you're my first love

9.1K 1.4K 121
                                        

Hari ini aku membantu Debby membuat sosis dan otak-otak dibalur telur. Sebenarnya gadis itu bisa saja langsung membeli jajanan ini di dekat SD yang tidak begitu jauh dari Twogether, tapi Debby bilang saat ini otaknya sedang ngebul karena banyak deadline dan mood-nya sedang berantakan. Jadi, membuat jajanan trotoar ini adalah pilihan yang bagus untuk membuat otak dan mood-nya membaik.

Debby memang selalu seperti ini. Selain melakukan yoga dan meditasi untuk menenangkan pikiran, Debby memang suka bereksperimen di dapur. Tetapi teman satu kosanku itu tidak membuat makanan berat, Debby lebih suka membuat jajanan trotoar. Kadang ia membuat cilok, kadang ia membuat cireng, kadang membuat siomay, atau membuat cilung dan bilung.

“Cieeeee, yang bentar lagi nikah. Lo sama Wina emang pengkhianat! Bisa-bisa nikah duluan dan akhirnya ninggalin gue sendiri di Twogether! Pokoknya, nanti yang bikin bachelorette party buat lo gue, ya!”

Aku hanya bisa meringis saat mendengar perkataan Debby. Karena jujur saja, aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan pada Debby kalau kemungkinan pernikahanku dan Reza dibatalkan.

Lalu, suasana di dapur menjadi canggung saat Anna keluar dari kamarnya untuk mengambil minuman dingin di kulkas. Apartemen Anna masih belum selesai di renovasi, oleh karena itu Anna masih tinggal di sini. Walau untuk kenyamanan kami berdua, kami memang memilih saling menghindar satu sama lain jika ada di ruangan yang sama.

"Wi, Na, kalian lagi marahan, ya? Sejak kemaren suasana di antara kalian nggak enak banget. Kayak ada petir di anime setiap kalian ketemu terus tatapan. Kalo itu petir beneran ada, kepala gue pasti udah gosong sekarang," komentar Debby dengan nada bercanda yang sangat kentara. Tapi hal itu berhasil membuat aku dan Anna bungkam seketika. Kadang aku suka lupa, kalau Debby memang orang yang sangat peka.

Lalu, Anna tertawa mengejek. “Gimana gue nggak marah pas tahu Dewi selingkuhin Reza? Dia ciuman sama Bayu di atap!”

“Hah? Lo ngomong apa sih, Na? Mana mungkin Dewi ciuman sama Bayu,” sahut Debby dengan kening berkerut dan mimik muka tak percaya

“Buat apa gue bohong, Deb? Kalau memang itu yang gue lihat pakai mata kepala gue sendiri! Dewi memang berbakat banget jadi pengkhianat, kan? Karena bukan cuma nyakitin Reza tapi dia juga nyakitin lo! Sok-sokan ngedukung hubungan lo sama Bayu, tapi sendirinya malah main di belakang lo sama Bayu!”

Debby memandangku dengan wajah pias dan tak percaya. Membuat dadaku terasa sesak karena ditampar fakta, kalau aku benar-benar sudah menyakiti sahabatku sendiri.

“Deb, gue bisa jelasin—”

Namun, ucapanku terpotong karena suara berisik serta teriakkan dan suara manusia saling pukul terdengar dari halaman. Membuat kami bertiga langsung meninggalkan dapur untuk pergi ke halaman.

Dan aku langsung menutup mulutku syok begitu melihat Reza dan Bayu yang sedang saling pukul di halaman. Keduanya tampak saling memukul membabi buta. Hingga darah mengalir dari hidung keduanya.  Begitu membuat ngilu, seolah keduanya memang ingin saling bunuh saat itu juga.

Walau tentu saja Reza lebih mendominasi pukulan, sedangkan Bayu hanya sesekali membalas tapi kebanyakan pasrah—benar-benar mengalah.

Jonathan memaksa menarik pinggang Reza dari belakang, tapi Reza memberontak dan kembali melayangkan tinju ke wajah Bayu. Barulah Reza menghentikan aksinya saat Jonathan menarik pinggang Reza sekali lagi, kali ini hingga keduanya jatuh ke belakang.

"Za, gue tahu saat ini lo marah banget sama Bayu. Karena kalo gue jadi lo, gue juga bakal ngelakuin hal yang sama. Gue bakalan mukulin Bayu sampe gue puas! Tapi sekarang udah cukup! Lo bisa ngebunuh Bayu kalau lo nggak berhenti! Dan, Bay, lo juga udah cukup!” seru Jonathan seraya berdiri di tengah keduanya.

Reza masih menatap Bayu marah dengan kedua tangan mengepal di kedua sisi tubuhnya. Tetapi napas pria itu mulai teratur.

Jonathan mengalihkan pandangan ke arah Debby. "Deb, ambilin kunci motor gue. Gue mau anterin Reza pulang!”

Debby langsung masuk ke rumah untuk menuruti perintah Jonathan. Lalu ia melempar kunci motor dari depan pintu dan Jonathan segera menangkapnya tangkas.

Setelah itu Jonathan dan Reza meninggalkan Twogether dengan berboncengan motor. Sebelum pergi Jonathan menganggukkan kepalanya sekali padaku, sebagai kode jika aku tak perlu khawatir karena pria itu akan mengurus Reza.

Debby mengajak Anna masuk ke dalam rumah. Sehingga kini hanya ada aku dan Bayu yang tersisa di halaman. Aku tahu, Debby memberiku ruang untuk menyelesaikan apapun yang terjadi antara aku dan Bayu.

Bayu masih tergeletak di tanah dengan wajah babak belur. Netra pria itu menatap langit lurus-lurus dengan napas beraturan. Lengan kanan pria itu diletakkan di atas alis, mungkin untuk menghalau silau sinar matahari.

Aku menghampiri Bayu, lalu mengulurkan tangan untuk membantu pria itu berdiri. Bayu tersenyum kecil sebelum meraih tanganku yang terulur. 

Lalu aku mengambil kotak P3K dari dalam rumah sebelum menuntun Bayu ke atap. Wajah pria itu benar-benar mengerikan. Dengan sudut bibir kanan pecah dan memar di mana-mana.

Di atap aku dan Bayu tak banyak bicara. Aku mengambil salep memar dari dalam kotak P3K, membuka tutupnya, lalu mengolesi memar di wajah Bayu hati-hati dengan cotton bud.

“Gue nggak ngerti sama cowok. Kenapa mereka lebih suka baku hantam buat menyelesaikan masalahnya. Kalo terluka begini, kan, jadi sakit sendiri.”

Man and his ego, dari pada melampiaskan emosinya dengan nangis mereka emang lebih suka melampiaskan emosinya dengan baku hantam. Daripada nangis, memukul sesuatu kadang lebih bisa bikin lega.”

“Reza butuh samsak buat melampiaskan emosinya. Gue tahu di sini gue yang salah, makanya gue rela dia mukulin gue sampai dia lega, sampe dia puas. Karena kalo gue jadi Reza, gue juga bakal ngelakuin hal yang sama. Gue pasti juga bakal mukulin cowok yang berani-beraninya nyium pacar gue.”

“Kalo gitu caranya biar Reza bisa lega. Bukannya orang yang paling pantes Reza pukulin itu gue, Bay? Gue yang paling nyakitin dia.”

Bayu tersenyum kecil. "Kalo itu Reza and his ego. Gimana bisa dia nyakitin cewek yang dia sayangi?"

Mendengar perkataan Bayu membuat dadaku sesak. Anna benar, aku memang jalang. Dan di masa depan jika karma itu benar-benar datang, aku bersumpah akan menerima semuanya dengan lapang dada tanpa mengeluh sama sekali.

Dengan mata berkaca-kaca aku menatap netra Bayu. "Sori, Bay, karena buat lo ada di posisi nggak enak begini. Andai dari awal gue dengerin lo, kalo gue emang udah nggak punya perasaan apa pun sama Reza, pasti keadaannya nggak bakal separah ini. Kita berdua nggak bakal bikin kesalahan yang nyakitin banyak orang. Kesalah—"

Bayu menangkup kedua pipiku dan menghapus air mata yang mengalir di pipiku lembut, lalu ia menggeleng setelah menyatukan kening kami. “No, no, no, please don't say that. Jangan bilang yang kita lakuin kesalahan. Lo bakal nyakitin gue tiga kali. Cukup lo nyakitin gue pas kelulusan sekolah, terus pas perayaan ulang tahun gue. Tapi, hari ini jangan.”

“Kelulusan sekolah?” 

“Lo masih nggak nyadar juga, ya. Gue udah suka lo sejak kelas sepuluh, Wi.”

Jujur saja perkataan Bayu membuatku terkejut. Karena aku baru mengenal Bayu lebih intens saat kelas dua belas, karena selama kelas sepuluh dan sebelas kami tidak pernah sekelas. Selama dua tahun itu kami juga tidak pernah mengobrol. Paling saling berpapasan tak sengaja di koridor atau bersinggungan saat tak sengaja beli batagor di kantin.

Makanya, bagaimana bisa Bayu menyukaiku sejak kelas sepuluh?

fortnight (completed) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang