just a big mistake

9.2K 1.3K 184
                                        

Aku menyingkap selimut yang menutupi kaki sampai leher. Sudah tiga jam aku mencoba untuk tidur, tapi netraku sama sekali tidak mau terpejam. Seharusnya hari ini aku menjadi wanita paling bahagia di dunia, karena setelah dua tahun pacaran, akhirnya Reza melamarku. Tetapi aku tidak merasakan kebahagiaan itu sama sekali. Perasaanku campur aduk. Sampai semuanya berjubelan di dada dan membuat sesak.

Aku butuh pengalihan. Sebotol minuman segar mungkin bisa mengurangi kalut di kepala. Aku turun dari ranjang, lalu berjalan menuju dapur. Malam ini Twogether sudah sangat sepi, maklum saja karena sekarang sudah pukul dua pagi. Penghuni yang lain pasti sedang sibuk berkelana di alam mimpi.

Aku menyalakan lampu dapur, lalu berjalan ke arah kulkas dan membuka lemari pendingin berwarna silver itu. Namun mungkin aku sedang sial, karena di kulkas tidak ada minuman apa pun. Setelah menutup kembali kulkas, aku memilih menyeduh kopi yang selalu tersedia di laci kabinet. Jonathan adalah penggemar kopi garis keras. Jadi, pria itu pasti selalu menyetok bubuk kopi di kulkas.

Kali ini aku membuat kopi tanpa gula. Aroma kopi yang khas sedikit membuat pikiranku rileks. Akhirnya aku memilih untuk duduk dulu di dapur sambil menikmati kopi yang masih mengepul. Dengan pikiran yang melayang ke mana-mana.

Hingga tanpa sadar kopiku sudah habis, kini hanya tersisa ampasnya saja di dasar cangkir. Lalu aku berjalan ke wastafel dan langsung mencuci cangkir tersebut sebelum akhirnya kembali aku taruh di rak. Aku melirik jam dinding, sudah pukul setengah tiga. Aku harus memaksa tidur jika besok tidak ingin sakit kepala karena jam tidur yang kurang.

Saat aku hendak menaiki tangga, suara khas derit pintu yang dibuka menusuk telinga. Membuatku mengalihkan pandangan ke arah pintu dan mataku langsung bertatapan dengan Bayu. Wajah pria itu tampak kusut dengan sebuah rokok tinggal setengah yang terselip di jemari tangannya. Aku baru tahu jika Bayu ternyata juga penikmat racun penyebab kanker paru-paru itu.

Dengan tergesa Bayu mematikan rokoknya, lalu ia membuang puntung zat adiktif itu ke tempat sampah yang selalu tersedia di samping rak sepatu. Pria itu berjalan tergesa ke arahku, lalu menarik lenganku dan membawaku ke atap. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, aku tidak protes sama sekali. Jujur saja saat ini pikiranku tiba-tiba nge-blank.

Sesampainya di atap kami langsung duduk di bangku yang tersedia. Aroma berbagai seafood yang dibakar tadi masih tercium samar-samar, tapi aroma nikotin yang sangat pekat lebih mendominasi. Ada bungkus Marlboro yang isinya hampir tandas setengah, pertanda jika Bayu tidak hanya menghabiskan satu rokok malam ini.

"Gue nggak tahu kalo lo ternyata perokok," ujarku mencoba memecah keheningan yang ada.

Bayu tertawa kecil, tapi entah mengapa tawa pria itu terdengar sangat menyakitkan. "Selama hidup gue, gue emang cuma pernah ngerokok dua kali. Pertama saat kelulusan sekolah dan kedua setelah gue ngerayain pesta ulang tahun gue hari ini. Dan dua-duanya karena orang yang sama."

Aku mengambil bungkus rokok Marlboro milik Bayu, lalu membacakan peringatan yang tertera di sampul rokok tersebut. "Merokok sebabkan kanker tenggorokan. Liat, nih, tenggorokan bapaknya sampe bolong begini. Jadi, mending lo berhenti ngisep zat beracun itu kalo lo nggak mau sakit dan nggak mau tenggorokan lo bolong kayak gini."

Lagi-lagi Bayu tertawa, tapi kali ini tawanya terdengar frustrasi. "Wi, lo tahu apa yang paling gue takutin nanti di masa depan? Bukan tenggorokan gue bolong atau gue kena kanker paru-paru. Dari tadi gue cuma mikir, gimana caranya menyembuhkan hati gue yang hancur berkeping-keping sekali lagi malem ini. How can I save my heart when it's shattered into a million pieces?"

"Bay—”

Bayu menyugar rambutnya frustrasi. "Please, Wi berhenti pura-pura lagi! Kita berdua tahu, lo nggak seharusnya nerima lamaran Reza malam ini. Tapi, kenapa lo nerima dia, Wi?”

Aku menatap mata Bayu yang sedikit memerah, lalu menjawab dengan ragu-ragu. "Because I love him."

Bayu menggeleng keras. "Nggak, Wi, lo nggak cinta dia. Lo cintanya sama gue!"

