10. YANG TERLUPAKAN

9.7K 1.5K 404
                                        

Wyoming, Amerika Serikat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Wyoming, Amerika Serikat.

8.45 AM

Sorang wanita paruh baya yang masih terlihat begitu anggun dan cantik  dengan pakaian modisnya, kini tengah duduk santai di atas sofa sambil sesekali menyesap teh yang ada di tangan.

"Nyonya," sapa seorang pelayan yang terlihat sudah begitu tua dengan keruatan-kerutan khas yang ada di wajahnya.

Axille kemudian menoleh—menatap kepala pelayan mansion yang telah melayaninya sejak ia masih muda.

"Ada apa, Emilia?"

Wanita tua yang dipanggil dengan sebutan Emilia itu pun kemudian mengangkat kepala—membalas tatapan Axille yang terlihat begitu dingin, sama seperti dulu. Meski Axille terlihat sangat dingin dan cenderung memguarkan aura angkuh, tapi Emilia tahu jika Axille hanya mencoba membangun pertahanan diri.

Wanita itu tidak ingin terlihat lemah di hadapan siapa pun, dan dalam keadaan apapun.

"Tuan Rion, mengirimkan kabar jika dia akan tinggal di Canada selama beberapa saat guna mencari Nona Muda," jawab Emilia dengan senyun tipis yang terbit di wajahnya. Mendengar itu, Axille pun langsung membuang pandangannya—seakan bersikap tidak peduli.

"Kau boleh pergi," sambungnya, sebelum ia meletakkan gelas kristal berisi teh krisan itu di meja. Menyadari perubahan sikap majikannya, Emilia pun berinisiatif untuk mendekat—berdiri tepat di hadapan Axille.

"Nyonya...., maaf jika saya lancang. Tapi, apakah Nona Yennifer masih hidup?" tanya Emilia dengan sangat hatihati, mengingat Axille sangat sensitif terhadap topik yang berhubungan dengan anak bungsunya, Yennifer.

Mendengar itu, Axille hanya mampu terdiam sambil menatap ke arah bunga mawar putih—satu-satunya benda yang pernah diminta puteri bungsunya selama lebih dari 17 tahun.

Yennifer tak pernah meminta apapun, selain bunga nawar putih sejak ia kecil.

"Aku tidak tahu dan aku tidak peduli Emilia. Dia hidup atau mati bukanlah urusanku! Karena bagiku, Yehana adalah satu-satunya puteri di keluarga ini. Yennifer hadir untuk menopang hidup Yehana, tapi Yehana sepertinya lebih memilih untuk meninggalkanku sendirian," jawab Axille dengan mata yang menerawang jauh.

"Apa Anda akan baik-baik saja, jika Nona Yennifer ditemukan dalam keadaan-..."

"Hentikan pembahasan yang menyangkut dia Emilia! Aku tidak suka membahas anak itu! Dia terlahir sebagai tameng Yehana dan dia akan terus hidup seperti itu!" teriak Axille sebelum ia berbalik—meninggalkan Emilia.

Emilia hanya bisa menatap punggung Nyonya majikannya dengan penuh rasa iba.

"Anda tidak akan mampu bertahan jika Nona Yennifer tiada, Nyonya," gumam Emilia sebelum ia pergi meninggalkan area ruang santai itu.

——————————————————

Axille langsung masuk ke dalam kamarnya setelah percakapan itu. Rasa sesak tiba-tiba saja memenuhi hatinya.

Autumn In The CryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang