Sinopsis :
Lolos dari jerat kematian sebanyak dua kali tak lantas membuat Yennifer Oakley Harris merasa bahagia. Wanita berambut pirang yang biasanya tampil anggun dengan pakaian yang modis itu, kini harus terkungkung dalam jurang kegelapan dan kesa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Canada, on October....
Hujan turun begitu deras disertai badai angin yang begitu kencang saat seorang wanita yang baru menginjak usia 20 tahun tengah berusaha untuk membuat bayi mungilnya berhenti menangis. Dia menimangnya ke sana ke madi dengan harapan tangis bayinya akan mereda.
"Sh.... Sayang jangan menangis terus, mommy ada di sini. Kamu jangan takut, sh...." bisikkan itu terus ia gumamkan ke telinga bayi perempuannya yang baru berusia delapan minggu.
Namun bukannya berhenti menangis, bayi mungil yang dibedong dengan kain berwarna merah jambu itu justru menangis semakin kencang hingga membuat sang ibu menatapnya dengan begitu sendu.
Wanita muda yang tak lain dan tak bukan adalah Yennifer itu menitikkan air matanya saat ia melihat kulit sang buah hati telah semakin menguning dengan jari-jari kuku yang mulai membiru hari demi hari.
Yennifer bingung dan juga takut.
Dia tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan penyakit anaknya. Meminta pertolongan pun rasanya mustahil karena sejak awal ia mengandung, ayah dari bayinya tak menginginkan anak ini lahir.
Mengingat pilu itu, Yennifer lalu mengamit tangan mungil bayinya, ia menciumnya dengan begitu sayang.
Yhein adalah satu-satunya semangat hidup yang dia miliki sekarang.
Yhein adalah malaikat kecil yang dikirimkan Tuhan untuk menemani gelapnya takdir yang menaungi sang ibu.
Bayi perempuan dengan netra biru yang sama persis seperti dirinya itu adalah satu-satunya alasan kenapa Yennifer masih sanggup bertahan dengan pria kejam yang telah menculiknya selama dua tahun ini. Dia adalah satu-satunya alasan bagi Yennifer untuk tetap hidup menghadapi kejamnya dunia yang tak pernah memihaknya.
Yennifer mengusap pipi Yhein yang terasa sangat panas. Demam yang melanda tubuh sang buah hati sejak tiga hari yang lalu, nyatanya tak kunjung reda meski ia telah berusaha untuk mengobatinya. Yennifer telah berusaha untuk mengobati buah hatinya sendirian, karena ayah dari bayinya tak pernah peduli pada mereka.
Pieter Dave Wellington, tak pernah sudi menerima kehadiran Yhein sebagai buah hatinya sejak ia berada di dalam kandungan.
Pieter terlalu membenci Yennifer hingga ia kebenciannya juga menurun pada sang buah hatinya.
Menyadari jika suhu tubuh Yhein semakin panas, Yennifer pun melepas kain yang membalut tubuh mungil bayinya. Dia mendekap tubuh rapuh Yhein dengan segenap kasih sayang dan cintanya-berharap dengan cara seperti itu panas yang ada di dalam tubuh Yhein bisa keluar.
Namun suara tangisan Yhein yang semakin kencang dan begitu menyayat hati membuat Yennifer tak bisa lagi menahan kesabaran. Bayi mungilnya pasti merasa kesakitan.
Yhein pasti menderita dengan keadaannya yang seperti itu.
Yennifer kemudian menghapus kasar air matanya, dia memutar knop pintu dan langsung melesat keluar dari dalam kamar. Dia harus menemui Pirter! Hanya dia yang bisa membantunya membawa Yhein ke rumah sakit!