Sekali lagi aku menghela napas panjang. Jujur saja saat ini perasaanku benar-benar campur aduk. Sudah aku bilang, membuat pengakuan dosa tidak pernah mudah. Namun, jika aku tidak mengakuinya sekarang, maka aku akan dibayangi dosa itu selamanya.
Tadi pagi Reza setuju menemuiku saat jam makan siang. Memang hanya jawaban 'iya' yang singkat. Tetapi itu sangat berarti bagiku, karena tandanya pria itu memberiku kesempatan untuk meminta maaf dengan benar. Setidaknya ia memberiku kesempatan untuk menghilangkan beban di pundak dan dadaku yang rasanya sangat mencekik. Walau tentu saja, rasa bersalah itu akan tetap membayangiku selamanya.
Aku meminum matcha dingin yang tadi aku pesan. Sontak aku segera menyudahi minumku saat aku melihat seorang pria duduk di depanku. Penampilan Reza yang biasanya sangat rapi sekarang terlihat kacau.
Dasinya sedikit miring pertanda pria itu memakainya dengan buru-buru. Ada lingkar hitam di bawah mata yang menunjukkan jika pria itu insomnia. Bahkan lagi-lagi ia tidak cukuran. Membuat five o'clock shadow di sekitar dagunya tampak jelas. Reza tampak tidak baik-baik saja. Pria itu tampak sangat kacau, sama kacaunya dengan diriku sendiri.
“Kamu udah lama?" tanyanya sedikit canggung.
“Belum, kok, Za. Aku juga baru sampai sekitar sepuluh menit lalu. Gimana jalanan? Macet?”
“Lumayan.”
Aku mengagguk mengerti, lalu mengigit bibir. Sungguh, aneh sekali ada di posisi ini dengan Reza. Begitu canggung, begitu dingin, begitu asing.
“Kamu mau pesan apa?”
“Es kopi aja. Soalnya habis ini aku harus balik ke kantor, jadi nggak bisa lama-lama.”
Sekali lagi aku mengangguk. Lalu aku mengangkat tangan bermaksud memanggil pelayan. Aku memesan dua es kopi yang langsung dicatat oleh pelayan berseragam hitam-putih yang sepertinya masih magang. Bulan ini Wina memang membuka loker besar-besaran untuk bekerja di Queen Bakery dan Ayo Ngopi.
Suasana siang ini di Queen Bakery sangatlah tenang walaupun ada banyak pengunjung. Karena cafe kekinian yang juga merupakan perpustakaan ini punya peraturan: tidak boleh berisik. Di sini tempat mencari ketenangan, jika ingin heboh bisa mampir ke Ayo Ngopi yang ada di ruang sebelah. Makanya begitu Wina tahu aku ingin bertemu Reza, teman satu rumahku itu langsung menyuruhku ke Queen Bakery. Sebab aku butuh tempat yang tenang, untuk mengurai kekacauan yang aku buat.
Aku dan Reza masih bertahan dalam kebisuan. Bahkan, setelah minuman pria itu disajikan.
“Sebenarnya, kalau kita ada di posisi yang berbeda. Aku pasti bakal ngajak kamu buat mempertahankan apa yang kita punya sekarang. Tapi aku tahu, itu terlalu egois dan nggak mungkin. Bayu, cowok yang baik. And I know why you love him,” ujar Reza yang malah membuat air mataku akhirnya mengalir.
“Za....”
“Ssstt ... Wi, kali ini biar aku yang bicara dulu. Karena aku terlalu marah sama semuanya, tapi nggak bisa dipungkiri juga merasa lega akan semuanya. Dan aku juga tahu, kalau kamu ngerasain hal yang sama.”
“Beberapa hari ini, aku mencoba memikirkan apa yang terjadi. Kenapa kita bisa ada di posisi ini, dan kenapa hubungan kita bisa begini. Aku tahu kamu merasa bersalah soal apa yang terjadi sama kamu dan Bayu, karena aku juga ngerasa bersalah dengan apa yang terjadi antara aku dan Anna. Tapi, pada saat yang sama, anehnya aku juga ngerasa lega.”
Kali ini Reza menatapku dengan senyuman kecil yang bertengger di wajahnya. Senyuman yang sangat manis dan tadinya selalu membuat aku jatuh cinta. Wajah pria itu tampak benar-benar lega, seolah semua beban yang ada di pundak dan dadanya benar-benar hilang bersama dengan udara.
“Sebelum ketemu kamu, aku ketemu Reza dulu. Aku ngobrol banyak sama dia. Dan memang benar, ya ... Love can be so cruel. Karena cinta bikin kita bertiga ada di posisi kayak gini. Tapi, aku juga jadi sadar banyak hal. Maaf, Wi, kalau selama ini aku selalu ngekang kamu. Aku bikin banyak peraturan yang bikin kamu nggak bebas. Maaf, karena aku bikin kamu nggak bahagia.”
Aku langsung menggeleng keras begitu mendengar perkataan terakhir Reza. “No, no, no, please don't say that. Dua tahun bareng-bareng kamu, adalah salah satu masa paling membahagiakan buat aku. Makanya, terima kasih buat dua tahun yang sangat indah itu. Dan kali ini, biar gantian aku yang ngomong, okay?”
“Za, pertama aku mau bikin pengakuan dosa. Maaf, karena aku udah jalan dan ciuman sama Bayu. Aku tahu apa yang aku lakukan benar-benar salah dan menjijikan, sampai penyesalan itu rasanya begitu menyakitkan. Aku jijik sama diri sendiri, tapi juga nggak bakal pernah bisa kembali ke masa lalu. Karena kalau itu bisa dilakuin, aku benar-benar bakal ngelakuin apa saja biar bisa balik ke sana. Dan nggak membuat kesalahan itu.”
“Tapi sayangnya, aku nggak bisa. Makanya, aku benar-benar minta maaf atas semua yang udah aku lakukan. Aku percaya karma is a bitch, dan setiap perbuatan pasti ada balasannya masing-masing. Dan aku janji, saat hari itu datang, aku bakal menerimanya tanpa penyesalan. Maafin aku, Za, maaf karena udah nyakitin kamu,” ujarku dengan penuh penyesalan. Namun, sebanyak apapun aku menyesal, aku nggak bakalan bisa mengubah masa lalu. Penyesalan memanglah hukuman paling berat.
Reza tersenyum menenangkan, lalu menghapus air mata yang mengalir di pipiku. “Tapi aku rasa, untuk ini kita impas, Wi. Karena aku juga ciuman dengan Anna. Aku tahu ini memang brengsek, tapi aku juga lega aku ngelakuin itu. Karena itu bikin aku sadar, kalau hubungan kita memang udah nggak kayak dulu. Rasanya luar biasa saat ngerasain kepakan sayap kupu-kupu lagi.”
Ya, memang apa yang kami berdua lakukan ini sangatlah salah. Tapi juga tak bisa dipungkiri, kalau kami benar-benar lega. Kadang, tidak apa-apa mengakui kalau kita sudah berhenti saling jatuh cinta. Daripada memaksakan perasaan, hingga lupa apa itu bahagia.
Aku dan Reza selesai di sini. Tentu saja rasanya akan sangat menyakitkan, mungkin sesekali aku bakal bangun jam tiga pagi dan menangis karena merindukan pria itu. Terlalu banyak menghabiskan waktu di gym untuk melampiaskan rindu. Atau menangis saat mengingat foto-foto lama kami yang aku simpan di mana-mana. Tapi aku rasa, pada akhirnya semua akan baik-baik saja. Kita akan sembuh, lalu mungkin jika ada kesempatan ... Akan kembali jatuh cinta dan bahagia.
Aku melepas cincin pemberian Reza yang ada di jari manisku. Rasanya benar-benar lega saat benda cantik itu terlepas dari sana. Akan banyak yang kecewa dengan keputusan kami berdua, tapi seperti kata Jonathan, aku pikir pada akhirnya semua akan baik-baik saja. Apalagi kalau aku dan Reza menjelaskan kalau kami hanya ingin bahagia.
Lalu, aku mengembalikan cincin itu kepada Reza.
“Terima kasih buat dua tahun yang membahagiakan ini. Aku harap kamu bakal ketemu perempuan yang lebih baik daripada aku, Za. I mean it. Terima kasih karena udah mencintai aku begitu besarnya selama ini dan bikin aku bahagia. Thank you, Za. And good bye.”
Reza menerima cincin pemberianku. Pria itu tampak tersenyum, tapi ada kesedihan disorot matanya. Namun, kelegaan itu juga tampak di sana.
“Terima kasih juga untuk semuanya, Wi. Good bye.”
Lalu, Reza pamit untuk kembali ke kantor karena jam makan siangnya memang sudah selesai. Dan sepergian Reza, air mataku menangis deras. Aku menangis sejadi-jadinya, karena tak bisa dipungkiri kalau hatiku saat ini, rasanya seperti ditusuk ribuan belati. Sakit sekali.
Tapi hari ini, aku akan membiarkan diriku menangis sejadi-jadinya. Untuk merayakan; kepergian orang yang tercinta.
KAMU SEDANG MEMBACA
fortnight (completed)
RomanceHanya perlu dua minggu untuk menghancurkan hubungan dua tahun. Hanya perlu dua minggu untuk menjungkir balikan hidup dan perasaan seseorang. Hanya butuh dua minggu dan semua hancur berantakan. Menurutmu cinta itu apa? Dewi pikir hubungan dua tahunn...
