Tiga.Puluh

222 27 25
                                        



Pagi ini, Xioajun membuat keributan di rumah berasitktur elegan berhalaman luas. Rumah tempat Yangyang kini mengistirahatkan raga karena satu kartunya telah ketahuan.

Ten tetap menyambut Xiaojun dengan ramah. Meski kepercayaan lelaki cantik itu turun seperempatnya atas Xiaojun.

Yangyang dilepas untuk pergi jalan jalan mengitari kota bersama sang sahabat. Yang dimana menjadikan cafe paman winwin sebagai destinasi utama dan perpustakaan kota ada diperingkat kedua.  

Untuk tempat lain, bisa diatur nanti.

Pemuda Liu itu keluar kamar dengan sebuah sweeter putih dan  jeans seadanya menutupi tubuh, Yangyang memasang sepatu boot hingga betis, juga syal hijau putih dililitkan Ten keleher. 

"Sudah mulai dingin" alasannya.

Bus berwarna kebiruan itu berhenti tepat di halte terdekat. Yangyang meloncat turun, disusul Xiaojun yang mengomel, menyayangkan tawaran naik taksi.

"Mulutmu berbusa jika kau terus terusan ngerap begitu" Yangyang berseloroh. 

"Aku tidak minum racun serangga!" Balas Xiaojun melotot.

Sepuluh menit menyusuri trotoar yang masih sepi, akhirnya terlihat bangunan kaca berpapan hijau. Yangyang dengan semangat melangkah, mendorong pintu dimana udara hangat langsung menguar, menyapa kulit terbukanya.

"Shotaro tidak ada disini" Taeyong, barista berambut merah muda itu langsung menjawab, padahal Xiaojun baru membuka mulut.

"Liburan ke pulau Jeju" 

Xiaojun mengendus kesal. Rusak sudah rencananya menciumi pipi gembil Shotaro. 

"Padahal aku mau sekalian berkencan dengan Paman winnwin"

Taeyong mengabaikan kalimat Xiaojun barusan. Mengalihkan astesi pada pemuda Liu yang sejak tadi tampak membolak balik laminating menu.

"Kau kemana saja Yang? Aku lama tidak melihatmu" 

"Kau merindukanku ya?" Yangyang tersenyum menggoda, menaik turunkan alis.

"Sudahlah, bicara dengan kalian memang tidak ada yang benar" 

Yangyang terbahak. 

"Jadi pacarku saja bagaimana kak Yong? Bagus lho, Yangyong couple" yangyang bukannya berhenti, justru semakin gencar menggoda, sambil bersusah payah menahan tawa.

"Minyak nyong nyong kali" Taeyong memutar mata, kesal. 

Yangyang tambah terbahak. "Kak Yong kalau kesal begitu lucu deh. Hati hati kak, nanti diculik om om kaya" 

"Kau saja"

Yangyang mendadak berhenti tertawa. Otaknya seketika memutar kilas kejadian demi kejadian. 

"Kenapa?" Xiaojun menoleh cepat, mencium sesuatu yang tidak beres.

Yangyang menggeleng, "Ani" 

Pemuda Liu itu memilih kembali membolak balik laminating menu. Menutupi dirinya yang nyaris bergejolak. 

"Aku pesan kentang goreng satu, sama.... Emm.. float? Ini menu baru?" 

Taeyong mengangguk. Ia kali ini sibuk membersihkan meja.

"Oke blue float satu, kau mau apa Xiao?" 

Xiaojun mengangkat bahu, acuh "seperti biasanya saja" 

Yangyang mengeluarkan selembar uang, mengulurkannya pada Taeyong. 

"Oh? Bayar sendiri-sendiri?" 

INterlude [KUNYANG] || Present ; pria bercangkir biruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang