[SLOW UPDATE!] [BxB] [Mature] [Agegap] [school] [InspiredBy jiji_laan keelunderlove]
Mau kuceritakan sebuah kisah? Tentang seorang laki laki yang bertekuk lutut pada pria berumur jauh diatasnya.
Rela mengubah hidupnya bahkan berani menghadapi apa y...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
⛅⛅⛅
.
Seorang pemuda berhidung mancung dengan sebuah jaket menutupi setengah tubuhnya berjalan cepat menyusuri koridor yang sepi. Ia tak punya waktu sekedar membenarkan letak jaket yang seolah hanya tersampir.
Byun ssaem bisa marah besar jika ia terlambat masuk kelas tambahan hari ini. Sosoknya tegas, tidak penah main main dalam medisiplinkan. Sekilas, dinilai mengerikan.
Namun, langkah tergesa Sungchan terhenti takala mendengar sebuah alunan biola dari ruang musik. Ia yang tadinya tergesa menuju kelas tambahan, kini justru terpaku, menikmati senar yang saling bergesekan, menciptakan nada nada yang tak pernah ia dengar dilagu manapun.
Alunan menyayat itu terasa hidup, memberikan suatu gejolak aneh pada sekujur tubuhnya, seolah menggambarkan emosi sang pemain. Kesedihan yang begitu jelas terpancar, setidaknya, itu yang bisa ia simpulkan.
Bukan kesedihan, lebih tepatnya, kecewa.
Sungchan melangkah menghampiri pintu kayu ruang musik yang sedikit terbuka. Mengintip sembari dalam hati bertanya, adakah orang yang bisa memainkan nada seindah itu?
Sudut bibir Sungchan terangkat begitu onyx-nya berhasil menyelinap dicelah. Dan senyum itu semakin lebar menyadari siapa yang berada disana, dia, yang berhasil mencuri perhatiannya.
Yang menjadi pertanyaanya kini, kenapa seolah lagu dan ekspresi sosok didalam sana begitu ketara?
Kecewa kah dia? Pada siapa?
"Lee Sungchan?"
Sebuah suara mengejutkan pemuda bak tiang listrik tersebut, ia segera menoleh dan menemukan seorang berdasi dengan senyum tersungging.
"Aku tidak bisa membantumu jika kali ini kau terlambat dikelas Byun ssaem"
Sungchan gelagapan. Tak menyangka jika tertangkap basah mengintip. Memang bukan suatu hal yang jorok, tapi tetap saja tak bisa ditolerir dalam tata karma.
"Itu, emm, ah..nee, kamsahamnida Park ssaem"
"Lho? Kenapa justru berterima kasih?" Guru yang sudah menginjak kepala tiga itu berseloroh geli, merasa lucu dengan murid dihadapannya.