“Lo suka gue sejak kelas 10? Kok, bisa? Kita kan nggak pernah sekelas. Selama dua tahun itu lo juga nggak pernah ngajakin gue ngobrol. Pas kelas 12 kita emang sekelas, tapi lo-nya malah nyebelin. Lebih masuk akal kalo lo punya dendam kesumat sama gue daripada suka gue dari kelas 10.”
“Itu karena gue masih jadi bocah ingusan yang naif dan tolol. Gue terlalu takut buat ngajakin lo ngobrol pas ketemu di kantin atau papasan di koridor. Setiap gue mau deketin lo, gue grogi setengah mati. Akhirnya gue memilih pura-pura nggak kenal, padahal deg-degan parah.”
Aku menatap Bayu dengan pandangan tak percaya. Selama di sekolah aku sama sekali tidak menonjol. Sudah genduk, jelek, jerawatan, mirip babi pula. Orang-orang populer tidak mungkin tertarik padaku kecuali mereka ingin menjadikanku mainan. Atau menyuruhku membelikan jajan dengan dalih 'nitip'. Mustahil seorang Bayu yang dulu sangat populer menyukaiku. Dan melihat semua tingkahnya dulu, lebih masuk akal kalau Bayu juga cuma ingin menjadikanku mainan saja. Seperti yang lainnya.
“Lo pasti bercanda. Gimana bisa lo suka sama gue padahal kita nggak pernah ngobrol, Bay?”
“Lo nggak inget kalo pas MOS kita pernah sekelompok?”
Aku sontak mengerutkan glabela saat mendengar perkataan Bayu. Hingga akhirnya aku mengingat hari itu. Itu adalah hari pertama masuk sekolah. Saat MOS kami memang pernah satu kelompok. Tugas kelompoknya adalah mengumpulkan tanda tangan senior dari kelas 11 dan 12.
“Oke, kita emang sekelompok waktu itu. Tapi seingat gue, kita juga nggak ngobrol sama sekali. Mustahil lo suka sama gue gara-gara itu.”
“Kita ngobrol, Wi. Pas lo ngasih air minum ke gue.”
Ah, iya, aku ingat kejadian itu. Saat itu kami diberi waktu lima belas menit untuk istirahat. Aku ingat waktu itu begitu haus karena sudah berkeliling kelas di gedung B. Makanya aku ke kantin dan membeli sebotol air mineral.
Nah, waktu itu aku melihat Bayu yang tengah duduk di kantin tanpa membeli apa pun. Aku pikir pria itu mungkin lupa membawa uang saku.
Lalu, aku berbagi minuman dengan pria itu, karena sebelumnya kami memang berburu tanda tangan bersama walau tidak mengobrol sama sekali.
Saat itu aku deg-degan parah. Karena itu pertama kalinya aku membuka obrolan dengan remaja pria selain teman-teman di panti. Apalagi Bayu itu ganteng, dan sebagai remaja yang baru puber, tentu saja aku grogi setengah mati saat pertama kali mengajak cowok ganteng itu bicara. Bahkan, aku yakin wajahku waktu itu semerah tomat busuk.
“Gue suka lo sejak lo ngasih gue air minum itu. Menurut gue ekspresi gugup lo waktu itu lucu. Sampai kalo gue nggak bisa nahan diri, gue pasti bakal langsung meluk lo di kantin.”
Aku menatap Bayu dengan pandangan tak percaya. “Lo pasti bercanda....”
“Perasaan gue sama lo selama ini bukan bercandaan, Wi. Nggak ada perasaan 'bercandaan' yang bertahan selama delapan tahun. Gue nggak bohong waktu gue bilang gue cuma cinta sama satu cewek selama delapan tahun terakhir. Cewek itu lo.”
Aku membasahi bibirku yang terasa kering. “Gue tetep masih nggak ngerti, Bay. Kalo lo cinta sama gue, kenapa dulu lo nyebelin? Kenapa lo bully gue? usilin gue? bikin gue kesel terus? Bikin gue benci lo setengah mati? Cowok normal kalo jatuh cinta pasti bakal baik-baikin cewek yang dia taksir, Bay. Ini lo malah ngelakuin hal yang sebaliknya. Nggak masuk akal kalo lo udah suka gue selama itu.”
“Alasan pertama biar lo mau duduk sebangku sama gue. Makanya gue sering minta lo bikinin catetan. Alasan kedua biar kita ke kelas jalan barengan, makanya gue minta lo bawain tas gue. Alesan ketiga biar lo mau deket-deket gue. Mau natap mata gue. Mau ngomel diem-diem ke gue. Karena lo hanya bereaksi saat gue jahilin. Lo nyuruh gue suka sama lo dengan cara yang normal? Lo pikir gue nggak pernah, Wi?”
“Coba lo inget-inget. Seberapa sering gue ngajakin lo pulang bareng. Ngajakin lo nonton film. Ngajakin lo nonton konser. Bahkan, gue ajakin lo dansa, Wi, tapi lo-nya kabur.”
“Itu karena gue nggak mau jadi babu lo di luar sekolah. Makanya gue nggak pernah mau lo ajakin ngelakuin itu semua! Dan ternyata itu ajakan kencan? Wow kalau kata anak jaman sekarang sih namanya; di luar prediksi BMKG! Dan soal dansa, lo bilang gue mirip lemper gagal. Buat apa lo dansa sama lemper?”
“Waktu itu lo cantik, Wi. Gue mau bilang itu tapi, ya, anak tujuh belas tahun dan gengsinya. Dan setelah hari kelulusan, lo tahu betapa menyesalnya gue karena terlambat? Gue menyesali semuanya sampai hari ini.”
“Gue selalu berandai-andai. Andai gue menyukai Dewi dengan benar, pasti sekarang lo jadi milik gue. Andai daripada jadi cowok usil gue milih jadi gentleman pasti Dewi udah jatuh cinta sama gue. Andai gue dulu nggak mendewakan ego dan gengsi gue, mungkin kita udah nikah dan punya anak yang lucu. Pengandaian itu terlalu menyenangkan, tapi gue tahu gue sama sekali nggak punya kesempatan.”
"Gue nyesel karena gue baru punya keberanian pas hari kelulusan. Bayu versi remaja benar-benar bocah ingusan yang naif dan tolol. Dia mikir kalo ditolak cewek bakal melukai harga dirinya. Padahal dia hanya membuang kesempatan. Lo tahu apa yang paling menyakitkan? Bukan harga diri yang terluka karena penolakan, tapi saat tahu, cewek yang gue cinta udah milik cowok lain. Padahal gue yang cinta lo lebih dulu, Wi. Tapi gue nggak bisa milikin lo sehari pun. This is so pathetic is not?" tanya Bayu dengan suara bergetar.
Dan Bayu memang benar, saat ini semuanya sudah terlambat.
KAMU SEDANG MEMBACA
fortnight (completed)
RomanceHanya perlu dua minggu untuk menghancurkan hubungan dua tahun. Hanya perlu dua minggu untuk menjungkir balikan hidup dan perasaan seseorang. Hanya butuh dua minggu dan semua hancur berantakan. Menurutmu cinta itu apa? Dewi pikir hubungan dua tahunn...