Aku melepas kedua tangan Bayu dari bahuku, berdiri dari dudukku, lalu tertawa mengejek yang lebih terdengar seperti tawa sumbang. "Lo gila apa? Nggak mungkinlah gue cinta sama lo! Oke, gue emang jalan-jalan sama lo. Kita have fun, itu asik. Tapi itu karena untuk memperbaiki hubungan buruk kita di masa lalu. Nggak ada maksud apa-apa, Bay. Jangan bilang setelah kita jalan tiga kali, lo jadi cinta sama gue? Fix lo gila!" ujarku dengan tawa makin kencang, tapi hatiku sakit luar biasa. 

"Dari dulu gue emang udah gila gara-gara lo, Wi. Jadi, please berhenti denial. Dan dengerin apa kata hati lo. Lo nggak bakal bahagia kalo nikah sama Reza. Lo bahkan sama sekali nggak cinta dia, Wi. Lo cintanya sama gue." Kali ini Bayu berbicara lebih lirih seraya bangkit dari duduknya dan berdiri menghadapku.

"Gue nggak cinta sama lo, Bayu!" teriakku frustrasi dengan napas ngos-ngosan seraya mengepalkan kedua tangan kuat di kedua sisi tubuh. Sekuat tenaga aku menahan air mata agar tidak jatuh ke pipi.

"Tapi kemaren lo bales ciuman gue!"

"Itu cuma kesalahan. Gue terbawa suasana dan sekarang gue mengakui kalo gue salah. Gue membuat kesalahan yang besar. That's just a mistake, okay? A big mistake.”

Bayu terdiam cukup lama. Pria itu hanya menatapku dengan pandangan terluka, pandangan yang juga melukaiku dengan sangat brutal. Dadaku sesak luar biasa, tapi aku tidak punya pilihan apa-apa.

Bayu memejamkan matanya dan mata pria itu terlihat semakin memerah saat ia kembali membuka indra penglihatannya itu. "Okay, kalo lo emang nggak cinta gue, Wi. Dan ciuman kemaren cuma kesalahan. Tapi, please, batalin pertunangan lo sama Reza. Gue jamin, lo nggak bakal bahagia sama dia." Pria itu mendekat ke arahku, kemudian menempelkan ujung jemari tangannya ke ujung jemariku. "Karena lo nggak ngerasain sensasi kayak gini lagi pas sama dia." Sontak tubuhku seperti disetrum puluhan ribu volt listrik saat jari-jari kami saling bersentuhan. Jantungku juga langsung menggedor dada dengan brutal. Bayu benar, sudah lama aku tidak merasakan sensasi seperti ini saat bersama Reza.

Jemari Bayu merenggangkan jemariku perlahan sebelum ia memasukkan jemarinya ke rongga jemariku yang sangat pas untuk jemarinya. Seperti ruang kosong di antara jemari kami memang diciptakan untuk saling melengkapi saat jemari kami bertautan. Dan terakhir, Bayu menggenggam tanganku begitu erat. Membuat setruman listrik itu semakin tak terkendali dan dadaku seperti ingin keluar dari rongganya.

Tangan kiri Bayu mengelus pipiku lembut, lalu ia mendekatkan wajahnya ke arahku sehingga aku dapat menghirup aroma tembakau yang pekat dari mulutnya. 

Sebelum akal sehatku hilang seperti kemarin malam, aku memutuskan untuk melepaskan tautan jemari kami dan mundur ke belakang dua langkah. Sampai terhuyung saking kerasnya aku mendorong tubuhku sendiri ke belakang.

"Udah gue bilang yang kemarin itu cuma kesalahan, Bay. Gue terbawa suasana dan akhirnya bikin kesalahan yang nggak perlu." 

Aku memutar-mutar pelan cincin pertunanganku dan Reza. Bermaksud memberi kode jika sekarang aku milik orang lain. Dan aku tahu Bayu tahu maksudku, karena pria itu sejak tadi memfokuskan netranya ke arah jemariku. "Thanks, kalo lo emang beneran jatuh cinta sama gue cuma gara-gara kita hang out tiga kali. Tapi, sori, gue nggak bisa lakuin apa pun soal itu, Bay. Maaf karena gue nggak bisa bales perasaan lo. Dan gue cuma berharap, lo bisa berhenti jatuh cinta sama gue. Karena gue udah milik orang lain. Coba, deh, lo liat sekeliling lo, Bay. Mungkin lo bisa jatuh cinta sama orang yang lebih pantas. Jatuh cinta sama orang yang bukan milik siapa-siapa."

Asal lo tahu, gue bohong, Bay....

Tapi gue juga tahu kalo Debby lebih cocok buat lo.

Aku memeluk tubuhku sendiri. "Udaranya makin dingin, gue balik kamar dulu." Setelah mengatakan itu aku pergi meninggalkan atap dengan hati hancur berkeping-keping. Setelah menahan mati-matian akhirnya air mataku luruh juga. Lalu sampai fajar menjelang aku menangis sesenggukan di kamar. Aku sangat bersyukur karena Twogether di desain kedap suara, sehingga aku bisa menangis dan meraung sepuasnya tanpa menahan apa pun.

Aku menangis sampai dadaku rasanya sesak, tapi aku tidak lega sama sekali. Semuanya sudah berakhir, bahkan sebelum dimulai.

fortnight (completed) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang