i love you

16K 1.6K 127
                                        

Aku hanya menatap Bayu lama. Karena jujur saja aku nggak tahu harus berkata apa. Tetapi yang jelas, aku tahu jika Bayu serius dengan perkataannya. Tatapan pria itu memberitahu segalanya.

Lalu Bayu tertawa kecil. "Dan gue rasa semesta punya dendam kesumat sama gue, Wi. Karena saat gue akhirnya punya keberanian buat menyatakan perasaan, lo malah nggak ada." Pria itu tersenyum kecil. "Lo tahu pas hari kelulusan gue niatnya mau confess perasaan gue ke lo. Bahkan, gue sampai booking band sekolah. Gue bawa dua puluh mawar merah juga bawa gitar buat nyanyi lagu Lebih Indah-nya Adera. Seminggu full gue latihan vokal. Nggak bisa tidur semaleman karena deg-degan, tapi lo malah nggak dateng. Gue dateng ke panti lo juga nggak ada. Jadinya gue patah hati. Gue ditolak, bahkan sebelum nyatain perasaan.”

Aku memang memutuskan tidak datang ke pesta kelulusan. Karena hari itu pas banget dengan wawancara kerja di Padmi Brand. Bu Padmi memberiku kesempatan untuk berkerja di butiknya, tentu saja aku nggak bakal menyia-nyiakan kesempatan itu.

Lagipula aku yakin jika aku datang ke pesta kelulusan pun percuma. Mereka pasti nggak bakal peduli aku hadir atau tidak. Tetapi ternyata aku melewatkan suatu hal yang luar biasa.

Aku menatap langit. "Gue sekarang nyesel karena nggak dateng pas pesta kelulusan. Padahal bisa liat Bayu nyanyi lagu Adera di panggung sambil bawa dua puluh bunga mawar. Dewi versi remaja memang bocah naif yang nggak peka." Lalu aku terbahak seraya kembali menatap pria itu. "Ekspresi gue pasti bakal kacau banget pas tahu orang yang selalu bully gue ternyata udah bucinin gue sejak kelas sepuluh.”

You really don't have idea what you do to me. Lo bikin gue semangat sekolah. Lo bikin gue mikir harus potong rambut model apa biar terlihat keren di mata lo. Lo bikin gue ngeribetin skin care dan parfum untuk pertama kalinya. Bikin dada gue meledak-ledak dengan menyenangkan. Bikin masa remaja gue mendebarkan. Thanks, karena lo bikin gue ngerasain perasaan menyenangkan ini. Thanks, Dewi, karena lo udah jadi cinta pertama gue."

“Thanks, juga Bayu karena lo udah mencintai gue selama delapan tahun terakhir," ujarku seraya tersenyum tulus. Setelah itu hanya ada keheningan yang mengudara di antara kami. Kami hanya saling bertatapan, seolah mengungkapkan segalanya lewat tatapan mata.

"By the way, lo mau liat dua puluh mawar yang dulu gue siapin buat lo? Salah satunya selalu gue bawa ke mana-mana," ujar Bayu memecah keheningan. Lalu pria menunjukkan tangan kanannya padaku. Dan terdapat tato bunga mawar di sana. 

"Gue mengabadikan cinta pertama gue di sana," jelasnya seraya tersenyum.

Aku menyusuri tato mawar milik Bayu dengan telunjukku pelan. Dari tangkai sampai kelompaknya. Lalu aku mengecup tato itu lama. "Thanks, buat bunga mawarnya walau kurang sembilan belas. Gue suka."

"Karena lo udah nerima bunganya. Gimana kalo sekarang gue nyanyi terus nembak lo? Kayaknya ini kesempatan terakhir gue.”

Bayu berdeham pelan. Lalu ia mulai menyanyikan lagu Lebih Indah-nya Adera yang pernah sangat terkenal di masanya. Apalagi pas kami zaman SMA. Lagu ini begitu booming sebagai salah satu lagu romantis Indonesia.

Bayu menyanyikan lagu itu seraya menatap mataku. Dan aku setia menatap balik netranya. Sembari mendengar Bayu bernyanyi aku terus tersenyum lebar. 

Setelah menyanyikan lagu itu Bayu menatapku gugup. Pria itu membasahi bibirnya. "Hai, Wi, lo mau jadi pacar gue?"

Sontak aku terbahak dengan air mata yang mengalir di pipi. "Di pesta kelulusan lo juga nggak bakal pake intro? Bakal langsung nembak begitu?"

Bayu menghapus air mata yang mengalir di pipiku. "Lo tahu gimana kampretnya mulut gue. Jadi, daripada ngomong yang nggak-nggak. Emang lebih baik langsung nembak aja.”

Aku mengusap cincin pertunanganku dengan Reza dua kali, lalu menangkup tangan Bayu yang ada di pipiku. "Lo tahu nggak sih, Bay. Dulu waktu SMA gue pengen banget bilang 'Nggak' sekali aja di depan muka lo dengan lantang. Akhirnya hari ini gue punya kesempatan itu. Sori, Bay, gue nggak bisa jadi pacar lo," tolakku seraya mengucapkan kata 'nggak' penuh penekanan.

Akhirnya salah satu keinginanku sejak SMA terkabul. Tetapi ini terlalu menyakitkan, Tuhan.

Bayu menghapus air mataku lagi. "Okay, kali ini gue beneran ditolak. Tapi rasanya nggak begitu buruk. Senggaknya semesta nggak begitu jahat, dia masih ngasih gue kesempatan."

"Makasih karena lo udah ngobatin luka gue. Obat memarnya gue bawa, ya?" Sebelum pergi pria itu mengecup keningku lama. “I love you, Dewi. I love you so much.”

Setelah itu Bayu berdiri dan berjalan menuju tangga. Sebelum pria itu benar-benar turun, aku memanggilnya. "Bay!" teriakku, membuat Bayu segera memutar tubuhnya ke arahku. “I love you too!”

Dan perasaan yang meledak-ledak di dada kami berdua itu, hanya terbang di udara. Kami hanya saling pandang sambil tersenyum lega, dan hati yang teriris sakit. Kisah kita harus berakhir, bahkan sebelum semuanya dimulai.

Semua sudah terlambat, dan memang benar; penyesalan adalah hukuman terberat.

fortnight (completed) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang