⛅EmpAtBElAs⛅

337 45 25
                                        



Comment dan Vote kalau kalian suka ceritanya~


Enjoy Reading Yeorobun ^-^


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


.

⛅⛅⛅

.


Johnny melirik Yangyang sekali lagi. Putra bungsunya tampak lebih pendiam. Sejak tadi lelaki yang masih menyandang Liu sebagai marga itu, hanya menusuk-nusuk daging panggang dengan garpu, lantas menatap sang lelaki cantik di seberangnya yang asik bernostalgia dengan sahabat semasa kuliah, Kun.

Lelaki jangkung itu menyadarinya sejak tadi. Saat melumuri daging dengan saus teriyaki yang lezat.  Dan tanpa ia tahu bagaimana, Johnny merasa familiar dengan sorot mata yang diperlihatkan Yangyang saat memandangi Ten.

Apa itu sorot mata yang sama dengan lima tahun lalu saat dirinya memperkenalkan sebagai kekasih istrinya sekarang?

Entahlah, tapi mungkin?

Ia bukan Doyoung. Lelaki manis, mengerikan dan punya kelebihan luar biasa, menghafal sesuatu dengan begitu cepat

Tatapan yang diberikan Yangyang merupakan tatapan dengan emosi yang tak jelas tergambar, antara kecewa, marah dan pasrah?

Pertanyaannya, kenapa Yangyang kembali melihat sang ayah yang disayanginya setengah mati seperti itu?

Satu sodokan perut dilayangkan secara tiba tiba. Membuat Johnny segera menoleh sambil menahan perih. Menemukan wajah Haechan dengan tatapan beringas sambil melirik Yangyang, lalu menggelengkan sedikit kepala, tersirat untuk berhenti memperhatikan adiknya.

Seketika mengingatkan Johnny akan siapa dirinya dimata Yangyang. Belum berubah sampai detik ini, masihlah sama, seorang brengsek.

"Aku selesai" Yangyang mendorong piring yang masih tersisa daging diatasnya, bersiap meninggalkan meja makan.

Haechan serta merta menahan Yangyang takala pemuda Liu itu mendorong kursinya, "Yangyang makannya sudah? Itu dagingnya belum habis.. dihabiskan dulu, nanti kita makan ice cream sama sama"

Pemuda Liu yang tangannya diganggam Haechan, melirik sebentar pada Ten. Meminta pertolongan.

"Yangyang capek? Mau kedalam duluan?" Ten bertanya lembut, sejenak membuat anestesi terpusat sepenuhnya pada lelaki cantik tersebut.

INterlude [KUNYANG] || Present ; pria bercangkir biruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang