Pagi ini suasana meja makan Twogether tidak seperti biasanya. Tanpa kehadiran Alexandre atau Wina; space di meja makan jadi bertambah. Tapi walau begitu meja makan masih saja ramai, karena ada Debby yang nggak bisa terus mengoceh soal cowok di Bumble yang baru saja meng-ghosting-nya padahal ia sudah mengetik panjang-panjang dengan antusias.
“Si sialan! Dikira gue ngetik kagak pake tenaga kali, ya!” ocehnya sambil memasukkan nasi goreng buatan Bayu ke piring.
Hari ini Bayu memang menawarkan diri untuk memasak. Pria itu memasak nasi goreng sea food—yang merupakan makanan favoritku—hingga sejak tadi aromanya sudah membuat perutku keroncongan, tapi aku menahan diri mati-matian untuk nggak terlalu makan dengan semangat karena gengsi di depan Bayu.
Tapi, ngapain juga ya gue harus jaga image di depan cowok itu?
“Nggak usah dipikirin, Debby. Dating apps emang begitu. Saling ghosting itu udah biasa. Makanya, kalau memang buat have fun, mending lower your expectation.”
Debby langsung cemberut. “Tapi tetep aja sih, Bang, gue kesel. Padahal emang nggak punya goals apa-apa.”
“Santai aja, Deb. Gue yakin lo feeling shitty gini karena baru hari pertama di-ghosting. Besok juga udah better lagi.”
“Gue juga ngerasa yang galau ini hormon gue. Biasa hari pertama mens. Soalnya gue yang biasa pasti don't give a fuck!”
“Mending sih hormon lo nggak bikin lo kangen mantan!”
“Gue udah nangisin doi tadi malem jam dua. Sambil dengerin 34+35-nya Ariana Grande!” ujar gadis itu yang sontak membuat aku ngakak parah.
“Gendeng sia!” seruku seraya geleng-geleng kepala.
Kalau orang lain galaunya pakai lagu sedih, Debby memang suka aneh sendiri. Ia bisa nangis bahkan saat mendengarkan lagu Pelangi-Pelangi atau Aku Seorang Kapiten.
Tapi putus memang menyakitkan dan move on nggak pernah mudah, jadi kesedihan Debby mungkin memang nggak ada hubungannya dengan lagu. Saat kita sedih kita bisa menangis sepuasnya. Tidak perlu menutupi apa-apa. You're feeling is valid. If it hurts, it hurts.
***
Hari ini jatahku masuk siang. Sehingga pagi ini aku bisa santai-santai sambil menunggu jam kerjaku nanti jam satu siang.
Setelah beres-beres, aku pergi ke rooftop untuk melakukan workout outdoor dan juga mengikuti kelas yoga via Zoom yang diadakan Mbak Kiki pagi ini.
“Dor!” kaget Bayu yang membuat aku yang tengah melakukan gerakan bakasana pun langsung ambruk ke matras.
“Heh sialan! Padahal gue tinggal nahan 15 detik lagi!” omelku seraya menjatuhkan diri ke matras dengan tengkurap dan napas naik turun.
“Lagian lo rajin banget sih, Wi. Ngapain yoga di siang bolong gini? Lo masuk kerja jam berapa? Mau nonton dulu nggak?” tanyanya dengan kerling jahil super menyebalkan.
“Nggak,” jawabku to the point super cepat.
Lalu aku menarik napas panjang, dan kembali melakukan gerakan yoga yang dicontohkan Kak Kiki.
Bayu menggelar matras milik Debby yang ia ambil dari gudang, lalu mulai mengikuti gerakan yoga setelah melakukan pemanasan.
Ya, dengan badan Bayu yang terbentuk sempurna dan aku yakin punya kotak-kotak itu, sudah pasti pria itu biasa olahraga atau nge-gym.
Akhirnya aku dan Bayu melakukan yoga bersama sambil nge-Zoom dengan empat puluh orang lainnya. Setelah melakukan yoga selama 40 menit, kami pun memutuskan untuk menyudahi sesi. Matahari kini panasnya masih menyengat, oleh karena itu aku dan Bayu sudah pindah untuk duduk di gazebo ala-ala yang dibuat di rooftop Twogether.
Bayu duduk di samping tubuhku yang kini tengah tiduran terlentang di gazebo. Ia memfokuskan pandangannya ke arahku.
“Reza really know how to fight. Pukulannya bener-bener bikin muka gue pegel tiga hari,” ujar pria itu sambil membayangkan pertarungan sengitnya dengan Reza di atas ring. Lebam samar-samar masih terlihat di pipi kanan pria itu.
Namun, Bayu juga bukan petarung amatir. Karena dari video yang diambil oleh Alexandre, mereka berdua memang tampak bertarung mati-matian. Seolah merebutkan sesuatu. Seolah tidak ingin kalah atau mengalah satu sama lain.
“You deserve it.”
“Yes I know.”
“Tapi gerakan lo di ring bagus. Teknik lo juga oke. So, let me guess … lo juga sama gabutnya sama Reza. Makanya lo juga ikut club kickboxing setiap minggu.”
“Gue sebulan sekali karena kadang sibuk. Dan awalnya coba-coba. But, it's fun.”
Bagi kita para cewek ini memang sulit dipahami, tapi bagi cowok; memang lebih baik babak belur daripada menangis. Jadi, nggak heran kalau Reza dan Bayu lebih baik mengeluarkan rasa frustrasinya lewat olahraga seperti boxing. Walau habis olahraga bakal babak belur atau seluruh tubuhnya sakit semua.
“Man and his ego. Boxing is escapism, right? Reza juga sama.”
Bayu langsung menggeleng seraya menatap mataku. “No, gue belajar boxing karena jealous.”
Aku ingin menanyakan lebih lanjut apa maksud perkataan pria itu. Namun, untungnya aku berhasil mengerem mulutku agar tidak bertanya apa-apa. Tapi sungguh, aku tak mengerti apa maksud perkataan pria itu.
Hah? Memangnya Bayu cemburu soal apa sampai terjun ke olahraga adu jotos itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
fortnight (completed)
RomanceHanya perlu dua minggu untuk menghancurkan hubungan dua tahun. Hanya perlu dua minggu untuk menjungkir balikan hidup dan perasaan seseorang. Hanya butuh dua minggu dan semua hancur berantakan. Menurutmu cinta itu apa? Dewi pikir hubungan dua tahunn...
