Sinopsis :
Lolos dari jerat kematian sebanyak dua kali tak lantas membuat Yennifer Oakley Harris merasa bahagia. Wanita berambut pirang yang biasanya tampil anggun dengan pakaian yang modis itu, kini harus terkungkung dalam jurang kegelapan dan kesa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Canada, 6.05 AM
Matahari masih belum menampakkan diri seutuhnya saat Pieter masuk ke dalam ruang rawat Yennifer, yang semalam berada di ambang kematian. Pria dengan setelan kemeja putih dan celana dasar hitam itu mengamati tubuh Yennifer yang terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus yang terpasang di punggung tangannya.
Masih terbayang di ingatan bagaimana semalam dia membawa tubuh bersimbah darah Yennifer ke rumah sakit. Segala umpatan dan makian kotor Pieter teriakkan saat para suster membawa brankar rumah sakit dengan begitu 'lamban' menurutnya. Euforia kepanikkan itu masih terekem jelas di kepala Pieter.
Bukan.
Semua yang Pieter lakukan itu bukan karena Pieter memiliki rasa simpati atau semacamnya pada Yennifer. Semua itu Pieter lakukan karena dia belum puas menyiksa Yennifer. Harus ada kesakitan yang lebih untuk 'melepaskan' nyawa wanita itu secara cuma-cuma.
Dan Pieter tidak akan membiarkan Yennifer mati begitu saja.
Pieter hanya diam menatap wajah pucat Yennifer selama beberapa saat sebelum akhirnya dia berjalan mendekati wanita itu. Dengan wajah dingin tanpa ekspresi, Pieter mendaratkan bokongnya di sofa putih yang berhadapan langsung dengan ranjang Yennifer.
Semua terasa begitu sunyi hingga akhirnya Yennifer mengeluarkan suara yang begitu lirih.
"Jangan pergi... Jangan pergi..."
Yennifer terlihat begitu memohon. Meski matanya terpejam, tapi air muka wanita itu tak bisa disembunyikan. Ketakutan jelas terlihat di antara wajah cantik wanita yang semalam berada di ambang kematian itu. Pieter yang melihatnya pun, perlahan bangkit—mengikis jarak yang tercipta.
"Jangan pergi... Kumohon... Aku ikut hiks..hiks... Ikut," lirih Yennifer dengan begitu memilukan, hingga tanpa sadar setetes air matanya mengalir keluar dari sudut netra birunya yang terpejam. Pieter yang sudah berdiri di samping Yennifer pun tidak berniat melakukan apa-apa selain mengamati lamat-lamat ekspresi Yennifer.
Mendungnya langit Ottawa yang tak bersahabat, tidak membuat Pieter buta akan ekspresi ketakutan yang terpancar dari balik wajah itu. Dengan gerakkan yang sangat perlahan, Pieter akhirnya mengangkat sebelah tangannya untuk ia tuntun menuju pipi halus Yennifer.
Hingga tepat pada saat tangan besarnya akan mendarat di pipi Yennifer, lirihan suara wanita itu membuat Pieter langsung terdiamm
"Kumohon, El... jangan pergi..."
Deg!
Seketika itu juga Pieter langsung menjauhkan tangannya dari wajah Yennifer. Ekspresinya berubah seratus delapan puluh derajat. Keterkejutan jelas terpancar di antara netra biru yang dingin itu.
Sialan! Sebenarnya apa yang sedang dimimpikan oleh wanita jalang ini?!
Dengan rahang yang mengetat hebat, Pieter langsung berbalik—bersiap meninggalkan Yennifer dengan segala mimpinya. Namun belum sempat ia melangkah, suara Yennifer yang tiba-tiba saja memanggil namanya, membuat Pieter tidak bisa berkutik.