Sinopsis :
Lolos dari jerat kematian sebanyak dua kali tak lantas membuat Yennifer Oakley Harris merasa bahagia. Wanita berambut pirang yang biasanya tampil anggun dengan pakaian yang modis itu, kini harus terkungkung dalam jurang kegelapan dan kesa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Canada, 8th years ago...
Seorang gadis dengan setelan seragam SMA terlihat duduk di sebuah bangku panjang taman sekolahnya. Langit yang mendung dan semilir angin yang menerpa lembut hingga mengantarkan hawa dingin, tak mampu membuatnya goyah untuk menantikan seseorang yang sudah berjanji akan menemuinya sehabis jam sekolah berakhir.
Yennifer, melihat ke sana ke mari—mencari sosok yang ia tunggu dari segala penjuru.
5.55 PM
"Huh...kenapa dia lama sekali?" gumamnya sambil menatap jam tangan berwarna putih yang melingkar di pergelangan tangan.
"Oakley!!!"
Hingga sebuah teriakkan yang begitu kencang terdengar dari arah belakangnya. Sontak, hal itu membuat Yennifer menoleh—menatap seorang pria remaja yang juga mengenakan seragam SMA yang sama dengannya. Senyuman manis langsung terbit di wajah cantik Yennifer saat melihat seseorang yang sejak tadi ia tunggu.
"Andrew!" teriak Yennifer sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah pria remaja yang ia panggil dengan sebutan Andrew itu.
Andrew yang berada tak jauh dari Yennifer seketika itu juga berlari—membawa seikat bunga mawar putih di tangannya. Senyuman manis jelas terpatri di wajah mudanya yang tampan.
"Hah...hah... Maaf jika aku lama," ujarnya dengan napas yang memburu. Yennifer tersenyum.
"Tak apa. Aku mengerti," balas Yennifer. Mendengar itu, Andrew pun tersenyum—menatap gadis yang ada di hadapannya dengan begitu memuja.
"Ini untukmu," ujar Andrew sambil menyerahkan seikat bunga mawar putih itu kepada Yennifer. Dengan senang hati, Yennifer menerima seikat bunga itu dan menarik dalam-dalam aroma mawar putih yang menjadi bunga favoritnya.
"Huah! Harum sekali!" puji Yennifer dengan antusias.
"Apa kamu suka?"
"Tentu saja! Ini bunga kesukaanku!" jawab Yennifer yang kemudian kembali mencium bunga mawar putihnya. Melihat itu Andrew pun segera menarik tangan Yennifer—membawa gadis itu berlari kecil ke tepi danau buatan sekolahnya yang indah.
Setelah sampai di tepi danau, Andrew langsung menutup mata Yennifer dengan sebelah tangannya.
"Andrew? Apa yang-..."
"Sh... Kamu tutup mata ya. Jangan dibuka sampai aku perintahkan."
"Tapi-..."
"Oakley...."
Dan Yennifer pun hanya bisa menghembuskan napas pelan.
"Baiklah-baiklah," ujar Yennifer pada akhirnya. Sementara Yennifer menutup matanya, Andrew pun dengan semangat membuat kejutan untuk kekasih hatinya.
"Andrew?" panggil Yennifer setelah beberapa saat ia memejamkan mata. Keheningan senja menyapa panggilan suaranya dan itu membuat Yennifer tak tahan untuk tidak membuka mata. Begitu ia membuka matanya...