you're so lucky

9.1K 1.4K 99
                                        

Aku meringis saat melihat penampilanku sendiri di cermin. Penampilanku nggak ada bagus-bagusnya pagi ini. Rambut kusut berantakan, mata sembab, dan lingkaran hitam di bawah mata yang tampak jelas semakin memperburuk segalanya. Aku belum baik-baik saja, tapi aku tidak punya pilihan selain kembali melakukan kegiatan seperti biasanya. Karena seterpuruk apa pun aku, dunia ini terus berjalan. Bumi akan terus berotasi, tak peduli rasa sedihku begitu mencekik sampai aku ingin mati.

Aku mengambil ikat rambut yang tergantung di samping cermin, lalu mengikat rambut dengan gaya messy bun sederhana. Setelah itu aku menyemprot area wajahku dengan face mist agar terlihat lebih segar. Walau cairan itu tetap tak menyembunyikan wajahku yang terlihat begitu kuyu. 

Mungkin nanti saat ada yang bertanya kenapa mataku begitu sembab, aku bisa menggunakan rewatch anime Anohana sebagai alasan. Semua penghuni Twogether sudah sangat paham jika aku akan menangis lama setelah nonton anime berkarakter utama Meiko Honma itu. Biasanya kalau aku menggunakan Anohana sebagai alasan mataku sembab, semua orang akan langsung percaya. Atau mungkin mereka hanya pura-pura percaya, karena ingin memberiku privasi. 

Saat aku keluar dari kamar, Twogether sudah sangat sepi. Maklum saja karena hari ini sudah hampir pukul sembilan pagi. Debby pasti sedang rapat dengan editornya, Jonatahan sudah berangkat ke restoran subuh-subuh, dan Bayu ... Aku yakin setelah apa yang aku lakukan semalam, pria itu akan menghindariku hari ini.

Namun, ini hal yang bagus juga, karena aku juga tidak yakin apa yang akan terjadi kalau hari ini aku bertemu dengan Bayu. Mungkin aku akan goyah, mungkin aku akan kembali menyakitinya, atau yang sudah pasti aku akan menyakiti semuanya. Biar saja seperti ini, biar saja semuanya berakhir sebelum semua dimulai.

“Hellooooow, pagi, Dewi!” sapa Anna kelewat ceria. Seperti gadis itu baru saja mendapat kabar yang super bahagia.

"Pagi, Na, hari ini nggak ada pemotretan?" 

Anna adalah seorang fotografer, jadi biasanya ia akan pemotretan di pagi buta, karena tiba-tiba harus terbang ke kota lain atau bahkan ke luar negeri tergantung keinginan sang klien. 

Anna adalah orang yang super duper sibuk, makanya melihatnya libur sampai dua hari adalah hal yang sangat langka sekali.

“Gue seharunya terbang ke London hari ini buat motret salah satu fashion show di sana. Tapi gue memutuskan untuk membatalkannya di detik-detik terakhir, so yah here I am, nyoba bikin pancake buat sarapan tapi gosong.”

Ada yang aneh dengan Anna pagi ini. Ia terlihat kelewat bahagia, banyak tersenyum dan juga bercanda, tapi seperti ada emosi yang gadis itu tahan mati-matian. Seolah gadis itu begitu marah akan sesuatu.

Apa gadis itu berkelahi dengan pacarnya?

Aku meraih bahu Anna dari belakang. Lalu, menuntun gadis itu untuk duduk di meja makan yang ada di dapur.

“Yaudah lo duduk aja, okay? Biar gue yang masakin lo pancake hari ini.”

Lalu, aku memakai celemek yang selalu tersedia di gantungan khusus dan mulai membuat pancake untuk Anna. Sedangkan Anna hanya duduk diam sambil bertopang dagu, gadis itu tampak melamun dengan serius. Tapi aku tahu, kalau kedua mata kecoklatannya tak herhenti memandangiku.

“Reza cinta banget sama lo, Wi,” ujar Anna tiba-tiba yang sontak membuatku yang sedang memindahkan pancake dari teflon ke piring menghentikan pekerjaanku, karena seharusnya saat mendengar perkataan Anna, hatiku dipenuhi rasa bahagia dan kembang api yang meledak-ledak di kepala. Bukannya seperti ada belati tajam yang ditancapkan paksa di dada kiri.

Aku tersenyum kecil. “Gue tahu, Na. Dan gue juga cinta sama dia.”

“Gue masih inget pas pertama kali Reza ceritain kalau dia ketemu stranger di cafe dan bikin dia jatuh cinta untuk pertama kalinya. Padahal Reza selalu nganggep love at the first sight, itu cuma bullshit-annya film Disney. Tapi lo bikin dia jatuh cinta pada pandangan pertama, dan gue bener-bener nggak pernah ngelihat Reza begitu bahagia sebelumnya. Seolah seluruh tubuhnya dipenuhi cahaya pink norak setiap kali bicarain lo.”

Kali ini aku tersenyum kecil. Dari apa yang dikatakan Anna, aku tahu kalau aku sudah membuat keputusan yang benar.

Iya, kan?

“Thanks, karena lo udah ceritain itu ke gue. Jadinya, abis ini gue bisa ungkit Reza sampai malu habis ini.”

“Yah, Reza emang secinta itu sama lo, Wi. Makanya gue iri sama lo, karena....”

Anna tampak menarik napasnya panjang, sebelum kembali bicara. “Gue berharap suatu hari juga bakal ada yang cinta sama gue sebesar rasa cinta Reza ke lo. You're so lucky.”

“I know—”

“Dan, kalau gue jadi lo, gue nggak bakalan pernah nyakitin cowok sebaik Reza. Gue pasti bakal merasa jadi cewek paling bahagia di dunia, karena jadi orang yang dilamar Reza. Karena, kalau gue bisa, gue bakal ngelakuin apapun buat ada di posisi lo saat ini. Makanya, Wi....”

Lagi-lagi Anna menjeda ucapannya, gadis itu seolah ingin meledak, tapi ia berhasil menahan diri mati-matian.

Lalu, ia meringis dengan wajah frustrasi. “Shit, gue terlihat kayak sahabat posesif yang nggak rela sahabatnya nikah, ya? Argh, pada intinya gue cuma mau bilang, gue bahagia buat kalian berdua. Dan gue harap kalian bakal selalu bahagia selamanya.”

Aku memeluk Anna erat. “Makasih Anna! Gue juga cinta sama Reza, Na. Dan gue janji, gue bakal selalu ada di sampingnya selamanya. Gue nggak bakal nyakitin dia.”

“Ya, semoga.”

Dan entah kenapa, ucapan gadis itu terdengar sangat sedih dan penuh kesakitan pula kemarahan. 

Tapi, kemudian dia balas memelukku dan mendoakan kebahagiaan kami berdua. Lalu, seharian itu kami jalani dengan biasa saja, seolah pembicaraan ini tidak pernah terjadi. Seolah ketegangan di antara kami hanya ilusi.

Dan satu hal yang nyata adalah, kami berdua memang pandai sekali berpura-pura. Walau aku tidak mengerti apa yang disembunyikan oleh seorang Karenina.

fortnight (completed) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang