Aku hanya terpaku di tempat yang sama saat menyaksikan Reza dan Anna yang masih berciuman di sofa. Seolah mereka hanya terjebak di dunianya sendiri. Seolah mereka menciptakan dunia baru, di mana hanya ada mereka berdua yang ada di sana. Begitu bebas dan lepas. Merayakan gairah yang menyala-nyala di dada, di kepala, bahkan sampai di seluruh inci kulit. Perasaan yang begitu candu dan meledak-ledak. Perasaan yang sudah lama hilang, saat kami berdua bersentuhan.
Aku yakin, Reza juga merasakan hal yang sama. Karena aku juga merasakan itu saat berciuman dengan Bayu.
Begitu membara. Meledak-ledak di udara. Dan membuat dada berdebar menggila.
Hingga akhirnya Reza melepaskan tautan bibirnya dengan Anna saat matanya bertatapan dengan mataku.
Napas Reza naik turun, wajah pria itu berubah pias dan juga pucat pasi, seolah ia menyadari kalau ia baru saja melakukan kesalahan fatal. Kesalahan besar yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya, tidak pernah ia pikirkan sebelumnya, tapi tak pernah ia mengerti kenapa ia bisa lepas kendali.
Reza menurunkan Anna dari pangkuannya. Lalu mendekat ke arahku dengan ekspresi bersalah yang aku tahu bukan pura-pura. Apa yang baru saja ia lakukan, kesalahan yang baru saja ia lakukan, benar-benar menyiksanya sampai rasanya ia sesak sendiri.
“Wi, maaf, tapi ini nggak seperti yang kamu—”
Anna bersedekap angkuh, lalu berjalan ke arah kami berdua seraya tersenyum sinis dan tatapan jijik saat ia melihatku.
“Lo nggak perlu minta maaf sama Dewi, Za. Karena Dewi juga ngelakuin hal yang sama, kok. Dia juga ciuman sama Bayu!”
“Anna shut up! Nggak usah ngomong sembarangan!” teriak Reza hingga urat-urat lehernya keluar. Pria itu tampak kacau. Kita bertiga tampak kacau. Bahkan, tanpa melihat rupaku sendiri saat ini pun, aku juga tahu kalau aku juga pasti tampak kacau.
“Siapa yang ngomong sembarangan, Za? Gue? Kalo lo nggak percaya coba tanya, deh, sama tunangan lo yang ternyata bitch itu. Gue nggak nyangka kalo lo serendah itu, Wi. Seriously, selingkuh? Lo pikir ... kalo lo ciuman sama Bayu di atap pas tengah malem nggak bakal ada yang lihat apa? Lo pikir kebusukan lo nggak bakal ada yang tahu?”
Lalu Anna berjalan ke arahku dan ia menamparku dengan sangat keras. Hingga sudut bibirku terluka dan aku merasakan asin darah di mulutku.
“Oh, Thanks God! Akhirnya gue bisa nampar lo setelah berhari-hari nahan diri. Lo tahu, Wi, setelah lo ciuman sama Bayu di atap malam itu, gue bener-bener pengen banget nampar lo sekencengnya. Jadi, hari ini gue nggak bakal minta maaf, karena lo emang pantes dapet itu. Fuck, bisa-bisanya lo nyakitin Reza! Bisa-bisanya gue ngasih pria yang gue cintai sejak SMA sama lo karena gue pikir lo lebih baik daripada gue. Gue percaya lo bisa bikin Reza bahagia. Tapi ternyata lo bener-bener bitch, Wi!" teriak Anna lagi.
Tamparan Anna terasa sangat menyakitkan di pipiku. Tetapi dadaku juga sangat lega. Seperti ada berton-ton beban yang terangkat dari pundakku. Rasa sesak karena rasa bersalah yang kemarin aku pikir tak akan pernah hilang, kini sedikit terangkat dari dadaku. Aku seperti sudah mendapat hukumanku.
Oleh karena itu, aku tidak akan protes atau dendam soal tamparan Anna, karena aku memang sangat pantas mendapatkan itu. Aku menyakiti sahabatnya, lebih parahnya aku menyakiti pria yang sangat Anna cintai sejak SMA.
Anna percaya jika aku lebih baik darinya, sehingga gadis itu berpikir Reza akan lebih bahagia jika bersamaku. Hingga ia rela membunuh perasaannya sendiri. Kita semua tahu jika jatuh cinta sendirian selalu menyakitkan, kita semua tahu dipaksa membunuh perasaan sendiri saat mekar begitu menyengsarakan. Tetapi Anna melakukan itu semua selama dua tahun terakhir.
Tetapi ternyata Anna salah, pilihannya salah, aku tidak sebaik yang ia kenal. Aku menyakiti Reza—pria yang sangat ia cintai. Makanya, jika saat ini gadis itu mau menamparku sepuluh kali lagi, aku tidak akan protes. Karena aku memang pantas mendapatkan ini. Aku menyakiti Reza, aku mengkhianati tunanganku sendiri.
Aku menatap Anna yang menatapku dengan penuh kebencian. Namun tatapan terluka juga terlihat di matanya. “Oke, gue nggak bakal protes sama tamparan lo karena gue emang pantes dapet ini semua, Na.”
Lalu aku menggeleng. “Tapi bukan salah gue kalo lo nggak percaya diri sama cinta lo sendiri. Bukan salah gue karena ternyata pilihan lo salah. Harusnya sejak awal lo percaya diri sama diri lo sendiri. Lo cinta Reza, gimana bisa lo mikir bakal ada orang yang bisa bikin dia lebih bahagia daripada lo?”
“Sejak lo jatuh cinta sama Reza pas SMA, harusnya lo langsung tahu kalo cuma lo yang paling pantas buat dia. Lo yang paling bisa bikin Reza bahagia. Karena cinta lo emang sebesar itu buat Reza. Menyerah karena dalih 'Gue bahagia kalo dia bahagia walau itu bukan sama gue', itu cuma pemikiran orang tolol. Harusnya lo tahu yang pantas di perjuangkan itu memang harus diperjuangkan mati-matian. Lo nggak bisa berharap orang lain ngebahagiain orang yang lo cintai, karena harusnya lo percaya diri, kalo cuma lo yang paling bisa ngebahagiain dia. Makanya, sori, gue nggak mau lo salahin karena lo bikin keputusan yang salah. Gue nggak mau disalahin karena lo memutuskan memberikan orang yang lo cintai sama gue.”
Anna memejamkan matanya, mungkin perkataanku cukup menampar ego gadis itu. Mungkin saat ini gadis itu sedang menyesali semuanya.
Untuk pertama kalinya aku bergerak dari tempatku berdiri. Aku maju satu langkah lalu menampar Anna keras. “Itu karena lo udah nyium tunangan gue! Lo benar-benar bitch, Na!” seruku dengan napas memburu. Rasanya tetap menyakitkan saat dikhianati sahabat sendiri.
Namun sama sepertiku, Anna juga hanya diam saat aku menamparnya. Aku tahu perasaan gadis itu, Anna juga berpikir jika ini adalah penebusan dosanya. Sungguh, kami, tidak pernah ingin saling menyakiti.
Setelah itu aku beranjak pergi dari apartemen Reza. Tetapi sebelum aku menggapai kenop pintu, pria itu menggapai lenganku.
"Wi...." Reza terlihat ingin mengatakan banyak hal padaku, tapi akhirnya pria itu tak mengatakan apa pun. Tetapi dari tatapan matanya aku tahu jika pria itu tidak baik-baik saja. Seperti aku yang juga tidak baik-baik saja.
Aku melepaskan genggaman Reza di lenganku. “Za, aku tahu kamu pengen bicara banyak hal sama aku. Sama kayak aku yang juga pengen bicara banyak hal. I know we need to talk, kita sama-sama butuh penjelasan. But not now, nggak saat perasaan kita lagi kacau kayak gini. Aku nggak mau nantinya kita malah ngelakuin hal yang bakal kita sesali.”
Lalu aku menempelkan telapak tanganku ke kening Reza. “Badan kamu masih panas. Nanti aku nyuruh dokter dateng ke sini. Jangan bandel kalo dokternya nyuruh minum obat. Get well soon.”
Aku memutar kenop pintu apartemen Reza, lalu meninggalkan Reza dan Anna dengan perasaan campur aduk. Aku tidak tahu apa yang saat ini aku rasakan, aku hanya ingin menangis sekencangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
fortnight (completed)
RomanceHanya perlu dua minggu untuk menghancurkan hubungan dua tahun. Hanya perlu dua minggu untuk menjungkir balikan hidup dan perasaan seseorang. Hanya butuh dua minggu dan semua hancur berantakan. Menurutmu cinta itu apa? Dewi pikir hubungan dua tahunn...
