⛅DUA~liMA⛅

265 46 52
                                        



Ayo pencet bintangnya dulu. Jangan lupa komen juga💚

.

⛅⛅⛅

.

Chanle mendengus. Menusuk tusuk ayam dengan garpu yang ia genggam. Dihadapannya seorang lelaki dengan wajah tampan tak terkrokoti usia tampak santai melahap. Mengabaikan dirinya yang menahan kesal.

"Kau sungguhan tidak mau ikut ke China?" Lontarnya, entah berapa kali pertanyaan ini keluar dari bibir cherry tersebut.

Sayangnya menuai jawaban yang sama, sebuah gelengan kepala.

"Papa berjanji memberikanmu apapun" Lanjut chenle.

Ah, selain misi brah brah memata matai restoran, ia juga harus sebisa mungkin menyeret lelaki ini pulang ke Negeri tirai bambu tempat kelahirannya. 

"Aku tidak tertarik dengan apapun yang ditawarkan Papa" Kun, sang pria dihadapan mencoba bersabar. 

"Aku punya resto yang cukup menghasilkan uang jika itu yang papa pikirkan"  lanjutnya, menyambung kata yang sempat terputus. 

Ia juga disini tengah berdamai dengan masa lalu, Ten. Mencoba tak lagi kabur dari kenyataan. Harus dihadapi, karena kini penopang hidupnya berada di Korea. 

Resto tentu...

Kun bukan lagi remaja yang bisa mengadahkan tangan pada sang Mama jika tak punya penghasilan. 

Kau pikir apa alasan lain selain uang? 

Papa menyogoknya dengan uang, berjanji bila ia mau kembali ke tanah kelahirannya, ia bisa mandi dengan lembaran kertas -yang sialnya bernilai- tersebut. Chenle mau mau nya kemari pasti juga karena uang. 

Manusia naif, persis dirinya. 

"Oke oke" Chenle berdiri mengalah, berniat mencuci tangan selaligus menghentikan topik sensitif yang diangkatnya di meja.

Berdebat dengan manusia keras kepala memang tak berguna.

Suara interkom bandara kini terdengar, menyapu gendang telinga Kun yang terbebas dari conteh Chenle. 

Ah pria itu sebelas dua belas dengan Yangyang, berisik bukan main. Setidaknya Yangayng masihlah begitu patuh terhadapnya. Chenle? 

Kun menggelengkan kepala, hanya bisa mengusahakan...

Setelah Chenle kembali ke China, ia punya banyak pekerjaan untuk pemuda bernetra obsidian itu. Mengingat bagaimana berantakannya jadwal yang ia susun sebelumnya. 

Satu potret keluarga dengan dua balita lelaki mampir di penglihatan sang lelaki dominan. Tampak tergesa menarik koper ditangan. 

Bibir Kun tertarik tipis, satu dua kenangan melintas mulus di otaknya. Dulu, sebelum sang ayah menghembuskan napas terakhir dan membuat semuanya bagai tak terbentuk. Merangkai langkah bencana yang sungguh tak disangkanya. 

"Halo calon pengusahawan, Qian Kun" 

Sebuah lambaian tangan di depan mukanya, memecah lamunan. Chenle dan tangannya yang kecil. 

"Ngomong ngomong, aku belum berpamitan pada Yangyang" lelaki berjaket abu itu berujar masam sambil menarik kursinya dan duduk kembali. 

"Kau membuat step belajarnya kacau" Kun ikut mengendus kesal. 

"Dia mengasikkan, setidaknya aku punya teman" Chenle memilih mengabaikan kalimat sarkasme yang diujarkan Kun barusan.

"Memang kau tidak punya teman di sekolah?" Kun mengerutkan dahi. 

INterlude [KUNYANG] || Present ; pria bercangkir biruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang