good bye and see you again (End)

2.8K 94 1
                                        

Sebelum turun dari kamar aku memastikan penampilanku sekali lagi lewat cermin. Hari ini aku tidak berdandan berlebihan. Hanya memakai make up tipis-tipis tapi membuat wajahku lebih cerah. Mungkin hari ini adalah hari terakhirku bertemu Bayu sebelum pria itu pergi, makanya aku sedikit berdandan. Aku berjuang keras menghilangkan lingkar hitam di bawah mata, untungnya make up membuat mata pandaku tak terlihat begitu mengenaskan.

Hari ini perasaanku jauh lebih ringan dari beberapa hari belakangan. Ternyata semua kekhawatiranku selama ini sama sekali tidak berdasar. Sejak kemarin aku terus berpikir tentang kata 'andai'. Tetapi kita semua tahu jika masa lalu tidak pernah bisa diubah, makanya aku berusaha untuk berdamai dengan diriku sendiri. Mendatangi pameran lukisan Bayu adalah salah satu caranya. Aku berdamai mulai dari sini.

Aku membuka pesan masuk dari Riza. Bocah SMP cerdas itu memberiku list drama dan series yang menurutnya bagus dan tentu saja merupakan seleraku. Oh, ya, hubunganku dengan Riza memang tidak berubah sama sekali. Walau aku membatalkan pertunangan dengan kakaknya.

Pas tahu aku dan Reza putus, malamnya Riza langsung menghubungiku jika bocah itu memberiku paket Netflix untuk tiga bulan. Riza bilang ia membelinya dengan memotong uang sakunya selama dua minggu, makanya daripada ngegalau terus, mantan calon adik iparku itu memintaku untuk maraton Netflix saja.

Hubunganku dengan Mama dan Papa Reza juga tidak berubah. Kemarin aku main ke sana karena mama mengundangku untuk dinner. Kemarin aku juga bermaksud menjelaskan semuanya, tapi mama hanya memelukku erat dan mengatakan jika mama paham dan mengerti, jadi aku tak perlu menjelaskan apa-apa lagi.

Papa Reza hanya banyak diam saat makan malam kemarin, pria paruh baya itu kentara sekali sangat kecewa, tapi ia juga tetap memperlakukanku dengan baik. Tanpa menuntut penjelasan macam-macam. Sepertinya Reza menjelaskan dengan sangat baik alasan kami memutuskan pertunangan tiba-tiba.

Hubunganku dengan Anna masih dingin. Di Twogether juga kami memilih saling menghindar saat bertemu dan memilih saling bungkam  saat sarapan. Tetapi sekarang semua jauh lebih baik. Anna masih mau memasakkan makanan favoritku, aku pun begitu. Mungkin kami butuh waktu sedikit lama untuk berdamai. Untuk saat ini, biar kami saling intropeksi diri dulu.

"Wi, lo udah beres belum? Gue udah siap, nih!"

"Iya, gue turun!"

Sesampainya di lantai bawah aku langsung mengambil flatshoes di rak dan memakainya. Setelah itu aku segera menghampiri Debby yang tengah mengeluarkan mobil dari garasi. 

Lalu aku naik ke dalam mobil. Setelah seat belt terpasang sempurna, Debby segera melajukan mobilnya ke Senayan—tempat Bayu melakukan pameran. Tepatnya di Galeri Seni Soeharjanto, Senayan. Gedung pameran milik keluarga Soeharjanto ini tidak begitu jauh dari komplek Istora.

Seperti biasa Jakarta selalu berteman akrab dengan kemacetan, sehingga mungkin aku dan Debby bakal telat sampai di pameran. Apalagi pameran lukisan Bayu kali ini lumayan besar. Sampai mengundang gubernur Jakarta. 

Untungnya aku dan Debby bisa sampai di pameran tepat waktu. Walau tadi harus tertahan di pintu gerbang galeri cukup lama. Untuk cek identitas dan menukar tiket dengan id card peserta. Setelah memakirkan mobil kami segera memasuki gedung pameran yang sudah sangat ramai. Kebanyakan dari mereka memuji lukisan Bayu yang memang sangat bagus dan punya nyawanya sendiri.

Aku dan Debby menghampiri Jonathan yang sudah datang lebih dulu. Jonathan tengah mengobrol santai dengan Bayu juga Reza. Sebenarnya aku cukup kaget karena melihat Reza di sini. Tetapi aku lebih kaget lagi saat melihat wajah ketiga pria yang berdiri di depanku ini ... bonyok.

Wajah Bayu, Jonathan, dan Reza dipenuhi banyak lebam biru yang cukup kentara. Tetapi lebam di wajah Bayu yang paling parah. Lebam di wajah Reza tidak sebanyak Bayu, sedangkan lebam di wajah Jonathan hanya ada satu dua. 

fortnight (completed) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang