21. Maskeran

28.6K 2.1K 57
                                        

Terima kasih sudah ngikutin cerita ini

.
.
.
.

"Kamu ngapain lagi?" Tanya Lira sudah bosan menunggu Felix yang saat ini masih sibuk mencari sesuatu di lemari baju. "Kan uda siap semua." Lanjut gadis berbadan dua itu.

"Nahhh. Nanti dicocokkan dengan ini, tapi dilebihin 2 atau 3 jari." Ucap Felix sambil menggumpal pakaian dalam Lira dan memasukkannya ke dalam tas yang sudah berisi sebotol air minum, tisu, kipas angin mini portable dan pastinya dompet.

Lira yang melihat tingkah Felix tersebut dengan kesal menepuk dahinya, "Ih! Keluarkan! Malu Lix, masa dibawa ke toko." Protes gadis itu.

"Lah terus? Lo kan gak tau ukurannya berapa, dari pada lo nyoba langsung di sana, pilih mana?"

"Gak mau dua-duanya!"

"Nanti kekecilan baru nangis." Ejek Felix masih membiarkan pakaian dalam itu di dalam tas.

"Ya udah, aku gak jadi ikut." Balas Lira kesal langsung melepas cardigan rajutnya dan kembali berbaring di kasur seperti biasanya.

"Ya sudah." Balas Felix yang juga melepas jaketnya dan memilih ke ruang tamu untuk menonton TV.

"Loh? Kapan jalan-jalannya? Nda jadi?" Tanya Ibu.

"Liranya gak mau Bu." Adu Felix menyibukkan diri dengan mengganti-ganti siaran TV.

Ibu yang mengetahui itupun hanya bisa menggelengkan kepala dan mendatangi Lira ke kamarnya. "Kenapa Ra? Kan sudah siap-siap tadi." Tanya ibu sambil mengelus pundak Lira.

Lira pun langsung mengadukan pada ibu perihal pakaian dalam tadi, yang membuat ibu malah tertawa terbahak-bahak. "Ibu.. Lira serius." Rengek Lira yang tidak terima ditertawakan.

"Kalian ini ada-adaaa aja. Mau beli celana dalam aja harus gelut dulu. Laki-laki pikirannya memang aneh begitu nak. Nah, kalau kamu nda setuju dengan caranya Felix kamu jangan nolak aja, kamu harus kasih solusi juga," Jelas ibu. "Felix, tolong ambilkan ibu tali rafia di dalam kardus." Pinta ibu sedikit meninggikan suaranya agar sampai ke teling Felix yang ada di ruang tamu.

Felix tidak menjawab, melainkan langsung beranjak ke dapur menuruti apa yang ibu pinta tadi.

"Bu, ga ada." Ucap Felix di depan pintu kamar dengan cengiran kudanya, padahal dapur itu sudah tidak asing lagi bagi Felix dan kardus yang ibu maksud juga mudah sekali ditemukan karena jika dia berdiri di depan kulkas kardus itu sudah terlihat.

"Ada di dalam kardus emi, isi kardusnya ada banyak keresek warna hitam putih, di bawah meja kompor, di samping teko untuk rebus air." Kali ini Lira yang berucap menggunakan rumus kalimat yang sudah gadis itu hapal jika menyuruh Felix yaitu harus jelas sejelas-jelasnya agar Felix menemukan barang tersebut. Dan ucapan Lira tersebut membuat Felix kembali ke dapur. "Jongkok di depan meja kompor, tarik kardusnya keluar, masukkan tangannya ke dalam kardus, pasti ketemu talinya." Lanjut Lira memberi instruksi dengan suara sedikit meninggi dan Felix yang juga mengikuti instruksi tersebut.

Ibu yang sejak tadi memperhatikan tingkah anak dan menantunya tersebut semakin memecahkan tawanya hingga matanya berair. "Kamu hapal betul ya. Kaya gitu yang sebenarnya bikin rumah tangga kalian nda tegang terus kalau kalian bisa menikmati. Felix itu hampir sama seperti bapak mu, nda kaku kan." Ucap ibu.

"Iya sih Bu, gak kaku malah kaya anak kecil. Terus Felix itu kalau Lira gak jelaskan panjang lebar pasti gak ketemu barangnya padahal ada di depan dia. Jadinya Lira jengkel." Jelas Lira masih dengan kekesalannya.

"Bu." Ucap Felix sambil menyodorkan seuntai tali rafia.

"Nah, kalau gak tau ukurannya, terus gak mau bawa contohnya, diukur pake tali rafia aja." Ucap ibu yang mulai mengukur lingkar pinggang, paha dan dada Lira.

Teen Unplanned PregnancyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang