9. He's Paralyzed

42.9K 2.9K 130
                                        

Malam ini, ditengah jatuhnya bulir-bulir besar air yang terasa nyeri ketika mengenai kulit dan gemuruh cambuk malaikat yang berkilat, Felix berjalan menyusuri gang yang gelap itu, tak jarang kakinya menginjak lubang yang berair.

Air hujan menyamarkan air matanya, gelap menyamarkan raut pilunya. Ia menuruti perintah sang Ayah untuk meminta ampun dan tidak kembali lagi ke rumah.

Sesampainya di depan rumah Lira, tubuhnya terpaku, bagaimana ia harus memulai, apa yang harus dikatakan. Rasa takut ini membunuhnya dari dalam seperti menombak jantungnya. Seharusnya dia datang membawa buah tangan dan didampingi orangtua bukan kondisi seperti ini yang sedang basah kuyup dengan tubuh menggigil.

Tok tok tok
"A-assalamualaikum." Salam Felix kecil membiarkan suara hujan menandingi suaranya.

Tok tok tok
Ketuknya lebih keras.

Tidak ada yang membukakan pintu, hujan yang lebat ini membuat semua orang tuli sesaat.

Laki-laki itu terkejut saat petir menyambar lebih keras lagi, ia segera berjongkok menutup telinganya dan memejamkan matanya rapat-rapat.

He's paralyzed, that slowly killing him.
Dia kehilangan dirinya yang tangguh.

Kemarahan orang tuanya membuat lupa bahwa anak satu-satunya ini punya sedikit trauma dengan suara petir atau mungkin mereka sudah tidak perduli lagi.

Tok tok tok
Kali ini ia mengetuk jendela kaca di rumah itu.

Kreett
Tidak lama kemudian pintu akhirnya dibuka.

"Ada apa ya?" Tanya Ibu.

"S-saya Felix, teman Lira."

"Liranya sudah tidur, ada apa ya sampai hujan-hujan begini?"

"S-saya mau ketemu Lira."

"Kalau begitu tunggu sebentar ya, ibu panggilkan Lira dulu."

Tanpa menunggu respon dari Felix, ibu Lira cepat-cepat menutup pintu juga menguncinya lagi.

"Ra, Lira, bangun nak, ada orang yang nyariin kamu." Ujar ibu menepuk-nepuk kaki Lira yang tengah tidur.

"Emmm?"

"Ibu takut orang mau ngrampok, hujan-hujan begini." Mendengar penjelasan itu Lira langsung bangun dan beranjak dari tempat tidurnya.

"Ibu gak biarkan dia masuk kan? pas rampok beneran bu."

"Nda, nda, tapi kayanya masih nungguin di luar, katanya mau ketemu kamu."

"Siapa?" Tanya Lira mendekati jendela dan mengintip keluar. "Felix...dia mau ngapain." Benak Lira.

"Ya ampun! Felix!" Ucap Lira dengan buru-buru membuka pintu karena terkejut melihat Felix yang tiba-tiba sempoyongan.

Setelah membantu Felix masuk, ibu menyuruhnya mengganti baju dengan bajua milik Ayah. Sementara Lira sedang di dapur membuatkan teh hangat.

"Ra, teman kamu itu kenapa? Ini sudah malam." Tanya Ibu yang bertambah khawatir, masalahnya hanya mereka berdua di rumah ini, beliau takut jika Felix berniat jahat.

"Nanti Lira tanyain Bu." sejak tadi Lira mencoba tenang, meyakinkan diri bahwa pikiran negatifnya saat ini tidak akan jadi kenyataan.

Sambil membawa segelas teh, Lira terus menatap mata Felix meminta penjelasan lebih dulu tanpa sang ibu tau.

"Namanya siapa? kok sampai hujan-hujanan." Tanya ibu ramah.

"Tante, saya mau jujur, saya.." belum selesai berbicara, laki-laki itu lagi-lagi sibuk menahan air matanya yang tiba-tiba hendak terjatuh.

Teen Unplanned PregnancyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang