⛅Dua~DelAPaN⛅

272 42 55
                                        




Hal pertama yang Kun sadari ketika membuka mata adalah plafon sebuah kamar yang begitu terasa dekat. Doublebed dengan sprei bercorak salah satu lambang Club bola asal Spanyol rupanya menjadi tempat dimana ia bermalam. 

Kun merasa badannya sakit di semua sendi. Belum rahangnya yang serasa ingin lepas. Rasa berkunang kunang di kepalanya belum juga hilang, membuat Kun kembali memejamkan mata. 

Sayangnya, sinar matahari dari jendela besar itu menghalangi tidurnya. Yang pasti ini bukanlah kamar diapartmen.

Dan saat sadarinya lagi, tempat tidur ini bertingkat dan sebuah lemari ada dibawahnya. 

Arsitektur yang mengesankan, memandang betapa sempit ruangan persegi ini berdiameter. 

Sebuah siulan kini merambat masuk ke saluran rumah siputnya yang ada dalam telinga. Beriring dengan suara pintu terbuka.

Selanjutnya, derit dari tangga kayulah yang kini menjadi satu satunya suara di ruangan tersebut.

"Kau sudah bangun?" 

Kun menoleh, menemukan seorang lelaki dengan Surai blonde menatapnya dengan wajah jutek, Joshua Hong, lelaki jurusan psikologi yang kemarin baru saja memutuskan untuk keluar dari restoran yang ia kelola.

"Aku membencimu, tapi aku punya rasa manusia yang tak membiarkan seseorang tewas mengenaskan di salah satu Club mewah" 

"Temanku akan datang nanti siang, kalau dagumu tidak parah, dia akan mengantarkan mu pulang ke apartemen" Katanya. 

Kemudian, kembali keluar kamar. Meninggalkan Kun memproses semua yang terjadi sejak kemarin. 

Kun menarik napas lega. Setidaknya diri masih diberi nyawa cadangan. Ia sungguh tak menyangka jika superhero semalam adalah Josh.

Lelaki blonde itu masuk ke kamar membawa segelas susu coklat yang masih panas. Menyodorkannya paksa ke arah Kun. 

Ayolah Kun tidak terlalu suka susu coklat!

"Habiskan atau aku membuatmu benar benar masuk rumah sakit!"  Ucapnya, mengancam.

Mau tak mau, Kun menerimanya, meneguk hingga tandas sambil menahan napas. Lantas menyerahkan kembali mug kuning bergambar badut itu kembali ke tangan Joshua, yang diterima dengan tatapan kesal.

Teman yang dibicarakan Joshua datang lima jam kemudian dengan stelan casual. Memintanya membuka mulut, selanjutnya sibuk menekan tekan dagunya disana sini. 

"Tidak papa, lebam ini hilang sendiri sekitar seminggu, kau bisa istirahat dirumah selama itu oke?" Wonwo berujar, usai mengolesi memar memar merah ditubuhnya dengan gel. 

Heparin, saat Kun melirik bungkus alumunium gel yang digunakan. 

"Kompres juga dengan air es. setelah dua hari, lebamnya menjadi warna keungguan, ganti air esnya dengan air hangat"

"Itu normal?" Joshua bertanya.

Wonwo mengangguk. "Kalau mendadak tumbuh kecambah dari area lebamnya kau bisa hubungi rumah sakit" candaan ringan itu diluncurkan.

"Aku akan memastikanmu baik baik saja seminggu lagi" 

Wonwo membereskan kekacauan kecil di kasur dengan gambar Club bola tersebut. Bekas kapas, botol alkohol antiseptik, juga gulungan plester, barusan digunakannya untuk membersihkan beberapa bekas luka kuku tajam yang menancap dileher sang pasien.

Dokter yang cerewet, tapi ramah dalam satu pandangan. Cincin emas yang melingkar menghias jemari manis, menjadi identitas bahwa kepemilikannya telah mutlak ditangan orang lain.

INterlude [KUNYANG] || Present ; pria bercangkir biruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang