decision

17K 1.5K 136
                                        

Perbincanganku dengan Bayu tadi siang benar-benar membuatku tak bisa tidur. Aku sudah mencoba memejamkan mata dari jam 8 malam, sampai melewatkan pizza dengan esktra keju yang dibawa Jonathan, tapi sampai sekarang pukul 2 pagi mataku tak mau terpejam.

Alhasil aku bangkit dari tiduranku lalu membuat susu hangat di dapur. Malam ini udara cukup dingin tapi tidak ada tanda-tanda hujan akan turun, makanya aku memutuskan pergi ke atap untuk menenangkan pikiran. Mungkin melihat bintang dan bulan yang bersinar di langit dapat membuat otakku yang tengah ruwet bisa terurai.

Aku benar-benar tidak tahu harus apa saat ini. Semua rasanya sulit, aku tidak mau membuat keputusan yang membuat banyak orang terluka lagi.

Ketika sampai di atap aku melihat Jonathan yang tengah duduk seraya menghadap ke langit. Sebuah rokok terselip di bibir pria itu. Tetapi setelah itu Jonathan batuk-batuk hebat. Setahuku Jonathan memang bukan perokok, makanya tak heran ia langsung bengek saat mencoba gulungan yang terbuat dari nikotin dan tar itu.

“Belum tidur, Bang?” 

Cepat-cepat Jonathan mematikan rokok yang terselip di jari telunjuk dan tengahnya. “Iya, belum bisa, Wi.”

"Why?"

"Overthinking."

Aku tertawa kecil. “Millenial banget ya masalahnya overthinking. Ada masalah? Setahu gue lo bukan perokok, Bang. Jadi, masalah apa yang membuat Jonathan sampai nyoba rokok untuk pertama kalinya?”

Jonathan menginjak puntung rokok yang masih panjang. Lalu kembali menatap langit. "Kepala gue lagi ruwet. Gue pikir ngehirup sedikit karbon monoksida bakal ngasih pencerahan. Yang ada gue malah bengek.”

“Faktor U itu namanya, Bang. Udah tua lo. Makanya jangan macem-macem. Udah nggak usah nyoba ngerokok lagi. Tapi biar gue tebak, masalah lo pasti cewek, kan? Debby?”

“Lo tahu?”

“Kalo lo cinta mati sama Debby? Gue yakin bahkan setan penunggu di Twogether juga tahu lo cinta mati sama dia. Cuma Debby doang yang nggak tahu.”

“Hahahaha ... Jadi, memang sejelas itu, ya? Alex dan Wina tahu juga?”

“Mereka berdua paling banter goblok-goblokin lo di belakang. Tapi please ... Jangan bilang mereka kalau gue yang spill the tea.”

Jonathan memutar bola mata malas. “Nggak usah sok suci. Gue tahu lo juga ikut goblok-goblokin gue di belakang.”

Tentu saja aku langsung tertawa sambil mengacungkan dua jari tanda damai. Karena buat apa mengelak, toh Jonathan tahu kenyataannya. 

“Gue sama yang lain cuma greget aja karena lo nggak pernah ambil langkah buat ngajak Debby jalan atau kencan. Padahal lo punya banyak peluang, contohnya pas dia baru putus sama mantannya. Debby kan selalu jadiin lo sebagai tempat bersandar, tapi lo malah terlalu nyaman jadi tembok sampai beneran nggak gerak ke mana-mana.”

“Gue tahu di mata lo, gue memang terlihat sebodoh itu. Tapi, gue cuma tahu diri sebenarnya, Wi. Debby selalu ceritain cowok yang dia cinta sama gue. Dan gue tahu, di hati dia gue nggak pernah punya kesempatan sedikit pun.”

“Iya, sih kalau soal tampang lo memang bukan tipenya Debby banget. Debby kan sukanya yang agak-agak nerd gitu. Sedangkan lo kan body algojo tapi hati Hello Kitty.”

“Sialan lo!” protesnya yang membuat kami tertawa bersama.

“Tapi, Bang, tipe itu nggak penting kalau hati sudah milih. Coba deh, habis ini lo ngajak Debby nge-date, lo utarain perasaan lo ke dia, gue yakin Debby pasti akhirnya sadar sama perasaannya. Karena bagi Debby, lo itu kayak tempat pulang. Tempat lari saat dia terpuruk dan jatuh. Pada akhirnya, dia selalu balik ke lo. Dan menurut lo kenapa dia begitu? Tentu saja karena tahu kalau sama lo, dia bakal selalu aman.”

“Menurut lo begitu?”

“Tentu saja, karena nggak ada yang lebih cocok buat Debby daripada lo.”

Jonathan hanya tersenyum saat mendengar perkataanku, tapi mimik wajahnya tampak begitu lega dan juga yakin. Seolah bebannya terangkat, seolah keyakinan kini memenuhi dadanya. Aku tidak akan heran, kalau seminggu lagi, ia dan Debby akan jadian.

“By the way, lo sendiri kenapa belum tidur, Wi?”

Aku tersenyum kecut. “Lo tahu kenapa gue nggak bisa tidur, Bang. Bahkan, drama yang gue buat hari ini pasti lebih parah daripada telenovela yang kata Wina murahan dan nggak bermutu itu.”

“Ada yang bisa gue bantu biar bikin lo lega?”

“Goblok-goblokin betapa tololnya tindakan gue mungkin? Karena gue tahu, Bang. Apa yang gue lakuin benar-benar salah ... Tapi gue nggak tahu harus gimana. Gue udah ngehancurin semuanya.” 

“Kalo lo tanya gimana perselingkuhan lo sama Bayu di mata gue? Tentu aja itu menjijikan. Karena menurut gue perselingkuhan itu pengkhianatan paling menjijikan di dunia. Gimana bisa seseorang menyakiti orang yang katanya paling ia cintai? Kalo dari awal lo jujur sama perasaan lo, mungkin ceritanya beda lagi, Wi.”

“Sebenarnya di kepala gue banyak pertanyaan kenapa lo ngelakuin hal menjijikan itu. Tapi gue sadar, gue bukan lo. Gue nggak ngejalanin kehidupan lo. Nggak tahu apa perasaan lo, rasa sakit lo, rasa bahagia lo, rasa tertekan lo, rasa sedih lo, jadi apa hak gue menghakimi lo? Bahkan, gue nggak tahu apa alasan lo ngelakuin hal itu.”

Mendengar perkataan Jonathan sontak air mata mengalir di pipiku. Lalu aku memeluk Jonathan erat dan menangis di pelukan pria yang sudah aku anggap seperti Abangku sendiri itu. Jonathan balik memelukku dan menepuk-nepuk punggungku menenangkan.

“Gue tahu sejak awal perasaan gue nggak buat Reza lagi, Bang. Gue jatuh cinta sama Bayu. Tapi, Debby juga jatuh cinta sama Bayu. Makanya, gue pikir dengan bertahan sama Reza dan melupakan yang terjadi antara gue sama Bayu adalah pilihan yang tepat. Tapi ternyata pilihan gue salah, Bang. Gue malah nyakitin banyak orang. Padahal gue cuma pengin bikin semua orang bahagia....”

“Wi, dengerin gue. Dunia nggak bakalan kiamat hanya karena lo ngecewain orang-orang yang lo sayang. Sesekali egois itu perlu. Karena kebahagiaan lo itu lebih penting dari apa pun. Kebahagiaan lo sendiri lebih berharga dari kebahagiaan siapa pun. Lo nggak perlu ngerasa bersalah hanya karena mencoba meraih kebahagiaan lo sendiri.”

“Ikutin kata hati lo. Kalo lo mau menjelaskan soal perasaan lo dengan jujur, gue yakin mereka semua bakal ngerti, Wi. Ya, mereka bakal kecewa dan terluka, itu nggak bisa dihindari. Tapi akhirnya semuanya bakal sembuh, semuanya bakal paham dan mengerti. Karena Reza, Debby, Mama dan Papanya Reza, Riza, dan juga Anna semuanya sayang sama lo. Mereka semua bakal ngerti kenapa lo membuat keputusan yang mengecewakan mereka semua. Satu pun dari mereka nggak bakal keberatan kecewa sebentar, asal lo bahagia. Percaya sama gue. Mereka bakal paham.”

“Semua belum terlambat kan, Bang?”

“Tentu saja semua sudah terlambat, Wi. Gue nggak bisa ngasih penghiburan apa-apa soal itu. Tapi, awal baru juga baru saja dimulai. Dan lo punya kesempatan baru untuk memulai semuanya dari awal. Nggak perlu memperbaiki masa lalu karena hal itu nggak bisa diulang, tapi lo bisa memperbaiki diri untuk menyambut masa depan.”

Dan untuk pertama kalinya hatiku terasa lega hari ini. Tentu saja, rasa bersalah itu masih menggerogoti jiwa, tapi pikiranku tidak butek lagi dan rasanya lebih terbuka.

Aku kembali memeluk Jonathan erat sambil mengucapkan terima kasih karena sudah menemaniku malam ini dan sudah mendengarkan ceritaku.

Lalu setelah itu aku turun dari atap. Sesampainya di kamar aku langsung mengambil ponsel dan mengirim pesan pada seseorang—tak peduli sekarang hampir subuh. Aku berharap, besok ia mau menemuiku dan menatap mataku lagi. Walau mata indahnya tidak akan menatapku lagi sehangat biasanya.

fortnight (completed) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang