Setelah perpisahanku kemarin dengan Reza, aku begitu sedih tapi juga lega. Perasaanku rasanya lebih ringan. Tetapi tetap saja, rasa bersalah dan penyesalan masih membelenggu jiwa. Mungkin akan terus menghantuiku selamanya.
Hari ini aku akan bicara dengan Debby, karena aku masih punya satu pengakuan lagi. Aku membawa chicken wings dan pepsi ke kamar sahabatku itu. Saat patah hati kami memang biasa menghibur diri dengan dua makanan ini. Selalu begitu sejak dua tahun lalu kami tinggal satu atap di kosan ini.
Aku mengetuk pintu kamar Debby. Tak menunggu lama gadis itu langsung membuka pintu apartemen. Aku menatap Debby lama, penampilan gadis itu tampak berantakan. Lingkaran hitam di bawah mata, bibir pucat, rambut super messy, dan wajah berminyak. Padahal Debby tidak pernah lupa melakukan skincare routine setiap malam. Jadi, walau bangun tidur pun biasanya gadis itu tetap glowing.
Debby membuka pintu lebih lebar. "Ya, ya, ya, gue tahu kalo penampilan gue mirip gembel. Tapi lo nggak perlu natap gua segitunya kali! Sini masuk!”
Aku menuruti perintah Debby dan masuk ke kamar gadis itu. Lalu, aku terpaku di depan pintu kamar. Baru kali ini aku melihat kamar Debby seperti kandang babi. Benar-benar super berantakan.
Diiringi lagu-lagu galau dari album Sour-nya Olivia Rodrigo Debby memunguti kaos kaki, hoodie, dan selimut yang semuanya berserakan di lantai. Setelah menaruh semua pakaian kotor itu di keranjang yang tersedia, Debby langsung mengambil tote bag yang aku bawa. Gadis itu duduk bersila di lantai, lalu mengeluarkan box berisi chiken wings dan meminum pepsi langsung dari botolnya.
“Deb, you look like shit.”
Debby menelan ayam yang ada di mulutnya. Lalu mengamati wajahku serius. "Sama, lo juga look like shit,” ujar gadis itu yang akhirnya membuat kami tertawa bersama. Untuk menertawakan penampilan kami yang benar-benar seperti gembel dan nggak ada cantik-cantiknya.
Lalu, aku mengambil botol pepsi yang tadi diminum Debby. Aku meminum cairan biru itu dua tegukan. Aku mengelap bibirku dengan punggung tangan, mengambil chicken wings dari dalam box, lalu makan dengan rakus diiringi Enough For You-nya Olivia Rodrigo.
Untuk beberapa saat kami hanya makan ayam dengan rakus hingga membuat tumpukan tulang di tutup box. Hingga akhirnya Debby membuka pembicaraan. "Gue ditolak Bayu.”
Sontak aku menghentikan kunyahan ayamku lalu menelan ayam itu susah payah. "Lo apa?" tanyaku masih tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar.
“Yaelah nggak usah kaget gitu deh, Wi. Lo kan tahu gue bukan pengikut sekte 'nggak ada sejarahnya sel telur ngejar sperma'. Ya, jadi gitu. Kemaren gue ngajak Bayu makan malam, ngobrol gaje, nembak dia, terus ditolak."
"Deb ... lo okay?"
Debby menggeleng, mata gadis itu tampak memerah. "No, I'm not okay. But It's okay. Penolakan selalu menyakitkan itu nggak bisa dipungkiri. Tapi dengan ditolak tegas begini gue juga jadi tahu harus gimana selanjutnya. Jadi, gue nggak terjebak di harapan palsu terus-terusan. Dan Bayu cinta lo, Wi. Kemaren dia bilang ke gue. Itu alasan dia nolak gue.”
“Deb, nggak gitu. Gue sama Bayu nggak ada hubungan kayak gitu. Oke, gue sama Bayu emang bikin kesalahan. Tapi gue nggak mau nyakitin lo—"
"Wi, kenapa lo harus nyakitin gue hanya karena Bayu cinta sama lo?" potong Debby. "Oke, gue emang jatuh cinta sama Bayu. Tapi gue bukan cewek psikopat anjir! Gue nggak bakal maksa Bayu bales perasaan gue. Karena perasaan kan emang bukan sesuatu yang bisa dipaksa. Lo tahu, Wi, apa yang bikin gue kecewa parah? Bukan karena lo sama Bayu saling mencintai. Bukan karena lo mencintai cowok yang gue taksir. Yang bikin gue kecewa adalah ... Kenapa lo mikir hanya lo yang nggak mau nyakitin sahabat lo sendiri? Memangnya selama ini, lo nganggap gue apa?
"Kalo lo nggak mau nyakitin gue, berarti gue juga nggak mau nyakitin lo, Wi. Oke, gue bakal patah hati karena lo sama Bayu saling mencintai. Tapi ya udah. Sebatas itu aja. Kita bakal tetep sama. Bakal tetep temenan, hang out gaje setiap minggu, pajamas party, nobar drakor. Nggak bakal ada yang berubah."
Aku memeluk Debby erat lalu menangis dipelukan gadis itu. "Thanks, Deb, karena tetep pengertian sampe akhir. Gue cuma nggak mau mengecewakan banyak orang, tapi pada akhirnya gue malah ngecewain semuanya. Gue nggak tahu harus apa. Gue udah minta maaf sama semuanya. Tapi yang udah hancur nggak bakal bisa kembali lagi, kan? Di saat gue mikir bisa membahagiakan semua orang, nyatanya gue malah nyakitin mereka semua. Gue nggak tahu harus gimana, Deb...."
Debby menepuk-nepuk punggungku. "Yang harus lo lakuin adalah berdamai dengan semuanya. Lo emang nggak bisa menyatukan lagi semua yang hancur, Wi. Tapi lo bisa menjaga yang belum hancur. Yang udah berlalu biarlah berlalu, pastiin aja lo nggak bakal ngelakuin hal yang sama di masa depan. Hidup dengan baik. Gue pikir itu yang harus lo lakuin."
Benar kata Debby, aku tidak bisa kembali ke masa lalu dan mengubah alur takdir. Yang harus aku lakukan adalah hidup dengan baik; jadi pribadi yang lebih baik.
“Debby, maaf dan terima kasih banyak. Gue yakin, suatu hari nanti, pasti ada cowok yang lebih baik buat lo. Dan selalu bikin lo bahagia.”
Debby mengangguk seraya tersenyum kecil. “Lo juga harus bahagia oke, Wi? Kebahagiaan lo sendiri itu yang paling penting. Dan jangan terlalu ngerasa bersalah karena udah mengecewakan semua orang, apa yang kamu tanam itu yang kamu tuai, mungkin kita semua hanya sedang menanggung risiko dari pilihan masing-masing. Lo, Gue, Reza, Anna, Bayu, semuanya hanya sedang menuai apa yang kita semua tanam," jelas Debby yang membuat dadaku rasanya jauh lebih lega. Tidak mungkin ada asap jika tidak ada api. Segala hal di dunia ini, mau hal baik atau hal buruk semuanya ada sebabnya.
"By the way, ini buat lo," ujar Debby seraya memberikan sebuah tiket pameran. Ya, tiket pameran lukisan Bayu besok.
“Lo bakal dateng, kan?"
Aku mengangguk seraya tersenyum. "Tentu, gue nggak mau lagi tenggelam dalam penyesalan.”
Kali ini, biar aku yang memastikan sendiri kalau kami akan berpisah dengan benar.
KAMU SEDANG MEMBACA
fortnight (completed)
RomanceHanya perlu dua minggu untuk menghancurkan hubungan dua tahun. Hanya perlu dua minggu untuk menjungkir balikan hidup dan perasaan seseorang. Hanya butuh dua minggu dan semua hancur berantakan. Menurutmu cinta itu apa? Dewi pikir hubungan dua tahunn...
