⛅dua~dua⛅

361 41 42
                                        



Comment dan Vote kalau kalian suka ceritanya~


Enjoy Reading Yeorobun ^-^

Enjoy Reading Yeorobun ^-^

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



.

⛅⛅⛅

.


Yangyang baru saja menginjak lantai halte sekolah. Pagi ini cuaca lebih berangin dari biasa. Haechan menelponnya tadi pagi, menyampaikan amanat Ten, untuk mengingatkannya tentang syal dan sweeter hangat.  Daun daun berwarna oranye mulai berguguran. Mengotori beberapa tempat yang dilewati rute bus.  

Setelah kejadian mobil dan drama ice Aloevera akhir pekan kemarin. Kun tak membahasnya, dan Yangyang juga terlalu takut untuk mempertanyakan ini itu. Kenapa Kun membentaknya, mengapa Jeonghan bisa menjemputnya...mengapa.. mengapa

Yangyang menarik bahunya ke atas. Berniat kembali melangkah daripada overthinking terus menerus.

Namun, sesuatu di depan gerbang membuat napasnya menciut dengan dada yang berdebaran. Air matanya seolah merengsek turun. Tentu, di tahannya sekuat tenaga. Bisa jadi bulan bulanan jika ia masuk kelas dalam kondisi mata bengkak. 

Disana, Kun tangah mengecup pipi salju Chenle, terlihat lembut, tanpa pakasaan.

Mari diulangi, Kun mengecup.. Kun yang mengecup.. Kun!! 

Hanya kecupan,..

Ya, dan cukup membakar sumbu cemburu yang ditahan Yangyang selama ini. 

Tanpa aba aba, Yangyang berbalik. Ekor matanya sempat menangkap tawa Chenle yang berderai. Menambah hatinya sersasa dihujam sembilu. 

Sakit...

Dalam tudung sweeternya, Yangyang menahan isak yang berhasil lolos. Sudah tak peduli ia tentang apa yang selanjutnya terjadi antara kedua putra keturunan adam tersebut. Menyembunyikan wajah merahnya adalah hal terpenting sekarang.

Ia ingin sekali pergi ke ruang musik. Alunan biola lebih ampuh menenangkan hatinya. Niat itu harus terkurung menyadari kondisi sekolah. Kemungkinan besar ia akan ketahuan digelandang menuju ruang konseling. 

Langkahnya sampai ke rooftop bagian belakang. Beberapa bagian lantainya sedikit berlumut. Ada bekas pembongkaran tembok yang berserakan disatu tempat. Juga sebuah dinding rendah yang tebal. Terlihat tak buruk untuk dijadikan alas tidur. 

Yangyang mengirim serentet pesan pada Xiaojun. Memintanya membuat surat izin, beralasan sakit kepala. Juga mengatakan, ia akan kembali pada pelajaran kedua. Setelah sakit kepalanya mereda.  

INterlude [KUNYANG] || Present ; pria bercangkir biruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang