2. KEMBALI KE NERAKA

17.8K 2.1K 460
                                        

Ottawa, Canada

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ottawa, Canada

6.50 AM

Jalanan Ottawa terlihat begitu ramai dengan banyaknya orang-orang yang beralu-lalang. Kelopak-kelopak bunga tulip yang mulai bermekaran di barat pantai, menjadi pemanis di antara musim yang baru saja datang. Sang pohon kesetiaan yang telah lama berdiri dengan begitu kesepian pun kini mulai kembali menampakkan senyuman. Suhu udara yang sejuk dengan sinar matahari pagi yang menghangatkan, membuat semuanya nampak begitu membahagiakan.

Musim semi kini telah kembali. 

Dinginnya salju di bulan desember yang biasa menemani kini telah pergi.

Semua orang bersuka cita menyambut datangnya musim semi. Ada yang menyambutnya dengan cara berpiknik ke taman bersama keluarga, liburan ke pantai dengan para kerabat dan sahabat, atau hanya sekadar bersepeda mengelilingi langit kota Ottawa yang indah dengan pucuk-pucuk dedaunan yang mulai tumbuh.

Semua hiruk pikuk negara berlambang daun maple itu tergambar begitu jelas dari balik kaca jendela sebuah apartement yang dilapisi dengan jeruji besi.

Seorang wanita dengan balutan kaos putih yang kebesaran terlihat memperhatikan kegiatan orang-orang di bawah sana. Tidak ada ekspresi apapun yang tergambar di wajah itu selain sorot mata yang begitu kosong—seolah sedang membayangkan sesuatu hingga tatapannya teralihkan kepada seorang gadis kecil yang sedang berjalan-jalan bersama seorang wanita tua yang sepertinya adalah nenek dari gadis kecil itu.

Semilir angin pagi menghempas wajah cantiknya dengan begitu lembut hingga membuat seulas senyum tipis tiba-tiba saja terbit di wajah cantik seorang Yennifer Oakley Harris.

Namun senyuman itu hanya bertahan sepersekian detik sebelum kenyatan pahit lagi-lagi masuk ke dalam kepala—menyadarkan ia jika kini, ia hanyalah seorang tawanan dari seorang pria kejam tanpa hati bernama Pieter Dave Wellington.

Ini sudah hampir satu bulan, dan dia masih saja terkurung di dalam sebuah apartment mewah  tanpa alasan yang jelas. Meski segala kebutuhannya terpenuhi di dalam sangkar emas ini, tetapi Yennifer tidak merasa bahagia. Dia diperlakukan seperti boneka yang tak punya perasaan, hati dan rasa sakit di sini. 

Kebebasannya telah direnggut bersamaan dengan harga diri dan martabatnya yang telah diinjak-injak.

Dia tidak bisa kabur karena di dalam apartment ini, semua jendela dilapisi oleh jeruji besi yang mustahil untuk dibuka secara manual, setiap sudut kecuali kamar mandi juga dipasang dengan cctv, dan setiap pintu keluar juga dilapisi dengan sidik jari yang hanya bisa dibuka oleh Pieter. Yennifer hidup tanpa ponsel, dan tanpa teman.

Pria yang dulu ia kira adalah seorang pria baik-baik, kini malah merubah hidupnya bak seorang tawanan tanpa alasan.

Yennifer tidak bahagia di sini. Jika ia bisa memilih, maka dia ingin kembali ke Wyoming. Dia ingin kembali ke rumah orang tuanya dan melanjutkan hidup di sana. Meski dia tak pernah diakui apalagi mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari sang ayah sejak kecil, setidaknya dia masih memiliki ibu yang masih mau berbicara dengannya meski terkesan dingin dan enggan. Mengingat kedua orang tuanya, Yennifer pun kembali menipiskan bibir—tersenyum ironi.

Autumn In The CryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang