barulah dia menunjukkan rasa tidak sukanya. Tapi, sekali lagi dimana letak menariknya.
Saat TV yang menyiarkan aktivitas hewan di alam liar itu berubah menjadi tanyangan komersial barulah Felix berhenti mencubit lengannya, dan membuka pembicaraan, "Padahal kemaren Ayah nyuruh aku bantu-bantu di Derawan, tapi karena di sana kena La Nina, terus banyak kapal yang tenggelam jadi Ayah bilang gak usah aja."
Lira tidak merespons, fokusnya masih pada HP dengan jari yang tampak mengetik.
"Ra." Panggil Felix.
"Rezeki kamu bukan di situ berarti, sabar aja." Sahut Lira cepat.
Bagi Felix kesempatan itu sangat di sayangkan sekali, ayolah dia sedang butuh uang, tapi ternyata respons Lira malah sebaliknya yang lapang dada begitu saja. "Rejeki kita." Gumamnya pelan sebelum menjatuhkan kepalanya di pundak Lira. Sementara Lira masih fokus pada HPnya.
Kegiatan awalnya menonton TV pun berubah setelah itu, Felix malah menguyel-uyel pipinya di pundak Lira dengan gerakan memutar.
"Aku sebenarnya mau kerja juga." Lira berucap serius. HP yang sejak tadi tidak lepas dari tangannya pun ia letakkan di atas pahanya.
Mendengar itu Felix menjauhkan badannya dari Lira dan mematikan TV, bisa dibilang ini adalah pembicaraan serius pertama mereka selama menikah, "Dengar aku baik-baik." Pintanya mengambil HP Lira.
"Gaji ku emang gak cukup, tapi bukan berarti aku gak boleh ngalarang kamu kan? Jangan kerja, kamu lagi hamil."
"Satu bulan ini aja Lix, habis itu gak lagi, lumayan kan kalau dapat 2 jutaan."
"Sorry, gaji ku emang kecil, gak bisa bener-bener nafkahin kalian." Gumamnya.
"Aku gak masalah sama gaji kamu yang sekarang, kan cukup aja untuk makan sehari-hari, aku juga udah terbiasa dari dulu Lix. Tapi mulai sekarang kita harus ngumpul uang untuk lahiran." Jelas Lira.
Felix menarik napasnya dalam, "Aku juga lagi usaha."
"Iya Felix, aku tau gimana usaha mu, kamu pekerja keras, aku tau, aku juga selalu doain kamu supaya lamaran yang kamu masukkan dimana-mana itu bisa diterima. Tapi aku juga mau coba."
"Susah Ra, kita gak lulus SMA, sementara dimana-mana syaratnya minimal lulusan SMA. Dan mungkin Ayah gak mau aku kerja di tempatnya karena alasan itu."
Sejak awal, pembicaraan ini memang membuat mata Lira berkaca-kaca, apalagi ia sudah membuat Felix merasa tidak becus. "Iya, kita gak lulus SMA." Ucap Lira mulai terisak menjatuhkan kepalanya ke pundak Felix. Fakta terlupakan yang Felix ucapkan tadi seketika mengubur dalam-dalam semangat Lira untuk bekerja. Yang paling menyakitkan adalah, selama ini Felix tau bahwa tempat itu mensyaratkan lulusan SMA, tapi Felix dengan kegigihannya tetap melamar kerja di situ.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teen Unplanned Pregnancy
Teen FictionAfter Sperm Meet Ovum.... "Aku setuju untuk aborsi. Tapi aku butuh perawatan sehabis aborsi biar aku gak rasain sakit lagi. Aku takut gak bisa hamil lagi." -Lira "Seakan bisa melihat isi perut dia, gue ngebayangin ada bayi kecil di dalam perutnya. M...
