05 | de javú

17.1K 2.3K 31
                                        

Semua orang pun tampak mondar-mandir untuk mencari siapapun yang bisa dijadikan pasangan. Bahkan, tak peduli jika pasangan mereka sama-sama perempuan atau laki-laki.

Aku masih terdiam di tempat yang sama karena apa yang baru saja dikatakan Renatta membuat otakku nge-blank. Dan saat hitungan Renatta memasuki angka lima, rasa panik langsung menyiram ujung kaki sampai kepala.

"5 ... 4 ... 3...."

Shit, shit, shit! Gue bakal bunuh Debby karena ngajak gue ke pesta sinting begini! Tolong aku butuh mantra yang bisa membuatku menghilang dari bumi saat ini juga!

Hingga di hitungan ke satu tiba-tiba seseorang menarik pinggangku, sehingga punggungku bersandar di dada lebar orang itu.

Lalu suara yang begitu familiar berbisik pas di telingaku, "Breath, Dewi."

Dan seperti baru saja dikeluarkan dari ruang yang sangat sempit, aku pun menghidu udara dengan brutal. Sehingga paru-paruku kembali terisi udara, dan rasa panik yang menyerangku hilang entah ke mana. Perlahan-lahan aku juga berhenti melukai jari jempolku sendiri, sehingga kini yang terasa adalah rasa perih yang tertinggal di sana.

Bayu memutar tubuhnya sehingga kini kami berhadapan, lalu ia mengalungkan kedua lenganku di lehernya sehingga jarak kami jadi sangat dekat. Sehingga aku dapat menghidu aroma tubuhnya dan menatap matanya yang satu warna dengan arang itu.

Lagu yang tadinya diputar menghentak-hentak kini berubah menjadi lagu A Thousand Years milik Christina Perri. Semua orang tampak berdansa dengan pasangan masing-masing dan anehnya tidak ada yang tidak dapat pasangan di sini. Jadi, nggak bakalan ada yang jadi stripper dadakan setelah ini.

Aku harap Bayu tidak memperhatikan perilaku anehku tadi. Karena ternyata kebiasaan burukku saat panik masih saja sama. Orang normal pasti dengan cepat bakal mencari pasangan, bukannya diam di tempat dan lupa cara bernapas.

"Meh, A Thousand Years, pasti Renatta Sudiro juga suka Games of Thrones, Narnia, lalu nonton ulang Avatar 2009 pas kemarin diputar ulang di bioskop."

Sambil mengikuti langkah Bayu aku memutar bola mata malas. "Lo masih aja julid kayak dulu."

"Ah, jadi sekarang kita berhenti main games 'pura-pura nggak kenal'?"

"Dan lo masih sama menyebalkannya kayak dulu."

"Dan lo ... Banyak berubah."

Aku pun langsung tertawa sinis. "Why? Karena sekarang gue nggak gendut kayak babi dan muka gue udah nggak jerawatan lagi?"

"Lo yang sekarang kalo ngobrol berani natap mata gue," jawab Bayu tak menjawab pertanyaanku.

Lalu mata hitam arang itu menatap mataku dengan intens. Mata itu begitu menghipnotis, sehingga aku tidak bisa mengalihkan pandanganku.

Katanya mata tidak bisa bohong, dan aku benar-benar takut untuk tahu makna dari tatapan makhluk berkromosom XY di depanku ini hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengalihkan pandangan lebih dulu.

Harus aku akui aku memang pedansa yang buruk. Apalagi heels yang aku pakai juga sangat menyiksaku, hingga aku berulang kali oleng dan hampir jatuh kalau saja Bayu tidak menahan tubuhku.

"Nggak semua cewek berjodoh dengan heels, dan nggak harus maksain itu," komentar Bayu yang sontak membuatku kembali menatap mata hitam arang itu.

"Hah?" tanyaku dengan kening berkerut.

"Lo nggak perlu maksain pake heels kalo bikin kaki lo nggak nyaman."

"Sorry, tapi gue nggak butuh pendapat lo."

Namun sial, sepertinya saat ini dewi fortuna yang namanya sama denganku sedang tidak berpihak kepadaku. Karena saat aku menggerakkan kakiku untuk terus berdansa, tiba-tiba tali heels-ku putus, sehingga aku betulan jatuh dan wajahku menubruk dada pria itu.

***

Aku masih terlalu malu untuk menatap ke arah Bayu sehingga sejak tadi aku berusaha untuk mengalihkan pandangan dengan melihat ke arah gedung-gedung Jakarta yang tampak begitu kecil dari atas sini.

Setelah kejadian memalukan tadi, Bayu langsung menuntunku keluar dari pesta sehingga kami ada di sudut lain rooftop yang sepi.

Kakiku rasanya lega karena akhirnya lepas dari sepatu neraka itu, dan ya bisa ditebak kalau saat ini kakiku lecet dan merah sana sini. Sial, aku bisa membayangkan kalau besok kakiku bakal sangat perih saat terkena air.

Bayu menghampiri bodyguard bar yang baru saja datang sambil membawa kotak P3K. Lalu ia berjongkok di depanku dan mulai mengobati lukaku.

Aku meraih tangan Bayu dan berkata, "Gue bisa sendiri, Bay."

"I know you can, but let me," ujarnya seraya meraih kakiku dan aku tahu aku bisa terus menolak, tapi tidak ada yang keluar dari mulutku. Dan saat aku melihat Bayu dengan posisi ini, aku jadi merasakan de javú. Karena ia juga pernah ada di posisi yang sama, bertahun-tahun sebelumnya.

fortnight (completed) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang