[SLOW UPDATE!] [BxB] [Mature] [Agegap] [school] [InspiredBy jiji_laan keelunderlove]
Mau kuceritakan sebuah kisah? Tentang seorang laki laki yang bertekuk lutut pada pria berumur jauh diatasnya.
Rela mengubah hidupnya bahkan berani menghadapi apa y...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
⛅⛅⛅
.
Kun melepaskan kepulan asap lewat jendela yang terbuka lebar, masih sama, menghadap sport area. Namun kali ini, terlihat lebih cantik, dengan beberapa hiasan lampu led rangkai di sekeliling pembatas. Entah siapa yang memasangnya, Kun tak mau memusingkan hal itu, bukan urusannya tentu saja.
Selinting gulungan putih masih terjepit diantara kedua jemari Kun, ujungnya menyala merah, menimbulkan lapis asap tipis yang terbang kesana kemari. Seiring mulutnya mengeluarkan wujud sama, lebih tebal dan pekat.
Angin tampak enggan berhembus. Mungkin memahami Kun yang butuh kesendirian. Hanya berteman pemikiran yang menyerang. Tanpa ampun merasuk dan memporak-porandakan pertahanannya.
Ia bukannya menatap keluar untuk meratapi indahnya gemerlap warna warni di pagar sport area, atau sekedar mengeluarkan kabut buatan keluar jendela, agar tak menimbulkan bau tembakau dikamar. Tepatnya, ia lebih ke menyesali diri sendiri. Drama apa lagi yang dipersiapkan takdir untuknya kali ini?
Ia mencintai Ten, sahabatnya yang sudah berstatus sah menjadi pasangan orang lain, memiliki keluarga harmonis dan pastinya, bahagia.
Ia ingat bagaimana Ten masih sama mempesonanya dengan dulu. Tidak, lelaki itu kini sejuta kali lebih mempesona. Kedua bola matanya yang bersinar, alis tertata rapi, juga senyum berpedar dari bibir yang tipis, ah jangan lupakan selera fashionnya, meningkat drastis. Jauh dari penampilan sesuka hati ketika zaman kuliah.
Johnny pasti mengurus Ten dengan baik.
Lalu Yangyang, ia ingat perkataan Joshua dua belas jam yang lalu. Tentang mereka tak punya status jelas. Sebenarnya ini tak begitu mengusik, toh ia memang tak menyukai hubungan manapun yang diberi nama. Tak berminat membangunnya. Menekankan kata, hanya sebatas ini itu, agar tak kelewat batas.
Dan sepertinya, Yangyang sudah melewati zona teritorial yang ia bangun. Menjadi friend with benefit tetap, juga bebas melanggang diatas lantai apartemennya.
Sejujurnya, ia terkejut. Sarafnya seolah mati, tak mau bergerak ketika Yangyang muncul dibalik pintu yang terbuka. Bagaimana wajah riangnya, berganti cepat menjadi ekspersi dingin. Juga diamnya pemuda Liu itu sepanjang makan malam. Sisi yang belum pernah Kun lihat sebelumnya, karena biasanya, Yangyang selalu berisik. Menebarkan aura positif kemana pun ia melangkah.