!tiga. satu!

408 32 22
                                        



Ini bukan pertama kalinya Yangyang sakit hati. Bukan pertama kalinya pula Yangyang berpikir ia hanya menggantungkan tali harapan pada takdir yang tak kunjung menunjukan tanda berbaik hati, terutama pada cinta pertamanya, Qian Kun. 

Pemuda itu menatap langit kamar, memikirkan tentang niat yang baru saja terlontar dari bibirnya diarea dapur pada Haechan. 

Bukan tanpa alasan sebenarnya, dan itu tetaplah bermuara pada satu hal, satu satunya pusat hidup Yangyang berputar. 

Masih jelas rekaman yang tak ingin ia ulang kembali, namun sial, otaknya enggan bekerja sama. Memutar terus menerus bak videoplay rusak. Mungkin jika otaknya adalah televisi 54 inchi seperti yang ada diruang tengah, ia akan dengan senang hati menggantinya. 

Well, kadang ia berharap juga bisa menukar otak bebal itu dengan sesuatu yang lebih berguna, ruang hati dari Kun contoh sedehana.

Sialan! Mengapa jadi memikirkan lelaki itu lagi?

Ayolah sadari dirimu hanya sekedar tempatnya bersenang senang, Liu. Dia bahkan tak sedikitpun mencarimu, atau berusaha apalah setidaknya menayakan kabar lewat gelembung pesan. 

Hahaha, cintanya justru baru saja bersenang senang.... 

Dengan.. jalang baru misalnya? 

tanda kemerahan dileher Kun tadi siang, jelas bukan bagian dari jejak fantasi. Meski tak terlihat jelas, namun Yangyang bersumpah tak ada maksud lain dari itu semua. Bahkan anak sekolah dasar pun dapat menebak apa itu.

Yangyang menertawakan diri sendiri bak manusia tak waras.  

Jadi selama ini ia hanya dipandang sebagai pelacur murahan yang tak mengenai tarif harga lantas setelah menghilang, segalanya tersudah begitu saja? 

Lantas lama kelamaan, tawa itu berubah menjadi aluanan tangis, dimana teredam dari balik selimut yang menutupi seluruh tubuh, dibantu bantal sebagai tameng, menjadi saksi bisu tentang cinta sebelah tangannya, begitu mengenaskan. 

Satu jam bergelut dalam perang air mata, dengan Haechan setia menunggui diluar, usai menjelaskan apa yang ia bisa jelaskan pada Ten. Lelaki itu pulang saat Haechan menelpon tentang Yangyang, bersikap tak biasa lantas mengeluarkan pertanyaan mengejutkan.. seperti Jerman? What the fuck!

Yangyang bangkit dari kasur, tetap membiarkan selimut melingkupi tubuh. Memastikan sambungan internet berjalan lancar, sebelum memutuskan tenggelam dalam paragraf demi paragraf yang tertera. 

Jika hidup Qian Kun bukan tentang dirinya, mengapa ia tak melakukan hal yang sama? 

Yangyang menyadari ia tak bisa selamanya berada dalam zona sekian. Jadi untuk kali ini, ia memutuskan pergi, kalau nanti kedua orang tua itu tak mengizinkan, ia punya ratusan tabungan dalam rekening Xiaojun, cukup untuknya sekedar kabur dan membuat identitas baru. 

Katakan terima kasih banyak Johnny untuk segala pengajaran tak langsungnya ketika hampitan Eropa menjadi tanjakan terjal yang memaksa Yangyang memperhatikan. 

Jerman... 

Ketika negeri tempatnya lahir ada untuk membuka tangan, mengapa tak ia sambut itu lantas menyembuhkan luka? 

Yangyang yakin untuk satu dua hal ia mengingat baik tiap sudut jalanan, mungkin sebagian besar berubah, sebagian besar lagi tidak. 

Nanti Yangyang akan memastikannya lewat salah satu layanan web terkemuka, usai urusannya selesai dan menemukan titik terang. 

Untuk beberapa minggu kedepan, Yangyang akan bersibuk ria dengan segala ujian kelulusan memusingkan. Ini bagus karena setelahnya ia hanya fokus pada jalan masuk kuliah seperti yang telah ia plan satu jam lalu. 

Ia akan bicara pada Ten dan Johnny, jika semuanya dapat dipastikan secara resmi oleh instalansi. 


-ooo-


"Jadi?"

Yangyang memutar bola matanya malas. Ini akan menjadi rekor luar biasa karena ia tak lantas berkunang-kunang tatkala melakukannya. Hal menyebalkan yang terjadi sekarang adalah, Xiaojun, pria bodoh itu hanya mengucapkan kata jadi berulang ulang. 

"Apakah kau tidak bisa membaca?"

Yangyang menaruh laptop merah kesayangnya di hadapan Xiaojun -dan Hendery sebenarnya, namun lelaki itu hanya diam dan tak meributkan apapun- dengan flap menyala menunjukan email dari kampus tujuan utama Yangyang. 

Xiaojun mirip idiot yang tak kunjung mengerti apa yang sebenarnya terjadi. 

"Kau sungguhan pergi ke Jerman?"

"Jadi kau pikir aku bermain main?"

Pukulan ringan Xiaojun layangkan untuk sang sahabat yang sejak tadi mendengus kesal. Ia sungguh tak menyangka kalau Yangyang benar melakanakan niat untuk pergi. Maksudnya, oke dia bertengkar dengan orangtuanya, tapi apakah tak terlalu kekanakan jika Yangyang memutuskan hal gila ini? 

"Kau hebat" Hendery berujar, menghentikan pukulan kedua Xiaojun. 

Lelaki yang kini memakai topi dan sweeter putih itu mengetuk etuk telunjuk pada meja. Sepasang bola matanya beralih menatap Yangyang, dimana pemuda Liu itu berada dalam cengkraman Xiaojun. 

"Tidak ada salahnya pergi, kau disana juga bukan untuk bersenang senang" 

Xiaojun merasa agak aneh dengan intonasi suara Hendery. Itu seperti terasa bukan Hendery Wong, si murid pindahan yang ceria dan gemar menyapa dengan segala tingkah konyol. 

 "Bagaimana tanggapan Ten?" Xiaojun memilih membelokan percakapan. 

Yangyang mengangkat bahu, ia tak punya ide apapun karena dalam kenyataan resmi, Ten ataupun Johnny tak tahu menahu tentang dirinya telah diterima, kampus ternama pula. 

"Aku sih tidak terkejut, kalau aku yang diterima disana, mungkin mama akan membunuhku saat itu juga sangking tidak percayanya" 

Itu tanggapan pertama Xiaojun tatkala Yangyang bercerita ia telah diterima di kampus luar negeri, dan bodohnya Xiaojun berpikir, hanyalah kampus di Hongkong atau Jepang. Maka ketika email itu dipamerkan, pemuda Guangdong benar benar bak manusia bodoh. 

"Aku belum memberitahu Ten, tapi aku pernah membicarakannya dengan Haechan dan mulut adikku itu pasti tidak bisa di percaya" 

Well, kaca membicarakan sebenarnya kurang tepat, karena sesungguhnya Yangyang hanya bertanya, dan itu tak menuai jawaban apapun. Bisu, dengan air muka Haechan keruh luar biasa. 

"Aku akan memikirkannya nanti"

Yangyang menarik kembali laptop, memasukanya pada rensel lantas menarik kursi. Disusul Xiaojun yang bergerak mengekori. 

Hendery menarik seutas senyum tipis, "Itu tidak buruk, tapi aku sebenarnya berharap dia  disini lebih lama"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 15, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

INterlude [KUNYANG] || Present ; pria bercangkir biruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang