⛅DuAPuLUh⛅

345 44 27
                                        


Comment dan Vote kalau kalian suka ceritanya~


Enjoy reading semua~~


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


.

⛅⛅⛅

.


Rintik hujan sudah sejak tadi turun. Hanya gerimis, nyaris tak berpengaruh apapun. Beberapa siswa tampak meributkan payung sejak dilorong. atau menelpon orang tuanya agar meluangkan waktu untuk menjemput. 

Yangyang melangkah ringan menuju halte sekolah, tubuh atasnya tertutup hoodie oranye yang diberikan Haechan, titipan dari Papi beberapa hari yang lalu. Mengabaikan basah yang mulai meluruhi.  Telinganya tersumpal musik pop yang terputar dari player disaku. 

Hanya rintik air bukan? Kecil, nyaris tak terasa pada permukaan kulitnya yang terbuka. Bukan hujan deras yang bisa terasa seperti dihujani ratusan anak panah. Sakit, membuat Yangyang cepat cepat berteduh. 

Dibelakang, Chenle tampak kesusahan membawa payung. Langkahnya berusaha mengejar Yangyang. Satu dua orang menyapa. Mungkin teman sekelas. Yangyang tak tertarik bertanya. 

Hingga, sebuah payung berwarna biru cerah menaungi Yangyang. Berhasil mengalihkan anestesi pemuda Lui tersebut dari jalanan yang cukup basah bercampur alunan merasuk tepat  dalam koklea, menghubungkan saraf langsung pada otak. Kali ini kedua matanya menatap sebuah objek bernama manusia dengan hidung mancung tengah tersenyum ke arahnya. 

"Nanti sakit" 

Yangyang balas tersenyum tipis. Membiarkan pria tinggi itu merapatkan tubuh. Sempurna berbagi payung. 

"Hanya rintik" Yangyang mengulurkan tangan keluar dari payung. Merasakan sensasi air jatuh ditelapaknya. 

Yang dengan segera ditarik kembali oleh Sungchan. 

"Justru karena itu, penelitian menujukan rintik hujan lebih berpotensi membuat sakit" Sungchan mengeluarkan saputangan dari saku, membersihkan tangan Yangyang dari tetes air. 

"Ke halte kan? Biar Ku antar" Sungchan melingkarkan lengan dibahu Yangyang. 

Melangkah beriringan menuju halte. Meninggalkan Chenle yan sejak tadi melotot, terkejut atas drama yang baru saja diterima retina. Menghentak hentak kesal, lantas menyusul, dari pada ia tertinggal bus dan tersesat karena tak tau rute perjalanan. 

Huh! Yangyang menolak berbagi payung dengannya, namun justru tak menolak lelaki tiang listrik itu! 

Eh, tapi tidak masalah sih, pacar Yangyang cukup tampan..

INterlude [KUNYANG] || Present ; pria bercangkir biruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang