⛅dua~EmPat⛅

265 43 27
                                        

Kangen ya???

Hehe



Han sibuk menelpon sana sini. Mondar mandir dihadapan Lino yang sejak tadi mematung syok diatas kursi koridor. Sama sekali tak terpengaruh ribuan umpatan yang dilayangkan sang pacar ditelepon.

 Felix baru saja bergabung dengan keduanya, mengutak atik ponsel putih milik Yangyang ditangan. mencoba merentas guna menghubungi siapapun yang sekiranya bisa dihubungi. 

Felix beberapa kali melirik Han, lantas melempar tatapan meminta maaf pada orang lewat. Ketiganya ada dalam lorong sepi rumah sakit. Sengaja dipilih Han supaya tak ada yang mengganggunya untuk memaki.

Yangyang masih ada dalam ruangan gawat darurat. Pelipisnya berdarah terbentur setir. Han yang menyelamatkan, merangkai pertolongan pertama yang ia bisa.  

"Bajingan Xiaojun! Dia tak tau kalau sahabatnya itu sekarat hah?"

Felix tersenyum tipis, Xiaojun mana tau Han, dia kan belum menjawab telepon. 

"Chris?" Felix melayangkan pertanyaan, setidaknya mengalihkan lelaki berpipi tupai itu dari memaki barang sedetik. 

"Dia dibusan, terakhir sedang mencari tiket kemari, bagaimana ponsel Liu?"

"Sedikit lagi, aku berusaha agar datanya tidak hilang dan merusak kontak"

Felix tiba usai meluruhkan emosi, juga mengurus ini itu tentang pertaruhan. Mobil Yangyang sudah diderek satu jam yang lalu. Sungchan dan Changbin mengambil peran membubuarkan penonton. Lantas bersama beberapa yang lain, membereskan kekacauan yang terjadi. 

"Lihat!" Falix memamerkan wallpaper Yangyang, seorang lelaki yang memunggungi kamera, menatap langit yang terhampar. 

"Pacarnya kupikir?" Felix nyaris tertawa, hal clingy. 

Han hanya mendengus, masih berusaha menghubungi Xiaojun yang sial -terus menerus menolak pangilannya.  Tangannya yang lain menyodorkan sebotol air mineral pada Lino, mencoba menawarkan ketenangan.

"Hei, Han, kupikir Liu sudah tak punya orang tua?" Felix kemudian  menunjukan flap Yangang menyala, menampilkan deretan pemilik kontak. 

"Kontak pertamanya, diberi nama Papi" Felix melanjutkan

"Jangan hubungi yang itu!" Han sontak panik. "Kita tak tau Liu terus terang pada orangtuanya atau tidak. Jangan membuatnya semakin ada dalam kondisi sulit"

"Jadi aku harus hubungi yang mana?"

Han ikut menatap ke jejeran nama vertikal dalam daftar. Jemarinya usil menggerakkan 

"Tunggu sebentar" Han menjentikan jari, meraih ponselnya sendiri. Lantas menekan sambungan video ke ponsel diseberang. 

Wajah tampan seketika Chris terlihat memenuhi layar. "Ada masalah? Aku sudah di kereta" 

"Kau pikir kita harus menghubungi yang mana Cris?"

"Ya Tuhan! Kalian menelpon ku hanya untuk menanyakan itu?"

Han nyengir kuda. Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. 

"Ya, sudah, bacakan!"

Felix merebut ponsel Han, tangan lainnya menggulirkan falp Yangyang. Membacakan satu persatu nama yang tertera. Papi, Echannie, D Bodoh,... terus bergulir seiring Chris berkata jangan pada setip penyebutan Felix.

"Johnny?" Felix bertanya. "Aku tak pernah mendengarnya sebelum ini"

"Hei Han! Kau pernah dengar Liu bercerita soal Johnny?"

INterlude [KUNYANG] || Present ; pria bercangkir biruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang