⛅sEmBilanBelAS⛅

302 42 28
                                        



Comment dan Vote kalau kalian suka ceritanya~


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Enjoy reading semua~~

.

⛅⛅⛅

.


Yangyang mengetuk-etuk jemarinya di atas meja. Pikirannya terlanjur berkelana. Bagaimana Kun sama sekali tak terusik dan  membiarkan Chenle menggelayut manja di lengan kokohnya. Juga  tentang obrolan semalam tepat sebelum dirinya pamit pulang dari apartemen Kun. 

Chenle ternyata masih duduk di bangku sekolah, dan Kun mendaftarkannya disini, masuk dikelas dasar. Satu tahun tepat lebih muda dari Yangyang. Kun juga secara pribadi memintanya menjaga Chenle, menemaninya pulang ke apartemen karena Kun bukan pengangguran yang bisa kapan saja meluangkan waktu. 

Sekaligus mengingat kebiasaan pemuda Liu itu, sepulang sekolah. Selalu menyempatkan diri hingga larut berada di apartemen Kun.

Dan gilanya, itu berarti ia harus melihat kemesraan lainnya didepan mata setiap hari! 

Yangyang sebenarnya ingin sekali menolak. Mungkin hidup jauh dari bayang bayang lelaki Qian itu lebih baik untuk kesehatan jiwanya. Kembali pada game dan arena balapan, pada fase yang sebelumnya ia jalani dengan penuh bahagia. Melepaskan diri sebebas maunya. 

Namun, sekali lagi, cinta terlalu membutakan hati seorang Liu Yangyang. Hingga memilih menyakiti lewat bola mata yang beradu pandang. Yangyang menyetujui semuanya, tak bisa menolak perintah Kun, seperti biasa. Lelaki itu sudah terlalu hidup.  

Satu tepukan yang diberikan Xiaojun berhasil menariknya dari dunia bayangan yang dibuatnya sendiri. Mengisyaratkan jika Byun ssaem bisa saja menangkapnya jika tetap melamun. Membawanya ke ruang konseling, mencoreng gelar 'murid genius luar biasa' yang tertitel dalam namanya ditabloid sekolah, atau lebih buruk, dihukum. 

Bodo amat,..

Yangyang melengos. Ia masih marah pada Xiaojun soal kejadian tempo hari. Siapa lelaki berwajah bodoh itu hah? Berani dia mendekati sahabatnya.. Mana Xiaojun belum mau bercerita apapun padanya. Kan menyebalkan!

Hei, mari ingatkan Yangyang jika dia berarti sama menyebalkannya dengan Xiaojun. Toh, Yangyang juga tak bercerita apapun pada sahabatnya itu soal Kun. 

Jangankan bercerita, memberi clue pun tidak. 

"Hei, jangan sepeti perawan kesepian yang  tak mampu membeli toppoki begitu dong, nanti ku traktir muffin, kentang goreng dan ice cream deh di cafe paman winwin"

INterlude [KUNYANG] || Present ; pria bercangkir biruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang