10 | i don't like you

13.1K 1.9K 49
                                        

Saat aku membuka mataku, hal pertama aku lihat adalah Wina yang tengah duduk di samping ranjang sambil mengaduk segelas teh sehingga aroma teh yang sangat khas langsung memenuhi ruang.

"Morning, sleeping beauty," ujar gadis itu seraya membantuku bangun dari sofa.

"Thanks, walau gue tau lo boong. Karena pasti sekarang gue kusam, buluk, dan rambut gue kayak singa," ujarku seraya memutar bola mata malas.

Wina langsung tertawa ngakak. "Itu fakta, karena sekarang you look like shit."

"Ha ha ha, terima kasih validasinya," ujarku seraya tertawa sarkas-bermaksud bercanda. Lalu dengan ekspresi tak enak aku berkata, "Sorry, ya kalo gue ngerusak acara makan malam lo sama keluarga lo tadi malam."

"Santai aja, Dewi. Lagian kayak sama siapa aja sih lo. Dan gue juga pas ke sini semua udah beres. Bayu udah panggil dokter dan lo udah lagi istirahat."

"So, penghuni barunya ternyata Bayu? Makanya waktu itu lo bilang 'aman berarti'," ujarku seraya memutar bola mata malas.

"Gue nggak tau ada history apa lo sama dia. Tapi Bayu cuma bakal tinggal di sini selama 2 minggu, kok. Jadi, kalian baik-baik, okay?"

"Jujur aja, it's me-I'm the problem, Win. Karena ternyata gue yang masih terbelenggu di masa lalu."

"It's okay, Dewi. Sembuh memang butuh waktu. So, take your time, babe. Tapi serius sih, tension-antara lo dan Bayu itu kinda weird. Dan gue rasa itu nggak ada hubungannya sama masa lalu."

"Ssttt ... Shut up! Yang jelas gue sama Bayu cuma satu sekolah pas SMA. Udah gitu aja. Dan Win, gue rasa gue harus ketemu Mbak Hanum lebih cepet daripada tanggal konsul gue bulan ini."

Wina langsung mengangguk mengerti. "Sip, kalo jadwalnya Mbak Hanum kosong gue kabarin lo, okay? Nah, sekarang lo minum obat, terus istirahat lagi."

Aku meminum obat yang disodorkan Wina dan berkata, "Thank you, Wina."

"You're welcome, Wi."

Setelah itu rasa kantuk menyerangku dan aku pun kembali ke alam mimpi.

***

Saat bangun tidur tubuhku sudah terasa lebih baik. Dan perutku yang keroncongan memaksaku untuk segera kabur ke dapur.

Mengabaikan Bayu yang tengah duduk di kursi meja makan sambil meminum teh, aku pun segera memakan bubur sumsum yang sudah tersedia di meja. Sebelum tidur tadi, aku memang sempat memesan bubur ini kepada Wina

"How do you feel, Wi? Better?"

"Tadi gue udah better. Tapi gue yakin banget, setelah liat lo, darah gue pasti langsung naik!"

Bayu tertawa kecil. "Baguslah, kalo udah bisa ngomel gini, berarti lo udah sembuh."

"Dan gue mau protes. Seriously, Bay, pindahan jam 2 pagi? Emang cuma lo doang manusia sinting yang bakal ngelakuin itu!" protesku seraya memutar bola mata malas.

Ekspresi jahil Bayu berubah serius. "Tapi gue bersyukur karena semalem gue pindahan jam 2 pagi. Soalnya, kalo gue nggak dateng-keadaan lo bisa lebih parah, Dewi. Untungnya semalem lo nggak harus ke UGD. Mana ponsel lo?"

"Buat apa?" tanyaku dengan kening berkerut.

"Masukin nomor gue sebagai nomor darurat-"

"No, thanks. Dan lain kali jangan pake cangkir itu please!"

"Why?" tanya Bayu dengan senyuman jahil.

"Because I don't like you."

"Wow ... That's hurt."

"Sorry not sorry."

Dan bukannya tersinggung karena perkataanku, lagi-lagi Bayu tertawa. "Gue tau cangkirnya punya lo, Wi. Makanya gue pakai."

Guys, maaf ya, chapter awal pendek-pendek dulu. Soalnya Sa masih ngatur alur-sumpah ya ... Versi revisi selalu lebih sulit daripada langsung nulis ide fresh dari kepala. Terus Sa juga harus nulis cerita sebelah, tapi cerita sebelah hampir tamat sih. Jadi, abis itu bakal fokus ke cerita ini. Semoga tetap bisa terhibur, ya!

Terima kasih sudah membaca!

Sa,
Xoxo.

fortnight (completed) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang