Aku menguap lebar, lalu meraih ponsel yang ada di nakas. Baru pukul satu malam. Seharusnya alarmku bakal menyala satu setengah jam lagi.
Aku mematikan ponsel dan kembali mencoba tidur, tapi mataku tetap tidak mau terpejam. Akhirnya aku memutuskan bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke dapur untuk membuat cokelat panas.
Setelah cokelat panasku jadi, aku pun pergi ke atap. Percayalah pemandangan di atap saat malam hari begitu indah. Sehingga tidak menakutkan sama sekali walau sekarang baru saja lewat tengah malam.
Sesampainya di atap aku segera duduk di bangku yang tersedia. Lalu memandangi ratusan rumah yang tampak bercahaya dari atas sini. Walau bintang-bintang tidak nongol sama sekali. Entahlah, mungkin polusi Jakarta yang sudah begitu parah membuat para bintang minggat ke daerah lain.
"Ngapain lo malem-malem di sini?" tanya seseorang yang membuatku menolehkan kepala ke belakang. Terlihat Bayu yang tengah berjalan ke arahku sembari membawa cangkir yang terlihat mengepul.
Aku merapatkan selimut yang membungkus tubuhku. "Gue nggak bisa tidur. Lo ngapain ke atap?"
Bayu duduk di sampingku. Lalu meneguk cairan putih dalam cangkirnya yang aku tebak adalah susu. "Gue juga nggak bisa tidur.”
"Jam satu malem nggak bisa tidur. Biar gue tebak, penyakitnya para millennials, pasti overthinking.”
“Nope. Gue belum tidur karena lembur.”
"Meh, jadi lo penganut kkt—alias kerja-kerja tipes? Benar-benar nggak sehat. Mungkin kalo malem lo harus nyalain alarm biar tahu kapan berhenti ngelukis.”
“I'll try. Makasih udah khawatir,” ujar Bayu dengan wajah jahil yang sontak membuat aku memutar bola mata malas.
“FYI—capslok; GUE NGGAK KHAWATIR.”
Lalu, aku juga ingin berteriak kalau aku nggak peduli dengan pria itu. Namun, nyatanya, keberadaan Bayu sejak awal tidak bisa aku abaikan. Setiap sentuhan, setiap komentar pedas dan penilaiannya, setiap tawa dan tatapannya, membuatku tidak bisa berhenti memikirkan pria itu akhir-akhir ini.
Membuat aku jadi sulit tidur, membuat aku mengenang masa lalu, membuat aku tidak fokus kerja, dan membuat aku menginginkan hal yang seharusnya tidak pernah boleh aku pikirkan. Bahkan, dalam mimipi paling busukku sekalipun.
Bayu mengangkat kedua tangannya ke udara sambil tertawa. “Fine, nggak perlu pake capslok segala kali! Tapi serius, ngapain lo malem-malem di sini? Lo nggak lagi nunggu pacar tuyul lo buat ngajakin kencan, 'kan?" tanyanya bercanda.
“Nggak lucu!” sahutku sambil cemberut yang malah membuat pria itu semakin tertawa renyah. Jenis tawa yang diam-diam membuatku tersenyum di balik cangkir berisi cokelat yang aku minum.
Lalu ia menatapku serius. “Gue tahu lo nggak mau bahas ini lagi. Tapi gue beneran mau minta maaf sama lo. Maaf karena gue udah lancang baca jurnal pribadi lo. Maaf karena udah seenaknya komentarin hidup lo dan nge-judge lo macem-macem. Maaf karena gue udah lancang. Dan kalo denial emang bikin lo happy. Yah, I think it's enough.”
Ada rasa sesak yang bercokol di dada saat Bayu bilang asal aku bahagia maka semuanya sudah cukup. Tapi apa aku benar-benar bahagia? Kenapa bahagia bisa semenyakitkan ini?
Aku mencoba mengusir semua tanya di kepala. Lalu menatap Bayu dengan tatapan curiga—yang tentu saja hanya bercanda.
“Idih gue jadi merinding. Ini beneran Bayu, kan? Lo nggak lagi kerasukan,'kan?" Lalu kemudian aku memutar bola mata malas. "Ah, lo nggak minta maaf karena pas SMA suka gangguin gue, nggak minta maaf selalu nyebut gue Sailor Moon, dan nggak minta maaf karena nuduh gue cosplay jadi stabilo. Jadi, fix 100% lo emang Bayu. Gue aja yang bego pake nanya segala.”
Bayu terbahak yang sontak membuatku juga terbahak. Lalu kami tertawa bersama, seperti akhirnya kami berbincang seperti teman lama yang sudah lama tidak bertemu.
“Karena gue udah lancang baca jurnal lo. Gimana biar adil lo juga tahu rahasia gue?”
“Hmmm, biar gue tebak. Rahasia menariknya seorang Bayu Soeharjanto; pacar lo lebih dari 3 orang?” tanyaku dengan senyum jahil yang biasa dilakukan oleh pria itu.
Bayu langsung cemberut. “Udah gue bilang, sejak delapan tahun lalu gue cuma cinta sama satu orang, Dewi. She's my first love.”
Aku menatap pria itu masih dengan sisa-sisa tawa. "Pfft ... gue nggak tahu kalo lo bisa menye-menye juga. First love never dies. Cuma sayangnya sebagian cinta pertama itu nggak berhasil, Bay. Ya, realita emang kejam."
Bayu menghela napas panjang—tampak begitu berat saat menghidu udara yang ada di sekitarnya. “Ya, mungkin sekarang saatnya gue menghadapi realita. By the way ... hari ini gue ulang tahun."
"Serius?"
“Gue tahu lo bakal lupa. Tapi tahu kalo lo lupa beneran, kok gue kesel, ya? Padahal gue selalu inget ulang tahun lo, Wi. Seriously-lah, kita pas kelas 12 itu duduk bareng setahun!”
Aku meringis sambil berbisik ‘sorry’ tanpa suara. Yang sontak membuat Bayu tertawa renyah.
“It's fine. Tapi sebagai permintaan maaf lo, gimana kalo lo neraktir gue?”
“Heh, bukannya kebalik!”
“Oke, mau keluar bareng besok? Gue traktir.”
“Sorry, kayaknya kalo besok nggak bisa. Gue mau jalan sama Reza,” tolakku tanpa berani menatap Bayu. Karena aku nggak mau melihat ekspresi pria itu saat mendengar penolakanku.
“Yah, mungkin lain kali.”
Walau lain kali itu, mungkin nggak akan pernah terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
fortnight (completed)
RomanceHanya perlu dua minggu untuk menghancurkan hubungan dua tahun. Hanya perlu dua minggu untuk menjungkir balikan hidup dan perasaan seseorang. Hanya butuh dua minggu dan semua hancur berantakan. Menurutmu cinta itu apa? Dewi pikir hubungan dua tahunn...
