Suasana Transjakarta di Sabtu pagi lumayan lengang, sehingga kali ini aku bisa duduk santai sambil mendengarkan lagu baru dari Sabrina Carpenter yang berjudul cindy lou who. Dengan cuaca kota Jakarta yang agak mendung pagi ini, mendengarkan lagu ini membuat hati mellow, karena liriknya memang menyakitkan sekali.
Seolah sang penyanyi ingin menyampaikan sakit hatinya lewat sebuah lagu, dan ia berhasil melakukan hal itu. Karena saat mendengarkan lagu ini aku juga ikut sedih, padahal saat ini tidak ada yang membuatku sedih sama sekali.
Lalu aku mengirimkan lagu ini pada Reza-pacarku disertai dengan emotikon menangis. Dan pacarku itu langsung membalasnya dengan emotikon pelukan yang super gemas-yang sontak membuat aku tersenyum, lalu berjanji akan menjemputku sepulang kerja nanti sehingga kami bisa kencan. Jujur saja, hal itu membuat aku bersemangat, karena kencan dengan Reza selalu menjadi hal yang sangat menyenangkan.
Sungguh, aku benar-benar mencintai pria itu setengah mati.
Aku pun langsung turun dari Transjakarta saat bus kota yang aku naiki berhenti di halte Senayan, sembari menunggu jemputan mobil kantor, aku pun memutuskan untuk duduk di bangku yang tersedia di dekat kompleks Gelora Bung Karno.
Sabtu ini GBK sangat ramai oleh orang yang berolahraga, sehingga sejak tadi banyak orang dari berbagai usia yang wara-wiri lari di depanku.
Aku pun memakan Roti yang tadi aku beli sebelum turun dari halte karena wanginya yang sangat menyengat benar-benar membuat perutku keroncongan. Kebetulan pagi ini aku memang tidak sempat sarapan karena Debby yang harusnya mendapat jatah untuk belanja bulanan saat ini tengah liburan di Jogja.
Ah, panjang umur!
Baru saja aku pikirkan, saat ini nama gadis itu bertengger di layar ponselku. Tanpa menunggu lama, aku pun langsung mengangkat video call gadis itu.
"Halooooow, Dewi! Saat ini lo harus iri setengah mati sama gue karena ... look babe! Gue di surga!" teriak gadis itu seraya mengarahkan kamera ke arah pantai dengan warna biru yang indah sempurna, pasir putih yang membentang luas, jajaran pohon kelapa yang menari serentak karena ditiup angin, dan burung-burung camar yang sesekali singgah di tepian.
"Asli sih gue beneran iri sama lo karena di hari Sabtu ini gue masih jadi budak korporat yang tetep harus masuk kerja, masih menghidu udara Jakarta yang penuh polusi, dan pemandangan di depan gue cuma mobil lalu lalang yang asep knalpotnya bikin bengek! Sial!" ocehku yang membuat Debby ngakak di ujung sana.
Lalu Debby kembali memutar kamera menjadi kamera depan, sehingga kini wajah ayunya kembali memenuhi layar. Aku senang karena wajah Debby kini sudah lebih hidup dan tidak lagi muram seperti kemarin-kemarin. Sepertinya acara liburan gadis itu betulan cukup berhasil.
"Mampus!" seru Debby masih tertawa.
"Woo sialan!" sahutku dengan nada gregetan yang malam membuat tawa gadis itu makin kencang.
Debby berhenti tertawa, lalu berkata, "Sumpah keputusan liburan ini adalah keputusan terbaik yang gue ambil kemarin. Saat ini gue beneran ngerasa bebas dan perasaan gue lebih ringan. Walau nggak bisa boong kalo ya masih ada sedih-sedihnya. Sorry, lo pasti muak ya karena gue bahas ini mulu?"
"Nope, udah nggak usah overthinking dan nikmatin liburan lo aja coy! Dan kalo mau curhat gara-gara feeling shitty langsung spamin gue aja oke? Nggak usah ngerasa nggak enak, kalo nggak sama gue emang lo mau curhat sama siapa? Heleh, kek punya teman lain aja."
"Hahahaha sial! Tapi serius makasih banget karena selalu ada buat gue."
"Iya, sama-sama, Debby. Jangan lupa oleh-oleh, ya! Kalo tahu diri sih nggak bakal lupa bawa oleh-oleh!" seruku seraya mengedipkan satu mata yang membuat Debby langsung mengumpat dan membuatku tertawa ngakak.
Lalu kami mengobrol lumayan lama karena Sela-rekan kerjaku yang harusnya menjemputku saat ini masih terjebak macet di Bundaran HI.
"Betul, gue setuju kalo lo emang belum move on memang sebaiknya jangan maksain buat menjalin hubungan baru. Glimpse of us itu bajingan, jangan jadi cewek bajingan."
Aku menganggukkan kepala untuk merespons perkataan Debby di ujung sana. Lalu kembali berkata, "Take your time, Deb. Nggak ada yang nyuruh lo buru-buru move on juga. Kalo gitu kita sambung nanti oke? Sela udah nyampe. Have fun! Lupakan mantan dan selamat liburannnnnnn!"
Setelah mengatakan itu aku segera mematikan video call dan masuk ke dalam mobil yang sudah sangat familiar bagiku karena dua tahun ini selalu membawaku keliling Jakarta bahkan keluar kota kalau ada urusan pekerjaan.
Di dalam mobil aku mendengarkan suara merdu Taylor Swift yang menyanyikan lagu You're Losing Me diiringi dengan ocehan dan makian Sela perihal kemacetan di HI yang membuatnya sakit kepala. Gadis itu juga mengeluh lapar karena tidak sempat sarapan, tapi untungnya Rotio yang aku beli masih bersisa sehingga gadis itu bisa mengganjal perut dulu sebelum asam lambungnya keburu naik.
Sesampainya di parkiran butik aku langsung turun dari mobil seraya membawa paper bag yang berisi berbagai macam alat jahit dan pernak-pernik yang kemarin dipesan Bu Bos. Lalu aku berjalan seraya tertawa dengan Sela karena saat ini kami tengah membahas beberapa jokes garing pemilu di twitter. Namun, tawaku langsung berhenti begitu mataku bertatapan dengan mata hitam arang itu.
Tatapan mata yang membuatku langsung mual dan sakit kepala hebat karena kembali mengingat kenangan jaman putih abu-abu yang benar-benar mimpi buruk itu.
"Dasar babi! Kenapa sih siluman babi buruk rupa kayak lo harus hidup? Bikin sakit mata aja!"
KAMU SEDANG MEMBACA
fortnight (completed)
RomanceHanya perlu dua minggu untuk menghancurkan hubungan dua tahun. Hanya perlu dua minggu untuk menjungkir balikan hidup dan perasaan seseorang. Hanya butuh dua minggu dan semua hancur berantakan. Menurutmu cinta itu apa? Dewi pikir hubungan dua tahunn...
